Aug 25, 2026
Bisnis

Ketangguhan Mental Pengusaha Jadi Kunci Hadapi Badai Ekonomi

Pandemi mungkin telah berlalu, namun jejaknya masih membekas dalam lanskap perekonomian nasional. Pelaku usaha, khususnya skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kini dihadapkan pada serangkaian tant...

Ketangguhan Mental Pengusaha Jadi Kunci Hadapi Badai Ekonomi

Pandemi mungkin telah berlalu, namun jejaknya masih membekas dalam lanskap perekonomian nasional. Pelaku usaha, khususnya skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kini dihadapkan pada serangkaian tantangan baru yang tak kalah berat: inflasi yang menggerus daya beli, suku bunga yang bertahan tinggi, hingga disrupsi teknologi yang semakin masif. Di tengah badai semacam ini, ketangguhan—lebih dari sekadar modal atau strategi bisnis—disebut sebagai faktor penentu keberlangsungan seorang pengusaha.

Realita Pelik yang Dihadapi UMKM

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi inti pada kuartal pertama 2026 masih berada di level 3,2% secara tahunan, sementara Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 6,0% untuk meredam pelemahan rupiah. Kondisi ini membuat beban pinjaman usaha melonjak dan permintaan konsumen melemah. Survei Kementerian Koperasi dan UKM mencatat 6 dari 10 pelaku UMKM kesulitan mempertahankan margin keuntungan. Banyak yang terpaksa gulung tikar lantaran tak mampu beradaptasi.

Dalam sebuah forum kewirausahaan, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyoroti fenomena ini. Menurutnya, badai ekonomi sebenarnya adalah fakta siklus yang selalu berulang. Perbedaannya terletak pada kesiapan mental dan strategi pengusaha dalam menghadapinya. “Yang bertahan bukanlah yang terkuat, melainkan yang paling tangguh,” begitulah intisari pandangannya.

Cetak Biru Pengusaha Tangguh

Lantas, apa yang membedakan pengusaha tangguh dari yang lain? Gunardi membeberkan setidaknya empat fondasi utama. Pertama, kemampuan literasi keuangan yang mumpuni. Tidak sekadar menghitung untung-rugi, melainkan memahami arus kas, rasio likuiditas, hingga proyeksi pertumbuhan. Ini menjadi tameng ketika krisis menerjang. Kedua, daya adaptasi tinggi terhadap perubahan pasar dan teknologi. Pandemi telah membuktikan bahwa bisnis yang enggan bertransformasi digital akan tertinggal—bahkan mati.

Ketiga, pengelolaan risiko yang terstruktur. Pengusaha tangguh tidak mempertaruhkan seluruh aset pada satu lini usaha. Diversifikasi—baik produk, segmen pelanggan, maupun mitra pembiayaan—adalah bentengnya. Keempat, dan yang paling krusial, ketahanan mental. “Bisnis itu naik-turun. Putus asa di tengah jalan hanya akan membuat Anda kehilangan momentum kebangkitan,” ucapnya, mengingatkan bahwa resiliensi adalah bekal utama di setiap fase suram.

Peran Strategis Lembaga Keuangan

Tak bisa dimungkiri, sekuat apa pun mental seorang pengusaha, ekosistem pendukung tetap berperan vital. BRI sebagai bank terbesar dalam penyaluran kredit UMKM terus berbenah. Pada tahun 2025, total portofolio kredit mikro BRI mencapai Rp650 triliun, dengan non-performing loan terjaga di bawah 3%. Angka ini sekaligus menjadi indikator bahwa pembiayaan yang tepat sasaran mampu menjaga kesehatan bisnis para pelaku usaha.

BRI tidak sekadar menyalurkan dana. Program pendampingan seperti BRIncubator, Desa BRIlian, dan LinkUMKM memberikan pelatihan manajemen, pemasaran digital, serta literasi keuangan. “Kami ingin hadir sebagai mitra sejati, bukan sekadar pemberi pinjaman. Ketangguhan pengusaha juga menjadi cerminan dari dukungan yang mereka terima,” tambah Gunardi.

Kisah Bangkit dari Titik Nadir

Realita di lapangan membuktikan bahwa ketangguhan bukanlah teori semata. Ambil contoh Ibu Rina, produsen keripik singkong asal Bandung yang nyaris bangkrut pada 2023 ketika biaya produksi melonjak 40%. Dengan modal pendampingan dari BRI, ia tidak hanya bertahan, tetapi berhasil melebarkan sayap ke pasar ekspor. Dalam waktu dua tahun, omzetnya tumbuh 200% dan membuka 15 lapangan kerja baru. Rina adalah satu dari jutaan potret bahwa ketangguhan yang diasah dengan strategi tepat akan membuahkan hasil.

Kisah-kisah semacam ini menguatkan pesan bahwa krisis bukanlah akhir, melainkan batu ujian bagi para wirausahawan. Di sinilah wejangan Hery Gunardi menemukan relevansinya: tangguh bukan berarti tidak pernah jatuh, melainkan selalu bangkit dengan cara yang lebih cerdas dan lebih siap. Sebuah pelajaran berharga yang seharusnya menjadi pegangan bagi siapa pun yang ingin bertahan—dan menang—dalam persaingan bisnis yang kian brutal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User