BPS Catat Pengeluaran Jemaah Haji RI Tembus Rp4,25 Triliun
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis per akhir 2024, pengeluaran pribadi jemaah haji Indonesia selama berada di Tanah Suci diperkirakan mencapai Rp4,25 triliun. Dari jumlah terseb...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis per akhir 2024, pengeluaran pribadi jemaah haji Indonesia selama berada di Tanah Suci diperkirakan mencapai Rp4,25 triliun. Dari jumlah tersebut, hampir Rp2 triliun atau setara sekitar 47 persen dibelanjakan untuk oleh-oleh dan cenderamata. Dengan kuota haji Indonesia yang berada di kisaran 221 ribu hingga 241 ribu jemaah per tahun—terbesar di dunia—rata-rata belanja personal per jemaah diperkirakan menembus Rp17 juta hingga Rp19 juta, di luar biaya penyelenggaraan ibadah haji (Bipih) yang dibayarkan sebelum keberangkatan.
Angka ini menempatkan musim haji sebagai salah satu momen konsumsi luar negeri terbesar bagi masyarakat Indonesia. Dalam terminologi ekonomi, pengeluaran semacam ini masuk kategori travel debit dalam neraca pembayaran, yakni aliran devisa yang keluar karena warga negara berbelanja di luar negeri.
Struktur Belanja: Oleh-Oleh Mendominasi Hampir Separuh Pengeluaran
Porsi oleh-oleh yang nyaris menyentuh separuh dari total pengeluaran menunjukkan pola konsumsi jemaah yang tidak sepenuhnya bersifat kebutuhan pokok. Secara rata-rata, setiap jemaah mengalokasikan sekitar Rp8 juta hingga Rp8,5 juta hanya untuk cenderamata seperti kurma, air zamzam, sajadah, tasbih, hingga parfum khas Timur Tengah.
Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tren belanja jemaah menunjukkan kenaikan secara year-on-year, sejalan dengan membaiknya daya beli pasca-pandemi dan apresiasi nilai tukar riyal terhadap rupiah yang membuat nominal pengeluaran dalam rupiah ikut terdongkrak. Fundamental konsumsi masyarakat Indonesia, yang ditopang pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen, menjadi latar belakang kuatnya belanja tersebut.
Di Satu Sisi Devisa Keluar, Di Sisi Lain Roda Ekonomi Berputar
Di satu sisi, pengeluaran Rp4,25 triliun di luar negeri dapat dipandang sebagai bentuk capital outflow konsumtif. Dana tersebut beredar di ekonomi Arab Saudi dan negara pemasok barang, sehingga multiplier effect—efek berantai dari perputaran uang—tidak dinikmati penuh oleh ekonomi domestik. Ironisnya, sebagian cenderamata yang dibeli jemaah merupakan produk impor dari negara ketiga seperti Tiongkok dan Turki, sehingga nilai tambahnya tidak kembali ke Indonesia.
Di sisi lain, arus belanja ini mencerminkan likuiditas masyarakat yang memadai dan menciptakan aktivitas ekonomi turunan di dalam negeri. Permintaan terhadap jasa kargo, logistik, koper haji, hingga perdagangan eceran oleh-oleh yang dijual kembali di tanah air ikut mengalami kenaikan. Sentimen pasar terhadap sektor perjalanan religi, termasuk umrah, juga terdongkrak karena menjadi indikator kuatnya permintaan.
"Pengeluaran jemaah haji adalah pedang bermata dua. Ia menjadi bukti daya beli masyarakat, tetapi sekaligus pengingat bahwa konsumsi luar negeri perlu diimbangi penguatan produk domestik agar devisa tidak terus mengalir keluar," ujar seorang ekonom senior yang meneliti ekonomi syariah.
Proyeksi: Peluang Substitusi dan Penguatan Industri Lokal
Ke depan, rasio belanja oleh-oleh terhadap total pengeluaran berpotensi berubah jika industri cenderamata domestik mampu menyediakan produk sepadan. Sejumlah daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Barat sebenarnya telah memiliki basis produksi kurma olahan, tasbih kayu, hingga tekstil muslim yang bisa menjadi substitusi impor.
Pemerintah juga berpeluang mengoptimalkan skema tabungan haji yang saat ini dananya dikelola dalam portofolio syariah. Dengan valuasi dana kelolaan haji yang menembus lebih dari Rp160 triliun, imbal hasilnya dapat menjadi bantalan likuiditas sekaligus instrumen stabilisasi rupiah.
Proyeksi jangka menengah menunjukkan pengeluaran jemaah akan terus tumbuh seiring antrean haji yang mencapai puluhan tahun dan kenaikan kuota berkala. Tantangannya adalah memastikan tren konsumsi ini tidak sekadar menjadi statistik belanja, melainkan dikonversi menjadi peluang ekonomi—baik melalui penguatan produk lokal maupun pengelolaan devisa yang lebih efisien.
Comments (0)