Asunción, Paraguay — Kementerian Luar Negeri Paraguay secara resmi mengecam keras pernyataan

Pernyataan yang Memantik Kemarahan Celeste Amarilla, senator dari oposisi yang dikenal kerap melontarkan komentar kontroversial, menulis di media sosial b

Jul 08, 2026 - 21:28
0 0
Asunción, Paraguay — Kementerian Luar Negeri Paraguay secara resmi mengecam keras pernyataan

Pernyataan yang Memantik Kemarahan

Celeste Amarilla, senator dari oposisi yang dikenal kerap melontarkan komentar kontroversial, menulis di media sosial bahwa Mbappé tidak berhak menggurui Paraguay karena ia sendiri berasal dari “Kamerun yang terjajah.” Pernyataan itu muncul setelah penyerang Paris Saint-Germain tersebut sebelumnya mengkritik perlakuan terhadap penduduk asli di Paraguay—atau setidaknya itulah narasi yang dipercaya oleh Amarilla dan sebagian pendukungnya. Dalam unggahannya, Amarilla menyiratkan bahwa latar belakang Mbappé sebagai keturunan imigran dari bekas jajahan Prancis membuat posisinya lemah untuk menilai negara lain.

Kementerian Luar Negeri Paraguay langsung merespons. Dalam pernyataan tertulis, mereka menegaskan bahwa komentar Amarilla sama sekali tidak mencerminkan pandangan pemerintah.

“Pemerintah Paraguay mengecam dan menolak segala bentuk ekspresi diskriminatif atau rasis, dari siapa pun dan terhadap siapa pun. Apa yang disampaikan oleh Senator Amarilla adalah opini personal yang tidak mewakili posisi resmi negara,” demikian bunyi pernyataan Kemenlu setempat.

Langkah cepat itu diapresiasi oleh banyak pihak sebagai sinyal bahwa Paraguay tidak ingin citra negatif menempel padanya, terutama di tengah upaya memperkuat hubungan diplomatik dan citra internasional.

Senator Balik Minta Maaf: Dua Sisi yang Layak Dicermati

Alih-alih menarik ucapannya, Amarilla justru menuntut Mbappé untuk meminta maaf terlebih dahulu. Ia berdalih bahwa kritik tajam terhadap sikap “arogan” pesepakbola berusia 25 tahun itu adalah bentuk pembelaan terhadap kedaulatan negaranya, bukan serangan berdasarkan warna kulit atau asal-usul etnis.

Di sinilah titik tengkar: apakah pernyataan “Kamerun yang terjajah” semata-mata komentar politik yang sah untuk melawan “moral superior” ala selebritas Eropa, atau justru mengandung prasangka kolonial yang merendahkan Mbappé berdasarkan akar leluhurnya?

Analisis Dua Sisi: Pro dan Kontra Kecaman

Pro – Kecaman Pemerintah Tepat dan Perlu

  • Unsur Rasial Tersirat: Menyebut seseorang sebagai “produk jajahan” dalam konteks ini secara tidak langsung merendahkan identitas Mbappé berdasarkan warisan kolonial Afrika-nya. Bahasa semacam itu dinilai tidak pantas diucapkan oleh pejabat publik.
  • Standar Ganda: Jika yang dihina adalah figur dari negara adidaya, reaksi akan berbeda. Tapi karena sasaran adalah pemain keturunan Afrika, sebagian publik di kawasan Amerika Latin mungkin menganggapnya lumrah—padahal tidak.
  • Preseden Buruk: Tanpa kecaman keras, retorika serupa bisa dianggap wajar di tengah sepak bola yang seharusnya merayakan keberagaman.

Kontra – Konteks Kritik Politik yang Diabaikan?

  • Provokasi Terlebih Dahulu: Pendukung Amarilla berargumen bahwa Mbappé tidak punya kapasitas untuk mengecam kebijakan domestik Paraguay, dan senator hanya “mengembalikan bola” dengan menunjukkan ironi bahwa pemain yang mewakili Prancis—negara dengan masa lalu kolonial kelam—menggurui negara lain.
  • Reaksi Berlebihan: Sebagian kalangan menganggap Kemenlu Paraguay terlalu cepat meminta maaf dan mengutuk warganya sendiri hanya karena tekanan opini global, tanpa mendalami substansi kritik sang senator.
  • Bukan Serangan Rasial Murni: Ungkapan “Kamerun yang terjajah” di mata ini mungkin lebih merupakan metafora politik untuk menyoroti posisi Mbappé sebagai imigran yang sukses di negara bekas penjajah, ketimbang menghina rasnya secara langsung.

Kontroversi ini menunjukkan betapa cairnya batas antara wacana kritis dan ujaran kebencian. Di era ketika kata-kata dapat langsung dikutip dan diperkarakan secara global, figur publik di parlemen maupun lapangan hijau sama-sama berjalan di atas tali tipis. Paraguay kini harus membuktikan bahwa kecamannya bukan sekadar diplomasi permukaan, melainkan juga diikuti oleh pendidikan publik tentang keberagaman dan penghormatan terhadap martabat manusia—tanpa harus mengorbankan hak berekspresi yang bertanggung jawab.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User