BKSDA Ungkap Asal-usul Tapir di Mesuji: Masih di Habitat Alaminya, Bukan Tersesat

Mesuji, Beritadua.com – Publik dihebohkan dengan penangkapan enam tersangka pelaku pembunuhan satwa tapir yang videonya viral berkeliaran di Jalan Lintas Sumatera, Mesuji, Lampung. Di tengah proses

Jul 06, 2026 - 12:59
0 0
BKSDA Ungkap Asal-usul Tapir di Mesuji: Masih di Habitat Alaminya, Bukan Tersesat

Mesuji, Beritadua.com – Publik dihebohkan dengan penangkapan enam tersangka pelaku pembunuhan satwa tapir yang videonya viral berkeliaran di Jalan Lintas Sumatera, Mesuji, Lampung. Di tengah proses hukum yang bergulir, muncul pertanyaan besar: mengapa tapir yang dikenal sebagai hewan pemalu itu bisa muncul begitu dekat dengan permukiman warga? Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung kini memberikan klarifikasi penting, memastikan bahwa kemunculan satwa tersebut bukanlah pertanda bahwa ia keluar dari habitatnya.

Habitat Alami yang Tergerus?

Kanit Polisi Kehutanan BKSDA Bengkulu-Lampung, M Husen, menjelaskan bahwa kawasan Register 45 hingga meliputi wilayah Kabupaten Mesuji dan Tulang Bawang memang merupakan rumah asli bagi tapir Asia (Tapirus indicus). Menurutnya, masyarakat setempat sudah lama hidup berdampingan dengan satwa yang oleh penduduk lokal akrab disebut "tenuk" ini. Bahkan, perjumpaan antara warga dengan tapir di area tersebut digolongkan cukup sering, menandakan populasi satwa unik ini masih menempati bentang alam Sumatera bagian selatan.

"Kemungkinan tapir berasal dari Register 45 atau kawasan APL di sekitarnya karena wilayah Mesuji dan Tulang Bawang memang merupakan habitatnya. Masyarakat setempat bahkan cukup sering berjumpa dengan tapir atau yang mereka kenal sebagai 'tenuk'," jelas M Husen dalam keterangannya yang dirilis pada Jumat (3/7/2026).

Pernyataan ini meluruskan asumsi awal banyak pihak yang menduga tapir malang itu tersesat akibat pembukaan lahan atau kebakaran hutan. Faktanya, tapir bernasib tragis itu sedang berada di kampung halamannya sendiri. Ironisnya, alih-alih dilindungi oleh warga yang sudah terbiasa melihat keberadaannya, satwa dilindungi undang-undang ini justru berakhir sebagai buruan dan diolah menjadi hidangan rica-rica oleh empat dari enam pelaku yang kini telah diamankan aparat. Kasus ini menjadi cermin pahit bahwa kedekatan habitat dengan manusia tidak lantas menjamin keamanan satwa dari ancaman perburuan.

Kawasan Register 45 Mesuji sendiri, berdasarkan data dari BKSDA, merupakan koridor penting bagi pergerakan satwa liar Sumatera. Meski berstatus kawasan hutan, lokasi ini berimpitan langsung dengan aktivitas masyarakat di area penggunaan lain (APL). Kemunculan tapir ke jalan lintas Sumatera diduga kuat merupakan aktivitas harian satwa tersebut dalam mencari pakan atau sekadar melintasi rute jelajahnya yang telah dilalui secara turun-temurun. Hingga berita ini ditulis, BKSDA bersama penegak hukum masih mendalami motif para pelaku, sementara bangkai tapir yang telah dimasak itu kini dijadikan barang bukti penting dalam pengungkapan kasus ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User