Fadli Zon: Kepemimpinan Soeharto Layak Jadi Bahan Pembelajaran Generasi Kini
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa gaya kepemimpinan Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, patut dijadikan bahan refleksi dan pembelajaran bagi generasi masa kini. Pernyataan itu ia
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa gaya kepemimpinan Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, patut dijadikan bahan refleksi dan pembelajaran bagi generasi masa kini. Pernyataan itu ia sampaikan dalam Seminar Nasional Kepemimpinan Jenderal Besar HM Soeharto yang berlangsung di Universitas Trilogi, Jakarta Selatan, Rabu (24/6/2026).
Dalam paparannya, Fadli Zon menyoroti satu karakter utama yang ia nilai melekat pada diri Soeharto, yaitu kemampuannya berpijak pada fakta dan realitas yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, pendekatan semacam ini menjadi fondasi penting bagi setiap pemimpin dalam mengambil kebijakan, terutama di tengah situasi sulit.
Warisan Situasi Kacau
"Saya kira, jika kita bicara tentang kepemimpinan Pak Harto, sejumlah karakter yang layak menjadi bahan pembelajaran bagi generasi masa kini, kalau saya lihat kepemimpinan Pak Harto itu, pertama, berpijak pada fakta dan realitas masyarakat," ujar Fadli Zon.
Fadli Zon lantas menggambarkan betapa beratnya kondisi Indonesia saat Soeharto mulai memegang tampuk kekuasaan. Masa transisi itu, katanya, diwarnai oleh kekacauan multidimensi yang diwariskan oleh rezim sebelumnya. Situasi ekonomi begitu porak-poranda, ditandai dengan inflasi yang melambung di atas 600 persen serta pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi. Masyarakat, menurutnya, bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan pangan paling mendasar.
"Apalagi fakta dan realitas masyarakat ketika itu sangat amburadul, ya. Pak Harto mewarisi satu keadaan yang sangat kacau dari rezim sebelumnya. Ekonomi hancur, inflasi sekitar 600 persen lebih, pertumbuhan minus, orang tidak bisa makan," katanya lagi.
Dari kondisi itulah, Fadli Zon melihat Soeharto berusaha membangun stabilitas dan pembangunan secara bertahap. Meski tidak menguraikan secara detail kebijakan demi kebijakan yang diluncurkan, ia menggarisbawahi bahwa kemampuan membaca realitas itulah yang menjadi pondasi bagi sejumlah capaian di era berikutnya, termasuk upaya menekan inflasi dan memperbaiki ketahanan pangan nasional.
Dalam forum yang dihadiri sejarawan, akademisi, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi itu, Fadli Zon juga mengajak publik untuk menelaah kepemimpinan masa lalu secara objektif. Ia berpendapat, setiap tantangan zaman memiliki konteksnya sendiri dan menarik pelajaran dari keberhasilan maupun kegagalan pemimpin terdahulu adalah bagian dari proses pendewasaan bangsa.
Seminar nasional ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan yang mendorong pengkajian kepemimpinan nasional secara kritis dan terbuka. Dengan menampilkan tokoh-tokoh yang kompeten di bidang sejarah dan budaya, acara ini diharapkan mampu memperkaya perspektif generasi muda tentang arah kepemimpinan Indonesia ke depan. Demikian laporan dari media kami, Beritadua.com.
Comments (0)