Sugita Esadora Ungkap Tantangan Dampingi Jemaah Disabilitas di Makkah

Makkah, 16 Mei 2026 — Di tengah hiruk-pikuk jutaan jemaah haji dunia yang memadati Tanah Suci, ada ribuan jemaah Indonesia yang memerlukan perhatian istime

Sugita Esadora Ungkap Tantangan Dampingi Jemaah Disabilitas di Makkah

Makkah, 16 Mei 2026 — Di tengah hiruk-pikuk jutaan jemaah haji dunia yang memadati Tanah Suci, ada ribuan jemaah Indonesia yang memerlukan perhatian istimewa: para lansia dan penyandang disabilitas. Di Sektor 10 Daerah Kerja (Daker) Makkah, Koordinator Layanan Lansia dan Disabilitas, Sugita Esadora, mendedikasikan dirinya sepenuh hati untuk memastikan mereka dapat menunaikan ibadah dengan aman dan khusyuk. Liputan6.com/Asnida Riani dari Media Center Haji 2026 menemuinya di sela kesibukan yang tak pernah sepi.

Realitas yang Tak Kasat Mata: Jumlah Jemaah Disabilitas Terus Meningkat

Tahun ini, Kementerian Agama mencatat setidaknya 4.500 jemaah haji Indonesia memiliki keterbatasan fisik, sensorik, atau kognitif. Angka ini melonjak hampir 15 persen dibanding musim haji sebelumnya, seiring dengan dominasi kuota jemaah lanjut usia yang otomatis membawa risiko disabilitas akibat penuaan. Sugita, yang telah tiga musim bertugas, mengatakan bahwa Sektor 10 sendiri menaungi lebih dari 300 jemaah disabilitas dengan ragam kebutuhan: tunanetra, tunarungu, tunadaksa, hingga gangguan mental ringan.

Tantangan terbesar bukan sekadar jumlah, melainkan kompleksitas mobilitas dan komunikasi. Layanan di Masjidil Haram, Mina, dan Arafah menuntut strategi berbeda-beda. ”

Di Arafah, jemaah disabilitas sering panik karena lautan manusia dan cuaca ekstrem. Kami harus punya early warning system yang personal, bukan hanya pengeras suara massal,
” kata Sugita penuh semangat.

"Kami Adalah Mata, Telinga, dan Kaki Mereka"

Sugita menggambarkan timnya sebagai perpanjangan indra bagi jemaah. Untuk jemaah tunanetra, petugas dilatih menjadi pemandu dengan teknik komunikasi verbal deskriptif. Sementara untuk tunarungu, sejumlah relawan dibekali bahasa isyarat dasar dan kartu bantu komunikasi visual. Salah satu inovasi yang dikembangkan tahun ini adalah gelang identitas berwarna khusus dengan kode QR yang terhubung ke data medis dan kontak darurat. ”

Kami ingin setiap jemaah disabilitas merasa dimanusiakan, bukan sekadar diarahkan. Mereka adalah tamu Allah yang mulia,
” ujarnya haru.

Rohani, Suara dari Kegelapan yang Tak Pernah Padam

Di wilayah Aziziyah, Liputan6.com menjumpai Rohani (63), jemaah asal Lombok yang kehilangan penglihatan total sejak usia dua tahun. Dengan tongkat putih di tangan kanan dan tas kecil berisi mushaf Braille, ia menyusuri koridor hotel menuju bus shalawat. ”

Saya tidak bisa melihat Ka’bah dengan mata, tapi hati saya melihatnya lebih terang dari apa pun. Petugas selalu memegang siku saya dan menjelaskan setiap langkah. Saya seperti ikut rombongan malaikat,
” katanya sambil tersenyum.

Rohani adalah potret ketegaran yang menjadi pelecut semangat para petugas. Sugita mengaku selalu terinspirasi oleh jemaah seperti Rohani yang pantang menyerah. Timnya mencatat, jemaah tunanetra cenderung lebih adaptif terhadap rutinitas ibadah karena sudah terbiasa mengandalkan pendengaran dan hafalan doa. Namun, risiko tersesat tetap tinggi saat ritual lempar jumrah yang padat dan dinamis.

Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci

Tak bisa dimungkiri, keberhasilan layanan disabilitas di haji membutuhkan dukungan multisektor. Sugita menjelaskan, koordinasi dengan Masyariq (penyedia layanan lokal Arab Saudi), Tim Kesehatan, Bimbingan Ibadah, serta unsur keamanan berjalan intensif. Setiap hari, briefing pukul 04.00 pagi memetakan prioritas jemaah yang akan didampingi ke Masjidil Haram. Mereka juga menggandeng Ormas dan LSM disabilitas untuk menyusun Standard Operational Procedure (SOP) yang lebih inklusif.

Beberapa titik rawan seperti terowongan Al Mu’aissim dan area Sai yang curam kini dilengkapi rambu taktil dan jalur kursi roda yang lebih lebar. Meski begitu, Sugita mengakui masih ada pekerjaan rumah besar: kurangnya jumlah kursi roda khusus yang sesuai medan dan minimnya toilet aksesibel di Arafah. ”

Kami minta maaf, bagi jemaah yang masih terkendala. Kami terus perbaiki, karena surga bukan hanya untuk yang sempurna fisiknya,
” imbuhnya.

Harapan untuk Musim Haji Mendatang

Menjelang puncak haji, petugas Sektor 10 bersiap siaga 24 jam. Posko disabilitas dilengkapi alat bantu dengar cadangan, baterai kursi roda listrik, serta tim psikolog yang siap menangani gangguan kecemasan. Sugita berharap ke depan, kebijakan afirmatif seperti kuota pendamping khusus bagi setiap jemaah disabilitas berat dapat diwujudkan. Ia juga mendorong pelatihan haji yang lebih personal sebelum keberangkatan, agar calon jemaah lebih percaya diri.

Di sela percakapan, Sugita menyelipkan pesan mendalam: ”

Yang paling berat bukanlah bukit Safa dan Marwah, melainkan hati yang meragukan kemampuan mereka. Tugas kami mengganti keraguan itu dengan keyakinan.

Sementara itu, Rohani telah memasuki bus, wajahnya bersinar di balik kaca jendela. Suaranya lirih, ”Saya ingin pulang membawa oleh-oleh terindah: haji mabrur yang terasa oleh hati tanpa melihat.” Perjuangan mereka, baik petugas maupun jemaah, adalah cerminan bahwa ibadah haji adalah panggilan yang melampaui batas fisik.

[SOCIAL_TWEET]: “Mereka adalah mata, telinga, dan kaki kami.” Kisah haru Sugita Esadora dan Rohani, jemaah tunanetra, buktikan haji inklusif bukan sekadar janji. Lebih dari 4.500 jemaah disabilitas Indonesia ditangani khusus di Makkah. #Haji2026 #DisabilitasMakkah #HajiInklusif[SOCIAL_TG]: 🕋 Lebih dari 4.500 jemaah disabilitas Indonesia tunaikan haji tahun ini. Sugita Esadora, Koordinator Sektor 10 Makkah, ungkap tantangan dan haru mendampingi mereka. Rohani, jemaah tunanetra: “Saya tidak bisa melihat Ka’bah, tapi hati saya melihatnya.” Cerita yang menggetarkan!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User