Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan asosiasi peternak per awal tahun ini, harga ayam dan telur di tingkat produsen mengalami penurunan tajam, memicu kekhawatiran besar bagi sekitar 4,8 juta peternak di seluruh Indonesia. Kondisi ini menciptakan paradoks di pasar: di satu sisi peternak merugi karena harga jual di kandang jatuh, di sisi lain konsumen masih membayar harga relatif tinggi di tingkat eceran.
Tekanan Ganda: Biaya Produksi Naik, Harga Jual Anjlok
Harga telur di tingkat peternak dilaporkan turun hingga menyentuh kisaran Rp18.000–Rp20.000 per kilogram, sementara biaya produksi, termasuk pakan yang menyumbang sekitar 70 persen dari total struktur biaya, terus menguat. Pakan sendiri masih bergantung pada impor bahan baku seperti jagung dan bungkil kedelai, yang harganya terpengaruh fluktuasi nilai tukar rupiah dan sentimen pasar global.
Di sisi lain, harga ayam ras pedaging di tingkat produsen juga tertekan akibat oversupply. Produksi yang melimpah tidak diimbangi daya serap pasar yang lesu, terutama pasca-periode permintaan puncak. Akibatnya, banyak peternak menjual di bawah harga pokok produksi (HPP) hanya untuk menjaga likuiditas dan menghindari kerugian lebih besar.
"Jika harga di tingkat produsen tidak segera membaik, gelombang kebangkrutan di sektor peternakan rakyat hanya tinggal menunggu waktu," ujar seorang perwakilan asosiasi peternak, menggambarkan tekanan yang dihadapi anggotanya.
Pro: Konsumen Diuntungkan? Kontra: Daya Beli Justru Melemah
Pro: Secara teori, penurunan harga di tingkat produsen seharusnya menguntungkan konsumen karena dapat menekan inflasi pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kelompok pengeluaran makanan bergejolak (volatile food) memiliki andil signifikan terhadap inflasi bulanan. Jika harga ayam dan telur turun konsisten di tingkat eceran, daya beli rumah tangga bisa sedikit terbantu.
Kontra: Faktanya, disparitas harga antara produsen dan konsumen masih lebar. Margin panjang rantai distribusi, mulai dari pedagang pengumpul, distributor, hingga pengecer, membuat harga di pasar tradisional dan ritel modern tidak turun sebesar penurunan di kandang. Konsumen tetap membayar mahal, sementara peternak menanggung kerugian di ujung rantai pasok. Ini mencerminkan inefisiensi struktural yang sudah lama terjadi.
Jika pendapatan peternak terus tergerus, risiko jangka menengah adalah penurunan populasi ternak secara nasional. Peternak kecil yang gulung tikar akan mengurangi pasokan di masa depan, yang berpotensi memicu lonjakan harga ayam dan telur dalam 6–12 bulan ke depan. Inilah yang oleh ekonom disebut siklus boom-bust komoditas pangan.
Fundamental Industri dan Proyeksi Jangka Pendek
Dari sisi fundamental, sektor peternakan rakyat masih menghadapi persoalan klasik: akses permodalan terbatas, skala usaha kecil, dan posisi tawar rendah terhadap pembeli. Rasio utang terhadap pendapatan (debt-to-income ratio) peternak kecil meningkat, sementara akses terhadap kredit usaha rakyat (KUR) sering terkendala agunan dan administrasi.
Pemerintah sebenarnya memiliki instrumen stabilisasi harga, seperti operasi pasar dan penyerapan produksi oleh BUMN pangan. Namun efektivitasnya bergantung pada kecepatan eksekusi dan data pasokan yang akurat. Keterlambatan intervensi berpotensi memperparah tekanan pada 4,8 juta peternak yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional.
Ke depan, proyeksi jangka pendek menunjukkan harga ayam dan telur berpotensi berfluktuasi mengikuti pola musiman, terutama menjelang hari besar keagamaan. Namun tanpa perbaikan struktural dalam rantai pasok dan perlindungan harga di tingkat produsen, risiko kebangkrutan massal tetap membayangi. Di satu sisi, konsumen menikmati harga yang lebih terjangkau; di sisi lain, keberlanjutan usaha peternak rakyat dipertaruhkan. Keseimbangan inilah yang harus menjadi fokus kebijakan agar sektor pangan tidak kehilangan fondasinya.
Comments (0)