Stabilisasi Harga Pakan dan Serapan Telur Beri Napas Peternak
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komponen pangan bergejolak (volatile food) sempat mencatat inflasi di atas 7 persen secara year-on-year (yoy) sepanjang 2024, dengan harga telur ayam ras ...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komponen pangan bergejolak (volatile food) sempat mencatat inflasi di atas 7 persen secara year-on-year (yoy) sepanjang 2024, dengan harga telur ayam ras di tingkat konsumen bergerak pada kisaran Rp28.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Di tengah tren tersebut, kebijakan pemerintah menahan harga pakan ternak sekaligus mempercepat distribusi jagung sebagai bahan baku utama menjadi sinyal positif bagi peternak ayam petelur yang selama dua tahun terakhir menghadapi margin usaha yang kian tipis.
Struktur Biaya Produksi dan Peran Strategis Jagung
Dalam struktur biaya produksi peternakan ayam petelur, pakan mendominasi sekitar 60 hingga 70 persen dari total ongkos produksi. Jagung berkontribusi hampir separuh dari formulasi pakan, sehingga setiap kenaikan harga jagung sebesar Rp500 per kilogram berpotensi mengerek biaya produksi telur secara signifikan. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan harga jagung di tingkat peternak sempat mengalami kenaikan hingga menembus Rp6.500 per kilogram, jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP) yang dipatok Rp5.000 per kilogram.
Percepatan distribusi jagung dari sentra produksi ke kantong-kantong peternak, secara teori ekonomi, akan memperbaiki sisi penawaran (supply side), memangkas rantai tata niaga, dan menekan margin perantara. Dengan kebutuhan jagung untuk pakan yang diperkirakan mencapai 9 hingga 10 juta ton per tahun, kelancaran logistik menjadi variabel penentu keberhasilan kebijakan ini.
Di Satu Sisi: Ruang Pemulihan Margin Peternak
Di satu sisi, penahanan harga pakan memberikan kepastian usaha yang selama ini menjadi keluhan utama peternak rakyat. Dengan harga telur di tingkat peternak (farm gate) yang berkisar Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram, sementara harga pokok produksi sempat melampaui harga jual, rasio antara pendapatan dan biaya produksi menjadi tidak sehat. Tidak sedikit peternak kecil yang terpaksa melakukan afkir dini (culling) bahkan menutup usaha.
Penguatan penyerapan telur — antara lain melalui program pangan bergizi dan operasi pasar — berpotensi menyeimbangkan pasokan yang saat ini cenderung surplus. BPS mencatat produksi telur ayam ras nasional menembus lebih dari 5,5 juta ton per tahun, sementara konsumsi per kapita baru sekitar 7 kilogram per tahun, masih di bawah Malaysia dan Thailand. Penyerapan yang lebih agresif dapat menahan harga di tingkat peternak agar tidak jatuh di bawah biaya produksi.
“Intervensi di sisi hulu, yakni pakan dan jagung, relatif lebih efektif menjaga stabilitas harga telur dibandingkan intervensi di hilir, karena akar persoalan peternak rakyat terletak pada biaya produksi,” ujar seorang pengamat agribisnis dari Universitas Indonesia.
Di Sisi Lain: Risiko Distorsi Pasar dan Beban Fiskal
Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa penahanan harga dalam jangka panjang berisiko menimbulkan distorsi pasar. Jika harga jagung ditekan terlalu rendah, petani jagung berpotensi kehilangan insentif menanam, yang pada gilirannya menekan produksi domestik dan membuka ruang impor. Neraca perdagangan sektor pertanian pun dapat terbebani.
Selain itu, operasi stabilisasi membutuhkan dukungan anggaran yang tidak kecil. Penugasan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pangan untuk menyerap dan menyalurkan jagung dapat menggerus likuiditas perseroan apabila selisih harga tidak dikelola secara transparan. Pengalaman sebelumnya menunjukkan intervensi tanpa tata kelola yang baik kerap memicu kebocoran dan ketidaktepatan sasaran.
Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan
Dari sisi fundamental, prospek sektor peternakan unggas pada 2025 bergantung pada tiga variabel: konsistensi kebijakan harga jagung, efektivitas penyerapan telur, dan pergerakan nilai tukar rupiah. Tekanan capital outflow yang memperlemah rupiah akan mengerek harga bungkil kedelai — komponen pakan yang masih bergantung pada impor — sehingga manfaat penahanan harga jagung bisa tergerus sebagian.
Apabila ketiga variabel tersebut terkendali, proyeksi harga telur diperkirakan bergerak stabil pada kisaran Rp25.000 hingga Rp28.000 per kilogram di tingkat konsumen. Bagi pasar modal, stabilitas harga pangan menjadi katalis bagi indeks saham sektor konsumer, termasuk emiten poultry, meski valuasi tetap perlu dicermati mengingat volatilitas komoditas global. Sentimen pasar umumnya merespons positif kebijakan yang memberi kepastian margin, namun investor cenderung menanti bukti implementasi sebelum menambah porsi portofolio.
Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan ini akan diukur dari satu indikator sederhana: apakah peternak rakyat kembali membukukan laba sementara harga telur tetap terjangkau bagi konsumen. Keseimbangan dua sisi itulah yang menjadi ujian sesungguhnya bagi arah kebijakan pangan nasional.
Comments (0)