Yogyakarta – Di tengah pesatnya arus digitalisasi yang mengubah lanskap bisnis global, pemahaman akan teknologi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan syarat mutlak bagi para pelaku usaha. Hal itu ditegaskan oleh Founder CT Corp, Chairul Tanjung, saat berbicara dalam gelaran Jogja Financial Festival. Ia mengingatkan bahwa pengusaha yang abai terhadap perkembangan teknologi berisiko tertinggal dan kehilangan daya saing di pasar yang kian terhubung.
Menurut Chairul Tanjung, era konvensional yang mengandalkan interaksi fisik dan jaringan tradisional perlahan mulai ditinggalkan. Perilaku konsumen telah bergeser secara fundamental, dari yang semula bertransaksi di toko fisik beralih ke platform digital. Riset terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 70% populasi Indonesia kini mengakses internet, dan hampir 60% di antaranya telah melakukan pembelian secara daring dalam setahun terakhir. Angka ini menjadi sinyal jelas bahwa pasar digital bukan lagi ceruk, melainkan arus utama.
Transformasi Digital sebagai Keharusan
Chairul Tanjung menjelaskan bahwa teknologi bukan semata tentang memiliki situs web atau akun media sosial. Lebih dalam dari itu, pengusaha perlu memahami bagaimana data bekerja, bagaimana algoritme memengaruhi keputusan pembelian, dan bagaimana ekosistem digital dapat diintegrasikan ke dalam rantai nilai bisnis. “Sekarang zamannya data-driven decision making. Siapa yang bisa membaca data konsumen dengan baik, dia yang akan unggul,” ujar Chairul Tanjung di hadapan ratusan peserta festival.
Ia mencontohkan, pelaku usaha mikro dan kecil yang memanfaatkan platform lokapasar seperti Tokopedia, Shopee, atau Lazada terbukti mampu meningkatkan omzet hingga dua hingga tiga kali lipat dibandingkan hanya mengandalkan toko offline. Data internal CT Corp bahkan mencatat bahwa sektor ritel yang mereka kelola mengalami pertumbuhan signifikan setelah memadukan kanal fisik dengan kanal daring—sebuah strategi yang dikenal sebagai omnichannel retailing.
Lebih lanjut, Chairul Tanjung menyoroti pentingnya literasi keuangan digital. Pembayaran nontunai melalui QRIS, dompet elektronik, dan layanan perbankan digital telah menjadi tulang punggung transaksi harian. Pengusaha yang tidak mengadopsi metode pembayaran ini akan kehilangan segmen pelanggan yang besar, terutama dari generasi milenial dan Gen Z yang mendominasi populasi produktif Indonesia.
E-Commerce: Mesin Pertumbuhan Bisnis Modern
Salah satu aspek teknologi yang paling disorot adalah perdagangan elektronik atau e-commerce. Chairul Tanjung menegaskan bahwa e-commerce kini menjadi kunci sukses bisnis modern. Nilai transaksi e-commerce di Indonesia pada tahun lalu menembus angka Rp600 triliun, tumbuh lebih dari 15% secara tahunan. Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa angka tersebut dapat mencapai Rp1.000 triliun dalam lima tahun ke depan, seiring dengan peningkatan penetrasi internet dan kepercayaan konsumen terhadap belanja online.
Namun, ia mengingatkan bahwa kehadiran di platform digital saja tidak cukup. Pengusaha perlu mempelajari seluk-beluk pemasaran digital—mulai dari optimasi mesin pencari (SEO), iklan berbayar, hingga pemanfaatan influencer marketing. “Banyak yang berpikir tinggal unggah produk, lalu pembeli datang sendiri. Itu keliru. Di dunia digital, persaingan justru lebih ketat karena batas geografis hilang,” tambahnya.
Chairul Tanjung juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan di ranah digital. Ulasan pelanggan, rating toko, dan respons cepat terhadap pertanyaan menjadi faktor penentu keberhasilan. Ia membagikan pengalaman CT Corp yang membangun ekosistem digital terpadu—mulai dari layanan keuangan, media, hingga ritel—yang semuanya saling terhubung untuk memberikan pengalaman pelanggan yang mulus.
Strategi Adaptasi bagi Pengusaha Pemula
Bagi pengusaha yang baru memulai atau ingin bertransformasi, Chairul Tanjung memberikan sejumlah saran praktis. Pertama, mulailah dengan mempelajari dasar-dasar teknologi yang relevan dengan sektor bisnis masing-masing. Tak perlu langsung mahir, yang penting memiliki kemauan belajar. Kedua, manfaatkan berbagai program pelatihan dan inkubator yang kini banyak disediakan oleh pemerintah maupun swasta. Ketiga, jalin kolaborasi dengan pelaku teknologi atau startup yang dapat mempercepat proses digitalisasi.
Ia juga menyoroti bahwa dukungan permodalan untuk adopsi teknologi semakin mudah diakses. Perbankan dan lembaga keuangan nonbank kini menawarkan kredit usaha dengan bunga rendah yang dapat digunakan untuk investasi teknologi, seperti pembangunan website, sistem kasir digital, atau integrasi manajemen inventori. Kredit Usaha Rakyat (KUR) bahkan telah mencakup sektor berbasis teknologi, sehingga UMKM tidak perlu lagi khawatir akan biaya awal yang besar.
Tantangan dan Solusi di Lapangan
Kendati peluang sangat besar, Chairul Tanjung mengakui masih ada tantangan yang harus dihadapi. Kesenjangan infrastruktur digital di daerah terpencil, rendahnya literasi teknologi di kalangan pengusaha senior, dan ancaman kejahatan siber menjadi pekerjaan rumah bersama. Ia mendorong pemerintah untuk terus memperluas jaringan internet hingga pelosok, serta memperkuat regulasi perlindungan data pribadi agar konsumen maupun pelaku usaha merasa aman bertransaksi.
Untuk mengatasi rendahnya literasi, Chairul Tanjung menyarankan agar asosiasi bisnis dan komunitas pengusaha menggelar lokakarya rutin tentang teknologi. “Belajar teknologi itu tidak bisa sekali jadi, harus terus-menerus mengikuti perkembangan. Hari ini belajar AI, besok sudah ada blockchain. Pengusaha harus fleksibel dan adaptif,” tegasnya. Ia juga mengapresiasi inisiatif seperti Jogja Financial Festival yang menjadi wadah edukasi dan jejaring antara pelaku industri keuangan, teknologi, dan sektor riil.
Menutup wawancara, Chairul Tanjung berpesan bahwa penguasaan teknologi bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk menciptakan nilai tambah. “Teknologi hanyalah enabler. Yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakannya untuk memecahkan masalah pelanggan, meningkatkan efisiensi, dan pada akhirnya menyejahterakan masyarakat,” pungkasnya.
Comments (0)