Aug 25, 2026
Bisnis

Serangan Mendadak di Masjidil Haram: Militan Sandera Jemaah, Upaya Kudeta terhadap Pemerintah Saudi

Teror di Tanah SuciSuasana khidmat di Masjidil Haram, Makkah, mendadak berubah menjadi kepanikan massal pada Senin pagi waktu setempat. Sekelompok pria bersenjata lengkap berhasil menerobos masuk ke k...

Serangan Mendadak di Masjidil Haram: Militan Sandera Jemaah, Upaya Kudeta terhadap Pemerintah Saudi

Teror di Tanah Suci

Suasana khidmat di Masjidil Haram, Makkah, mendadak berubah menjadi kepanikan massal pada Senin pagi waktu setempat. Sekelompok pria bersenjata lengkap berhasil menerobos masuk ke kompleks masjid tersuci umat Islam itu dan menyandera ribuan jemaah yang tengah menjalankan ibadah. Insiden yang langsung mengguncang dunia internasional ini diduga merupakan bagian dari upaya kudeta terhadap Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Menurut saksi mata, serangan dimulai sekitar pukul 04.30 waktu Subuh ketika para jemaah sedang bersiap melaksanakan salat. Sekitar 30 hingga 50 orang bersenjata, beberapa di antaranya mengenakan rompi peluru dan membawa senapan serbu, tiba-tiba muncul dari beberapa pintu masuk utama sambil melepaskan tembakan ke udara. Mereka langsung mengambil alih kendali area perluasan masjid dan mengunci sebagian gerbang, menjebak ribuan jemaah di dalamnya. Para jemaah yang panik berhamburan ke segala arah; sebagian bersembunyi di bawah kolong marmer atau di lantai atas. Sejumlah korban luka akibat terinjak-injak dilaporkan, meskipun belum ada angka resmi. Kelompok yang menamakan diri mereka “Jamaah al-Muslimin” itu mengklaim memiliki pemimpin spiritual yang bertujuan menggulingkan sistem monarki dan mendirikan pemerintahan Islam yang mereka anggap “murni”.

Kronologi Pengambilalihan dan Tuntutan

Dalam rekaman video yang beredar secara terbatas, tampak seorang pria berjubah putih menyerukan deklarasi melalui pengeras suara masjid. Ia menyatakan bahwa pemerintah kerajaan telah menyimpang dari ajaran Islam sejati dan saatnya telah tiba bagi “penegakan keadilan”. Para sandera, yang terdiri dari jemaah berbagai negara—termasuk Indonesia, Pakistan, Mesir, dan Turki—digiring ke bagian dalam masjid. Beberapa di antaranya dipaksa duduk melingkari Ka'bah, menciptakan pemandangan yang sangat memilukan. Rekaman juga menunjukkan suasana tegang dengan suara tembakan sporadis. Para sandera yang terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak terlihat ketakutan, sementara beberapa mencoba menenangkan diri dengan berdoa.

Kelompok militan mengajukan sejumlah tuntutan, antara lain: (1) pencopotan segera Raja dan putra mahkota, (2) pembentukan komite ulama independen untuk mengawasi pemerintahan, (3) penutupan pangkalan militer asing di wilayah Saudi, dan (4) pembebasan seluruh tahanan politik yang mereka sebut “aktivis Islam”. Mereka juga menuntut penarikan penuh pengaruh Barat dari kebijakan dalam negeri Saudi. Batas waktu pemenuhan tuntutan ditetapkan hingga Selasa pagi. Jika tidak dipenuhi, mereka mengancam akan mengeksekusi sandera secara bertahap dan menyiarkannya secara langsung melalui media sosial.

Respons Cepat Pemerintah Saudi

Pemerintah Arab Saudi melalui Kementerian Dalam Negeri mengonfirmasi insiden ini sebagai “aksi terorisme yang bertujuan merusak stabilitas nasional”. Pasukan keamanan, termasuk unit khusus Al-Mabahith dan Garda Nasional, langsung dikerahkan mengepung area sekitar Masjidil Haram. Lampu-lampu sorot sebagian dipadamkan untuk mengurangi visibilitas penyerang. Jalan-jalan menuju Makkah diblokir, sementara evakuasi warga sipil di sekitar kompleks masjid dilakukan secara diam-diam. Helikopter militer terlihat berpatroli di atas kota.

Juru bicara pemerintah menyatakan bahwa otoritas keamanan sedang berupaya menyelesaikan krisis ini melalui dialog, namun tidak akan berkompromi terhadap kelompok yang “melanggar kesucian tempat ibadah”. Sumber intelijen menyebutkan bahwa pasukan khusus telah diterjunkan untuk mempersiapkan operasi pembebasan jika negosiasi menemui jalan buntu. Hingga berita ini diturunkan, kontak dengan para pemimpin kelompok masih berlangsung melalui perantara ulama senior yang dihormati. Seorang mantan pejabat intelijen yang dikutip media lokal mengatakan, “Mereka sangat terlatih dan memahami titik-titik buta keamanan kompleks masjid. Kami menduga ada orang dalam yang membantu.”

