Hitungan BI: Kenaikan Harga Pertamax Sumbang Inflasi 0,25%
Bank Indonesia (BI) telah merilis perhitungan terbaru mereka terkait dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Menurut estimasi bank sentral, penyesuaian harga pada produk Pert
Bank Indonesia (BI) telah merilis perhitungan terbaru mereka terkait dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Menurut estimasi bank sentral, penyesuaian harga pada produk Pertamax diproyeksikan akan memberikan kontribusi terhadap inflasi nasional sebesar 0,25 persen. Angka ini menjadi perhatian di tengah upaya pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas harga di dalam negeri.
Identifikasi Dua Faktor Utama Inflasi
Deputi Gubernur BI, Aida S Budiman, memaparkan bahwa terdapat dua faktor kunci yang saat ini berpotensi memicu peningkatan laju inflasi. Faktor pertama adalah imported inflation atau inflasi yang berasal dari luar negeri, yang sangat erat kaitannya dengan fluktuasi harga komoditas global. Faktor kedua adalah prediksi cuaca ekstrem, seperti fenomena El Nino, yang dapat mengganggu produksi dan distribusi bahan pangan. Kombinasi dari kedua faktor ini diyakini memberikan dampak langsung terhadap kebijakan harga yang diatur oleh pemerintah, termasuk di dalamnya penyesuaian harga untuk BBM non-subsidi.
"Ada yang naik, seperti Pertamax dan Pertamax Turbo, tetapi ada juga yang turun, yaitu Dexlite dan Pertamina Dex, tentunya ini akan berfluktuasi tergantung dari harga global tadi. Untuk sementara, hitungan kami lebih kurang dia berkontribusi sekitar 0,25% kepada inflasi," ujar Aida dalam hasil rapat dewan gubernur yang disiarkan secara daring, Kamis (18/6/2026).
Dinamika Fluktuasi Harga BBM
Berdasarkan laporan yang dirangkum media kami, pergerakan harga BBM non-subsidi tidak seluruhnya menunjukkan tren kenaikan. Meskipun Pertamax dan Pertamax Turbo mengalami penyesuaian ke atas, dua produk lainnya, yakni Dexlite dan Pertamina Dex, justru mengalami penurunan harga. Dinamika ini mencerminkan bahwa penyesuaian harga oleh Pertamina sangat bergantung pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Aida menegaskan bahwa volatilitas harga BBM non-subsidi akan terus terjadi seiring dengan fluktuasi nilai pasar energi global.
Perhitungan sumbangan inflasi sebesar 0,25 persen dari kenaikan Pertamax ini adalah angka sementara. Pihak BI akan terus memantau perkembangan dan menghitung dampak lanjutan dari semua perubahan harga energi terhadap daya beli masyarakat dan target inflasi tahun berjalan.
Respons Kebijakan dan Prospek Inflasi
Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Otoritas moneter menekankan bahwa mereka terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk memitigasi dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM, terutama terhadap komponen inflasi inti dan volatile food. Masyarakat diimbau untuk tidak panik karena kontribusi 0,25 persen ini masih dalam batas kalkulasi yang dapat dikelola oleh neraca perekonomian nasional. Pemantauan ketat akan terus dilakukan, terutama mengingat potensi penyesuaian harga lebih lanjut jika harga minyak dunia kembali bergerak liar.
Comments (0)