Catat! Mitigasi Sebelum, Saat, dan Sesudah Kekeringan

Beritadua.com, Jakarta – Musim kemarau yang panjang kerap memicu bencana kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Untuk mengurangi dampak buruknya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) m

Jul 07, 2026 - 23:28
0 0
Catat! Mitigasi Sebelum, Saat, dan Sesudah Kekeringan

Beritadua.com, Jakarta – Musim kemarau yang panjang kerap memicu bencana kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Untuk mengurangi dampak buruknya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengeluarkan panduan mitigasi yang dapat dilakukan masyarakat dan pemerintah daerah. Upaya ini mencakup langkah-langkah yang dibagi dalam tiga fase: sebelum, saat, dan sesudah kekeringan melanda.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, kekeringan didefinisikan sebagai kondisi ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan untuk hidup, pertanian, kegiatan ekonomi, dan lingkungan. Secara khusus, kekeringan di bidang pertanian adalah kekeringan yang terjadi pada lahan dengan tanaman budi daya seperti padi, jagung, atau kedelai yang tengah dibudidayakan.

“Kekeringan merupakan salah satu ancaman serius yang harus diantisipasi sejak dini. Melalui mitigasi terstruktur, risiko kehilangan hasil panen dan krisis air bersih bisa ditekan,” demikian penjelasan BNPB dalam laporan terbarunya yang diterima media kami.

Mitigasi Sebelum Kekeringan

Langkah pencegahan menjadi kunci utama. BNPB mendorong pembangunan embung, waduk kecil, atau sumur resapan untuk menampung air hujan di musim penghujan. Masyarakat diimbau tidak membakar lahan sembarangan karena dapat memperburuk ketersediaan air tanah. Di sektor pertanian, penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan serta penerapan pola tanam hemat air sangat dianjurkan. Pemerintah daerah diharapkan rutin memantau prakiraan cuaca dan segera membersihkan saluran irigasi untuk memastikan distribusi air optimal.

Saat Kekeringan Berlangsung

Ketika kekeringan sudah terjadi, prioritas utama adalah pemenuhan air bersih bagi warga. BNPB merekomendasikan distribusi air menggunakan tangki mobile atau penyediaan titik-titik air darurat. Masyarakat diajak menghemat penggunaan air rumah tangga dan mendahulukan kebutuhan minum serta sanitasi. Untuk lahan pertanian, petani dapat menerapkan irigasi tetes atau sistem gilir air agar pasokan tetap tersedia hingga panen. Posko siaga bencana perlu diaktifkan untuk memantau titik rawan dan memberikan bantuan cepat.

Pasca Kekeringan

Setelah kekeringan mereda, langkah pemulihan difokuskan pada rehabilitasi lahan pertanian dan pengembalian fungsi sumber air. BNPB menekankan pentingnya penghijauan kembali daerah tangkapan air serta perbaikan embung atau saluran yang rusak. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem peringatan dini dan respon darurat juga harus dilakukan agar kejadian serupa dapat ditangani lebih baik di masa depan.

Dengan menerapkan rangkaian mitigasi ini, diharapkan kerugian akibat kekeringan dapat diminimalkan. BNPB mengingatkan seluruh pihak untuk tidak menunda persiapan mengingat puncak musim kemarau tahun ini diprediksi terjadi pada Juli hingga September di berbagai wilayah Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Fact Checker. Memverifikasi klaim politik dan narasi publik.

Comments (0)

User