Guncangan di Pasar Global

Kabar mengenai perebutan Masjidil Haram segera memicu reaksi keras di pasar keuangan global. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 7% dalam beberapa jam pertama perdagangan, karena kekhawatiran akan gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Harga minyak Brent menembus $82 per barel, naik dari $76, sementara minyak mentah WTI menyentuh $78. Indeks bursa saham di kawasan Teluk, termasuk Tadawul Saudi, anjlok hingga 5,3%. Investor mengantisipasi eskalasi ketidakstabilan politik di negara pengekspor minyak terbesar dunia itu. “Ini adalah kejutan geopolitik terbesar sejak serangan ke fasilitas Aramco,” ujar seorang kepala analis energi di sebuah bank investasi Eropa yang meminta anonimitas.

Pasar valuta asing juga bergerak volatil; dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang kawasan, sementara riyal Saudi ditekan meskipun bank sentral berusaha menenangkan pasar melalui pernyataan resmi. Analis politik mengingatkan bahwa meskipun Arab Saudi memiliki sejarah stabilitas politik yang relatif kuat, insiden ini mengungkap celah keamanan serius yang dapat dieksploitasi oleh kelompok oposisi bawah tanah maupun jaringan teror. Mereka juga menunjuk pada peristiwa serupa pada tahun 1979, ketika kelompok Juhayman al-Otaybi menyandera masjid yang sama, meskipun modus dan tuntutan kali ini berbeda—lebih terorganisir dan bermuatan politik yang lebih eksplisit.

Reaksi Internasional dan Komunitas Muslim

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) segera mengutuk keras tindakan militan tersebut dan menyerukan pembebasan sandera tanpa syarat. Sekretaris Jenderal OKI menyebutnya sebagai “penodaan berat terhadap tempat paling suci bagi lebih dari satu miliar umat Islam di dunia.” Sementara itu, pemimpin negara-negara Barat juga menyatakan kecaman, dengan Washington menyatakan siap memberikan bantuan teknis jika diminta. PBB meminta semua pihak untuk menahan diri dan mengutamakan perlindungan warga sipil. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan sidang darurat untuk membahas situasi ini.

Di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk keras penyanderaan di Masjidil Haram. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri sedang mendata warga negara Indonesia yang mungkin berada di lokasi. Diperkirakan lebih dari 500 WNI sedang menunaikan umrah di Makkah saat insiden terjadi. Kedutaan Besar RI di Riyadh telah membuka posko komunikasi darurat bagi keluarga yang khawatir. “Kami memohon kepada Allah agar krisis ini segera berakhir damai dan para jemaah selamat,” ujar seorang tokoh agama di Jakarta.

Dampak Sosial dan Politik Domestik

Di dalam negeri, peristiwa ini memicu ketegangan antara kelompok konservatif dan modernis. Beberapa tokoh agama garis keras diimbau untuk tidak memberikan pernyataan yang dapat memperkeruh suasana. Pemerintahan Raja Salman yang selama ini gencar mendorong reformasi Visi 2030, termasuk pengembangan sektor pariwisata religi, kini menghadapi ujian berat. Kepercayaan publik terhadap keamanan kawasan suci menjadi dipertaruhkan, terutama menjelang musim haji yang hanya tinggal beberapa pekan lagi. Pemerintah mungkin terpaksa meninjau ulang seluruh protokol keamanan di Makkah dan Madinah, yang bisa berdampak pada kuota jemaah internasional.

Pengamat politik dari Arab Gulf University menyebut bahwa meskipun kelompok pelaku kudeta tidak mewakili arus utama masyarakat Saudi, sentimen kekecewaan terhadap lambatnya perubahan sosial atau sebaliknya, terhadap liberalisasi yang dianggap terlalu cepat, dapat menjadi lahan subur bagi gerakan sempalan. “Ini adalah peringatan bagi kerajaan untuk lebih memperhatikan dinamika di kalangan akar rumput,” ujar seorang profesor yang enggan disebut namanya. Ia menambahkan bahwa ketidakpuasan terhadap birokrasi dan masalah pengangguran kaum muda bisa dimanfaatkan oleh kelompok ekstremis untuk merekrut pengikut.

Hingga kini, situasi di Masjidil Haram masih mencekam. Suara azan berkumandang secara otomatis, namun tak ada yang mengisi saf-saf salat. Ka'bah yang biasanya dikelilingi lingkaran manusia tanpa henti, kini hanya menjadi saksi sunyi dari tragedi yang mengoyak hati umat Islam sedunia. Miliaran pasang mata tertuju ke Makkah, menanti akhir dari drama penyanderaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala seperti ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User