Sep 23, 2026
Bisnis

Danantara Siap Bantu Perpanjangan LRT Jakarta atas Mandat Prabowo

Pada 16 September 2026, Presiden Prabowo Subianto resmi meresmikan operasional LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai setelah pembangunan Fase 1B rampung sepenuhnya. Peresmian ini menandai perpanjan...

Danantara Siap Bantu Perpanjangan LRT Jakarta atas Mandat Prabowo

Pada 16 September 2026, Presiden Prabowo Subianto resmi meresmikan operasional LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai setelah pembangunan Fase 1B rampung sepenuhnya. Peresmian ini menandai perpanjangan jaringan transportasi ringan berbasis rel di ibu kota dari semula 5,8 kilometer menjadi 12,2 kilometer. Namun momentum peresmian tersebut justru menjadi awal dari diskusi baru mengenai kelanjutan ekspansi jalur LRT Jakarta ke dua koridor strategis: menuju Jakarta International Stadium (JIS) di Jakarta Utara dan kawasan Halim yang terhubung dengan Kereta Cepat Whoosh. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung secara terbuka meminta kepada Presiden agar menugaskan Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia untuk membantu pembiayaan perpanjangan jalur tersebut.

Ekspansi LRT Jakarta dan Kebutuhan Pembiayaan

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pembangunan LRT Jakarta Fase 1B Velodrome-Manggarai menelan anggaran senilai Rp 4,1 triliun dengan panjang lintasan 6,4 kilometer dan lima stasiun baru. Proyek ini dikerjakan oleh PT Jakarta Propertindo (Perseroda) selaku BUMD milik Pemprov DKI dengan kontraktor utama KSO Waskita-Nindya. Realisasi pembangunan mencapai 97,99 persen pada Agustus 2026 dan resmi tersambung 100 persen setelah pemasangan girder terakhir di atas area Double Double Track Manggarai.

Gubernur Pramono mengungkapkan rencana perpanjangan LRT Jakarta ke dua rute baru. Rute pertama mengarah ke JIS yang sebenarnya sudah mendapatkan izin trase dari Kementerian Perhubungan. Rute kedua menuju kawasan Halim untuk terhubung langsung dengan stasiun Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung. Kedua koridor ini menjadi bagian dari visi integrasi transportasi publik di Jakarta guna mendukung konektivitas antarmoda yang lebih efisien.

Kebutuhan anggaran untuk fase selanjutnya juga sudah mulai tergambar. Pemprov DKI mengajukan skema obligasi daerah senilai Rp 5,6 triliun untuk tahun 2027 yang mencakup pembangunan Fase 1C dari Manggarai menuju Dukuh Atas sebesar Rp 2,7 triliun. Jumlah ini mengalami kenaikan Rp 600 miliar dari estimasi awal Rp 2,1 triliun karena adanya tambahan pengadaan 16 rangkaian kereta baru atau trainset. Sisa alokasi obligasi daerah akan dialokasikan untuk pembangunan Rumah Sakit Sumber Waras.

Mandat Presiden dan Peran Strategis Danantara

Di satu sisi, keterlibatan Danantara dalam pembiayaan perpanjangan LRT Jakarta dinilai memiliki landasan strategis yang kuat. Sebagai badan pengelola investasi yang didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025, Danantara memiliki mandat untuk mengelola dan mengoptimalkan portofolio aset Badan Usaha Milik Negara senilai lebih dari Rp 10.000 triliun. Presiden Prabowo secara tegas menyatakan bahwa Danantara wajib membantu pengembangan LRT Jakarta karena DKI Jakarta bukan hanya milik penduduknya, melainkan milik seluruh bangsa.

Dony Oskaria selaku Chief Operating Officer Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola BUMN menyebut pihaknya tengah mengkaji rencana tersebut agar moda transportasi umum di ibu kota dapat terintegrasi secara utuh. Pernyataan ini menunjukkan keseriusan Danantara dalam mengevaluasi skema pembiayaan yang paling tepat untuk mendukung perluasan jaringan LRT Jakarta. Dalam struktur organisasinya, Danantara memiliki dua divisi utama yakni induk operasional yang dipimpin Dony Oskaria dan induk investasi yang berfokus pada penyaluran modal ke proyek-proyek strategis jangka panjang.

Di sisi lain, kehadiran Danantara dalam pembiayaan infrastruktur transportasi Jakarta bukan tanpa catatan. Beberapa pihak mengingatkan bahwa amanah publik harus menjadi ukuran utama dalam setiap keputusan investasi. Aset publik memang boleh dikembangkan secara komersial, namun ujungnya harus kembali kepada kemaslahatan masyarakat. Rel harus menghubungkan warga, investasi harus menciptakan nilai, dan kekuasaan harus menjaga amanah.

