Oct 10, 2026
Bisnis

INACRAFT 2026 dan Dinamika Ekonomi Kreatif Nusantara

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, atau setara dengan nil...

INACRAFT 2026 dan Dinamika Ekonomi Kreatif Nusantara

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, atau setara dengan nilai tambah bruto mendekati Rp1.400 triliun pada 2025. Angka ini menempatkan industri kriya sebagai salah satu dari tiga subsektor terbesar, bersama kuliner dan fesyen. Pameran INACRAFT 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) hingga 11 Oktober 2026 menjadi cermin bagaimana tren, fundamental, dan sentimen pasar bertemu dalam satu ruang pamer.

Antusiasme pengunjung yang mengamati produk kerajinan menunjukkan bahwa permintaan terhadap barang bernilai estetika tinggi tetap bertahan di tengah tekanan daya beli. Namun di balik gemerlap stan pameran, terdapat pertanyaan mendasar: seberapa besar pameran semacam ini benar-benar menggerakkan roda ekonomi, dan seberapa besar ia hanya menjadi ajang simbolik tahunan?

Pro: Pameran sebagai Katalis Transaksi dan Ekspor

Di satu sisi, penyelenggaraan pameran kriya berskala internasional memberikan dampak berganda yang terukur. Data dari Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) menunjukkan bahwa transaksi selama pameran tahun sebelumnya menembus USD 12,5 juta, dengan kontrak lanjutan yang direalisasikan hingga enam bulan setelah acara. Nilai ini mencerminkan fungsi pameran sebagai jembatan antara perajin lokal dan pembeli mancanegara, terutama dari pasar Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa.

"Pameran bukan sekadar etalase, melainkan ruang negosiasi di mana harga, kualitas, dan kapasitas produksi diuji secara langsung. Perajin yang mampu memenuhi standar ekspor akan mendapat akses pasar yang jauh lebih luas," ujar seorang pelaku industri kriya yang enggan disebutkan namanya.

Dari perspektif makro, kontribusi subsektor kriya terhadap total ekspor produk kreatif mencapai 48,6 persen pada 2025, naik dari 44,2 persen pada 2023. Tren ini sejalan dengan proyeksi bahwa permintaan global terhadap produk berkelanjutan dan bernuansa budaya akan tumbuh 6,3 persen year-on-year hingga 2028. Likuiditas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga terbantu melalui skema pembiayaan yang sering dikaitkan dengan ajang pameran.

Kontra: Ketimpangan Manfaat dan Tantangan Struktural

Di sisi lain, manfaat pameran tidak selalu merata. Sebagian besar transaksi cenderung dinikmati oleh perajin yang sudah mapan, memiliki kapasitas produksi besar, dan akses permodalan yang kuat. Perajin kecil dari daerah terpencil kerap menghadapi kendala biaya sewa stan, logistik, dan sertifikasi yang tidak murah. Rasio partisipasi UMKM dalam pameran berskala internasional diperkirakan hanya sekitar 23 persen dari total peserta.

Lebih jauh, ada persoalan fundamental yang belum terselesaikan. Nilai tambah kriya Indonesia masih didominasi oleh bahan mentah dan produk setengah jadi. Indeks kompleksitas ekonomi menunjukkan bahwa produk kriya olahan masih kalah bersaing dengan Vietnam dan Thailand dalam hal konsistensi kualitas serta ketepatan waktu pengiriman. Selain itu, ketergantungan pada pasar ekspor membuat sektor ini rentan terhadap gejolak global. Ketika terjadi capital outflow dari pasar negara berkembang, nilai tukar melemah, dan biaya impor bahan baku meningkat, margin perajin tergerus.

Sentimen pasar domestik pun belum sepenuhnya pulih. Meski inflasi terkendali di kisaran 2,8 persen year-on-year per September 2026, indeks keyakinan konsumen masih berfluktuasi. Masyarakat cenderung menahan pengeluaran untuk barang sekunder seperti kriya dekoratif, yang dianggap bukan kebutuhan pokok. Ini menciptakan paradoks: pameran ramai pengunjung, tetapi konversi penjualan ritel tidak selalu sebanding.

Valuasi Sektor dan Proyeksi ke Depan

Dari kacamata valuasi, sektor ekonomi kreatif secara umum masih menarik. Rasio kapitalisasi pasar terhadap laba bersih emiten di subsektor kriya dan fesyen berkisar 12–15 kali, lebih rendah dibanding rata-rata sektor konsumen yang mencapai 18 kali. Ini mengindikasikan ruang apresiasi, asalkan fundamental diperbaiki melalui standardisasi produk, digitalisasi pemasaran, dan penguatan rantai pasok.

Pemerintah menargetkan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB naik menjadi 8,5 persen pada 2029. Untuk mencapainya, diperlukan portofolio kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada event, tetapi juga pada pembangunan ekosistem. Pameran seperti INACRAFT 2026 bisa menjadi titik awal, bukan tujuan akhir.

Kesimpulannya, INACRAFT 2026 menampilkan dua wajah sekaligus. Ia adalah simbol optimisme akan kekayaan kriya Nusantara, tetapi juga pengingat bahwa tanpa perbaikan struktural, kemewahan yang terpampang di JICC hanya akan menjadi ilusi pertumbuhan yang tidak inklusif. Publik dan pelaku usaha perlu membaca data secara kritis, bukan sekadar terpukau oleh gemerlap pameran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User