IHSG Melonjak Kala Corona, Lesu di Penutupan 2022
Pasar modal Indonesia kembali menorehkan catatan kontras dalam dua tahun terakhir. Di satu sisi, awal pandemi Covid-19 justru menghadirkan lonjakan Indeks
Pasar modal Indonesia kembali menorehkan catatan kontras dalam dua tahun terakhir. Di satu sisi, awal pandemi Covid-19 justru menghadirkan lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tak terduga. Di sisi lain, penutupan perdagangan akhir tahun 2022 harus berakhir lesu meskipun terdapat rekor pencatatan saham baru. Dua momentum ini mengungkap dinamika kompleks yang mewarnai bursa saham Tanah Air.
Geliat Tak Terduga di Awal Pandemi
Pada 4 Maret 2020, IHSG ditutup melesat ke level 5.650. Kenaikan signifikan ini terjadi hanya dua hari setelah pemerintah mengumumkan kasus pertama wabah corona di Indonesia. Situasi itu semula diperkirakan akan memukul pasar, namun realitas berkata lain. IHSG justru menguat signifikan selama dua hari berturut-turut pasca pengumuman.
"Respons pasar saat itu menunjukkan bahwa investor melihat titik terendah ketidakpastian setelah pengumuman resmi. Ditambah, stimulus moneter masif dari bank sentral global mulai diantisipasi," jelas seorang analis senior kepada awak media.
Lonjakan tersebut menjadi sinyal bahwa pelaku pasar telah memperhitungkan dampak pandemi dan mulai memburu saham-saham yang dinilai sudah murah pasca aksi jual sebelumnya. Banyak investor yang masuk kembali dengan harapan pemulihan cepat. Namun, perjalanan IHSG selanjutnya tetap diwarnai fluktuasi seiring perkembangan penanganan Covid-19.
Penutupan Lesu Meski IPO Cetak Rekor
Beralih ke penghujung tahun 2022, suasana berbeda terasa di Bursa Efek Indonesia. Pada Jumat, 30 Desember 2022, IHSG ditutup melemah tipis 0,14% atau 9,46 poin ke posisi 6.850,62. Meski penurunan terbilang kecil, sentimen pasar sepanjang sesi terakhir tahun itu memang cenderung suram. Investor masih dibayangi sejumlah tekanan global.
Padahal, tahun 2022 menjadi tahun bersejarah dengan 59 perusahaan melakukan Initial Public Offering (IPO), jumlah tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Pencapaian ini menunjukkan bahwa minat korporasi untuk menghimpun dana di pasar modal sangat tinggi, bahkan di tengah ketidakpastian ekonomi.
- Total 59 perusahaan melantai di BEI sepanjang 2022, rekor baru.
- IHSG sempat menyentuh level tertingginya di kisaran 7.300 sebelum akhirnya terkoreksi.
- Kondisi global seperti inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga menekan indeks.
Faktor Pendorong dan Penekan IHSG
Kontradiksi antara dua periode tersebut tidak lepas dari perbedaan fundamental ekonomi. Pada 2020, kekhawatiran resesi akibat pandemi justru mendorong gelontoran likuiditas global yang luar biasa. Bank-bank sentral dunia menurunkan suku bunga dan meluncurkan quantitative easing, sehingga dana deras mengalir ke aset berisiko seperti saham.
Sebaliknya, pada 2022, kebijakan moneter berbalik arah. Inflasi yang meroket di AS dan Eropa memaksa The Fed dan bank sentral lain menaikkan suku bunga secara agresif. Kondisi ini memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dan menekan valuasi saham.
Di dalam negeri, aktivitas domestik yang mulai pulih dari pandemi sebenarnya memberikan fondasi, namun belum cukup untuk melawan sentimen negatif global. Kinerja banyak emiten tetap positif, tetapi investor lebih berhati-hati menjelang resesi global yang diproyeksikan terjadi pada 2023. Sejumlah data menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga yang mulai pulih mendorong kinerja emiten consumer goods dan perbankan. Namun, capital outflow dari investor asing sepanjang paruh kedua 2022 membuat IHSG sulit mempertahankan level tinggi. Investor asing mencatat jual bersih hingga miliaran rupiah di beberapa saham blue chip.
Pelajaran Bagi Pelaku Pasar
Dua momen ini mengajarkan bahwa pasar modal selalu penuh kejutan. Di saat kabar buruk datang, bukan berarti indeks akan selalu jatuh; sebaliknya di tengah optimisme rekor bisnis, tekanan eksternal bisa menekan kinerja. Market is forward looking, demikian pepatah yang relevan. Investor perlu mencermati konteks makro global dan tidak semata reaksi sesaat.
Dengan catatan IPO yang rekor, pasar modal Indonesia sejatinya menunjukkan kedewasaan dan daya tarik. Namun, tahun 2023 masih akan dibayangi dinamika suku bunga global dan pertumbuhan ekonomi dunia. Pelaku pasar diharapkan tetap rasional dan memanfaatkan peluang di tengah volatilitas.
[SOCIAL_TWEET]: Dua wajah IHSG: melesat saat corona 2020, lesu di penutupan 2022 meski IPO rekor. Pelajaran penting bagi investor. #IHSG #sahamindonesia #pasarModal[SOCIAL_TG]: 📈📉 Kontras IHSG: Melonjak saat corona 2020, tapi ditutup lesu di 2022. Rekor IPO belum mampu angkat indeks. Baca di sini.
Comments (0)