Oct 13, 2026
Bisnis

LPS Tekankan Ketangguhan Generasi Muda di Era Ketidakpastian Ekonomi

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per awal 2025, tingkat simpanan yang dijamin di perbankan nasional masih berada pada kisaran Rp 2 miliar per nasabah per bank, sementara total simpanan...

LPS Tekankan Ketangguhan Generasi Muda di Era Ketidakpastian Ekonomi

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per awal 2025, tingkat simpanan yang dijamin di perbankan nasional masih berada pada kisaran Rp 2 miliar per nasabah per bank, sementara total simpanan masyarakat yang tercatat di industri perbankan menembus angka Rp 8.000 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap sistem keuangan masih relatif terjaga, meski di sisi lain menghadapi tekanan dari dinamika global. Dalam konteks itulah, Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menyampaikan pesan kepada generasi muda di Lampung mengenai pentingnya ketangguhan, pembelajaran berkelanjutan, dan kerja keras dalam menghadapi gejolak ekonomi.

Ketangguhan sebagai Fondasi Menghadapi Siklus Ekonomi

Di satu sisi, pesan ketangguhan yang disampaikan Anggito bukanlah sekadar retorika. Data historis menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia telah melewati berbagai siklus krisis, mulai dari krisis moneter 1998 yang membuat produk domestik bruto (PDB) terkontraksi hingga -13,1 persen pada 1998, krisis keuangan global 2008, hingga tekanan pandemi 2020 yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi turun ke -2,07 persen. Namun, di sisi lain, pemulihan pasca-2020 berjalan cukup cepat, dengan pertumbuhan kembali ke level 5,31 persen pada 2022 dan stabil di kisaran 5 persen pada 2023-2024.

Menurut Anggito, pola siklus ini mengajarkan bahwa kemampuan beradaptasi dan belajar dari krisis menjadi kunci utama. "Ketangguhan bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi bagaimana bangkit dan belajar dari setiap tekanan," ujarnya dalam forum yang dihadiri ratusan mahasiswa dan pelaku usaha muda di Lampung.

"Generasi muda harus memahami bahwa literasi keuangan dan ketangguhan mental adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Tanpa keduanya, sulit bertahan di tengah ketidakpastian," tegas Anggito.

Pembelajaran Berkelanjutan dan Literasi Keuangan

Dari perspektif yang lebih luas, literasi keuangan di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK, indeks literasi keuangan nasional tercatat 65,43 persen pada 2024, meningkat dari 49,68 persen pada 2022. Meski ada kenaikan, angka ini masih lebih rendah dibandingkan indeks inklusi keuangan yang mencapai 75,02 persen. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang sudah menggunakan produk keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko di dalamnya.

Di sisi lain, literasi yang tinggi tanpa aksi nyata juga tidak cukup. Anggito menekankan bahwa pembelajaran harus diikuti dengan praktik, termasuk keberanian memulai usaha dan mengelola keuangan secara disiplin. Ia mencontohkan bagaimana rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) perbankan nasional yang terjaga di kisaran 2,2-2,5 persen pada 2024 mencerminkan pentingnya prinsip kehati-hatian, yang juga berlaku dalam pengelolaan keuangan pribadi.

Kerja Keras dan Proyeksi Ekonomi ke Depan

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 berada di kisaran 5,1-5,3 persen, dengan risiko dari perlambatan ekonomi global, tensi geopolitik, serta potensi capital outflow akibat kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat. Kondisi ini menuntut generasi muda untuk tidak hanya mengandalkan gelar akademik, tetapi juga keterampilan praktis, jejaring, dan etos kerja.

Kontra terhadap optimisme berlebihan, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa tantangan struktural seperti ketimpangan pendapatan, informalitas tenaga kerja yang masih sekitar 57-58 persen, dan akses pembiayaan yang belum merata bisa menjadi penghambat. Rasio kredit terhadap PDB (loan-to-deposit ratio) yang berada di kisaran 78-80 persen menandakan likuiditas perbankan masih longgar, tetapi belum sepenuhnya tersalurkan ke sektor produktif, terutama UMKM.

Oleh karena itu, pesan Anggito mengenai ketangguhan, pembelajaran, dan kerja keras perlu ditempatkan dalam konteks kebijakan yang lebih luas: perlunya ekosistem yang mendukung, mulai dari pendidikan vokasi, akses modal, hingga stabilitas regulasi. Tanpa itu, semangat individual semata tidak akan cukup untuk mendorong mobilitas ekonomi yang inklusif.

Pada akhirnya, baik optimisme maupun kehati-hatian harus berjalan beriringan. Generasi muda Lampung, dan Indonesia secara umum, berada di titik penting: mereka mewarisi fundamental ekonomi yang relatif stabil, tetapi juga menghadapi sentimen pasar global yang cepat berubah. Ketangguhan bukan pilihan, melainkan keharusan. Pembelajaran bukan beban, melainkan investasi. Dan kerja keras, sebagaimana ditekankan Anggito, tetap menjadi variabel yang tidak bisa digantikan oleh teknologi maupun keberuntungan semata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User