Yayasan Disabilitas Kecam Kreator TikTok, Soroti Paradigma Sosial
Jakarta — Yayasan Disabilitas Inklusif Indonesia (YDII) mengecam keras aksi kreator konten TikTok @violettaaxandrea yang dalam beberapa unggahannya diduga
Jakarta — Yayasan Disabilitas Inklusif Indonesia (YDII) mengecam keras aksi kreator konten TikTok @violettaaxandrea yang dalam beberapa unggahannya diduga melakukan ableisme, yakni tindakan merendahkan penyandang disabilitas melalui cemoohan dan stereotip negatif. Kecaman ini mengemuka setelah potongan video sang kreator viral yang memperlihatkan seorang difabel dijadikan bahan lelucon. YDII menilai perilaku tersebut tidak hanya melukai perasaan komunitas difabel, tetapi juga mencerminkan sisa-sisa paradigma primitif yang memandang disabilitas sebagai kutukan atau aib.
Kendati demikian, pengurus YDII mengapresiasi bahwa di sisi lain, kesadaran publik secara umum mulai bergeser dari model primitif ke arah pemahaman medis dan sosial yang lebih manusiawi. “Ironisnya, insiden ini justru terjadi di tengah gelombang perubahan positif cara pandang masyarakat terhadap disabilitas. Artinya, edukasi publik belum sepenuhnya merata,” ujar Dian Purnama, Ketua YDII, dalam konferensi pers daring, Selasa (28/5).
Kronologi dan Kecaman YDII
Video yang menuai kontroversi menampilkan sang kreator tengah menirukan gestur tubuh seorang difabel dengan diiringi tawa berlebihan. Konten tersebut kemudian dibagikan ulang warganet dan memicu kemarahan, khususnya dari kalangan aktivis hak disabilitas. YDII menyebut bahwa praktik ableisme semacam ini tidak dapat ditoleransi, sekalipun dikemas dengan dalih humor.
“Tindakan ini sangat tidak beradab dan melampaui batas kemanusiaan. Kami mendesak platform untuk segera men-takedown konten tersebut dan memberikan sanksi tegas kepada kreatornya. Jika dibiarkan, ini akan menormalisasi perundungan terhadap penyandang disabilitas,” tegas Dian.
Tak hanya itu, YDII juga melayangkan surat resmi kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika serta TikTok Indonesia agar konten serupa tidak lagi muncul. Mereka menekankan pentingnya regulasi yang lebih ketat untuk melindungi kelompok rentan dari diskriminasi di ruang digital.
Paradigma Primitif yang Masih Mengakar
Para sosiolog memandang kasus ini sebagai bukti bahwa paradigma primitif soal disabilitas belum sepenuhnya terkikis. Dalam model primitif, disabilitas dianggap sebagai hukuman ilahi, alburuk, atau aib keluarga. Akibatnya, difabel kerap dijauhi, disembunyikan, atau bahkan menjadi obyek olok-olok. Padahal, data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat lebih dari 22 juta penduduk Indonesia adalah penyandang disabilitas.
“Paradigma primitif itu warisan turun-temurun yang sayangnya masih bercokol di segelintir orang. Dalam konteks media sosial, ia menemukan lahan subur karena sensasi dan viralitas,” jelas Prof. Rian Hidayat, sosiolog Universitas Gadjah Mada. “Untungnya, arus utama sudah bergerak menuju model yang lebih progresif.”
Pergeseran ke Model Medis dan Sosial
Secara historis, pemikiran tentang disabilitas telah berevolusi melalui tiga fase utama. Model primitif melihat difabel sebagai sesuatu yang memalukan. Kemudian, model medis muncul dan menempatkan disabilitas sebagai kondisi klinis yang harus “disembuhkan” atau “dinormalisasi”. Sayangnya, model ini masih berfokus pada kekurangan individu, bukan pada lingkungan yang menciptakan hambatan.
Puncak perubahan terjadi dengan munculnya model sosial. Model ini menegaskan bahwa disabilitas bukan semata-mata cacat fisik atau mental, melainkan hasil dari hambatan yang diciptakan masyarakat: gedung tanpa ramp, materi pembelajaran yang tidak aksesibel, hingga stigma seperti yang dilakukan @violettaaxandrea.
“Model sosial mengajarkan kita bahwa yang perlu direparasi bukan tubuh difabelnya, melainkan sikap dan infrastruktur sosial kita. Olok-olok di TikTok itu contoh konkret hambatan sikap yang menyakitkan dan merugikan,” ujar aktivis hak disabilitas, Sari Indah.
Dampak Konten Negatif dan Perlunya Edukasi
Para psikolog mengingatkan bahwa paparan konten ableis dapat menurunkan harga diri difabel, memperparah isolasi sosial, dan memperkuat stigma negatif di kalangan anak muda. Sebaliknya, representasi yang inklusif mampu mendorong partisipasi aktif para difabel dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan publik.
YDII kini menggalakkan kampanye #StopAbleisme dengan menggandeng kreator konten yang difabel untuk menampilkan narasi positif. Selain itu, mereka meminta platform digital untuk mengintegrasikan pelatihan anti-diskriminasi ke dalam sistem unggah konten. “Perubahan paradigma harus dijemput dengan kolaborasi semua pihak, termasuk kreator yang punya pengaruh besar,” pungkas Dian.
[SOCIAL_TWEET]: Yayasan disabilitas kecam kreator TikTok yang cemooh difabel. Tindakan ini cerminan paradigma primitif yang harus ditinggalkan. Saatnya bergerak ke model sosial yang inklusif. #StopAbleisme #DisabilitasBerdaya #TikTokBeradab[SOCIAL_TG]: 🔥 Yayasan disabilitas murka! Kreator TikTok cemooh difabel, disebut cerminan paradigma kuno. Model sosial jadi solusi. Baca selengkapnya.
Comments (0)