Pro dan Kontra Keterlibatan Danantara dalam Proyek LRT

Pro: Efisiensi Pembiayaan dan Akselerasi Pembangunan

Pendukung keterlibatan Danantara berargumen bahwa skema pembiayaan melalui badan investasi negara dapat mempercepat realisasi proyek infrastruktur strategis. Modal yang tersedia di Danantara sangat besar, termasuk dana investasi bersama senilai US$ 4 miliar yang sudah dihimpun bersama Qatar Investment Authority pada April 2025. Kerja sama dengan investor internasional ini membuktikan kepercayaan global terhadap prospek ekonomi Indonesia dan kapasitas lembaga investasi nasional.

Selain itu, Danantara sudah memiliki rekam jejak dalam mengelola pembiayaan infrastruktur melalui Danantara Development Management Fund (DDMF). Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mendorong DDMF menjadi mitra strategis dalam mendukung pembiayaan proyek jangka panjang yang menjadi prioritas pemerintah. Pengembangan jaringan kereta api memiliki peran penting dalam memperkuat konektivitas nasional sekaligus meningkatkan efisiensi logistik.

Pada tahun pertama operasionalnya, Danantara berhasil menciptakan tambahan kapasitas pembiayaan sekitar Rp 150 triliun melalui berbagai instrumen keuangan seperti pinjaman, penyertaan modal, patriot bonds, hingga revolving credit facility. Capaian ini menunjukkan bahwa Danantara memiliki kapasitas fiskal yang memadai untuk mendukung proyek-proyek strategis nasional, termasuk perpanjangan LRT Jakarta.

Kontra: Risiko Tata Kelola dan Beban Utang

Di sisi lain, pihak yang menilai skeptis terhadap keterlibatan Danantara mengingatkan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana publik. Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah bagaimana mekanisme pengembalian investasi atas pembiayaan yang disalurkan ke proyek LRT Jakarta. Tarif LRT Jakarta saat ini masih bersubsidi, dengan tarif keekonomian yang jauh lebih tinggi dari tarif yang dinikmati masyarakat. Tarif riil tanpa subsidi untuk rute Pegangsaan Dua-Velodrome mencapai Rp 160.000 per penumpang, sementara tarif subsidi yang berlaku hanya Rp 5.000.

Kesenjangan antara tarif operasional dan tarif subsidi ini menimbulkan potensi kerugian finansial yang harus ditanggung oleh entitas pembiaya. Jika Danantara menyalurkan dana investasi ke proyek LRT, maka mekanisme pengembalian modal perlu dirancang secara matang agar tidak menjadi beban fiskal jangka panjang. Obligasi daerah yang diajukan Pemprov DKI sebesar Rp 5,6 triliun juga akan meningkatkan rasio utang daerah, yang perlu dievaluasi secara cermat terhadap kapasitas daya bayar APBD.

Selain itu, keterlibatan Danantara dalam proyek transportasi daerah dinilai perlu memperhatikan prinsip tata kelola yang baik. Restrukturisasi BUMN yang sedang berjalan di bawah Danantara belum sepenuhnya tuntas, sehingga ada kekhawatiran bahwa distribusi aset dan pembiayaan ke berbagai sektor dapat mengganggu fokus utama transformasi Badan Usaha Milik Negara.

Proyeksi Dampak terhadap Integrasi Transportasi Jakarta

Meskipun masih dalam tahap kajian, potensi perpanjangan LRT Jakarta ke JIS dan Halim memiliki dampak signifikan terhadap sistem transportasi integrasi di ibu kota. Saat ini, LRT Jakarta melayani rute Kelapa Gading-Manggarai dengan target mencapai 18 juta penumpang pada tahun 2028. Dengan adanya dua koridor baru, konektivitas antarmoda akan semakin kuat karena LRT akan terhubung langsung dengan Kereta Cepat Whoosh di Halim dan kawasan olahraga terpadu di JIS.

Gubernur Pramono juga membuka kemungkinan perpanjangan lebih lanjut dari Ancol menuju Pantai Indah Kapuk 2 dan Bandara Soekarno-Hatta. Rencana ini menunjukkan ambisi besar Pemprov DKI untuk membangun jaringan LRT loop system yang mengelilingi seluruh kawasan Jakarta. Dalam konteks ini, peran Danantara sebagai sumber pembiayaan strategis menjadi sangat krusial mengingat skala investasi yang dibutuhkan diperkirakan akan jauh lebih besar dari fase-fase sebelumnya.

Secara keseluruhan, keputusan akhir mengenai keterlibatan Danantara dalam perpanjangan LRT Jakarta akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah dalam menyeimbangkan kebutuhan pembangunan infrastruktur dengan prinsip pengelolaan keuangan yang berkelanjutan. Aset publik boleh dikembangkan secara komersial, tetapi ujungnya harus kembali kepada kemaslahatan masyarakat. Jika tiga elemen yakni rel yang menghubungkan warga, investasi yang menciptakan nilai, dan kekuasaan yang menjaga amanah dapat bertemu, maka LRT Jakarta bukan sekadar proyek transportasi melainkan investasi bagi masa depan ibu kota.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User