Menag Nasaruddin Serukan Inklusivitas, Santri Tunarungu Jadi Inspirasi
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya pendidikan agama yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya pendidikan agama yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Seruan itu disampaikan dalam peringatan Malam Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (15/6/2026). Momen ini sekaligus menjadi panggung untuk mengangkat kisah inspiratif para santri tunarungu di Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah, Jakarta, yang sejak 2024 telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk mendalami Al-Quran.
Pidato Menteri Agama di Malam 1 Muharam
Di hadapan ribuan jamaah yang memadati Masjid Istiqlal, Menag Nasaruddin Umar menyampaikan refleksi tahun baru Islam dengan menekankan tiga pilar utama: toleransi, moderasi beragama, dan akses setara terhadap pendidikan keagamaan. Suasana malam itu bertambah khidmat ketika ia secara khusus menyoroti nasib para penyandang disabilitas yang kerap terpinggirkan dari ruang-ruang belajar Al-Quran.
Pendidikan Al-Quran harus menjadi hak setiap Muslim, tanpa memandang kondisi fisik. Kita tidak boleh membiarkan saudara-saudara kita yang tunarungu, tunanetra, atau difabel lainnya tertinggal dalam memahami firman Allah. Saya melihat langsung bagaimana para santri tunarungu di Jakarta mampu menghafal dan mengajarkan Al-Quran dengan bahasa isyarat. Itu adalah bukti bahwa inklusivitas bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang menggetarkan hati,
tegas Menag dalam sambutannya yang disambut gemuruh takbir dari jamaah.
Pidato tersebut disampaikan sekitar pukul 20.30 WIB, tepat setelah salat Isya berjemaah. Menag Nasaruddin hadir bersama sejumlah pejabat Kementerian Agama, tokoh lintas agama, dan perwakilan organisasi penyandang disabilitas yang diundang khusus pada malam bersejarah itu.
Kisah Santri Tunarungu yang Mengharukan
Rujukan Menag pada para santri tunarungu bukanlah tanpa alasan. Sebuah potret yang merekam semangat belajar mengaji di Pondok Pesantren Tahfidz Difabel KH Ahmad Lutfi Fathullah, Jakarta, pada Kamis (21/3/2024), telah menjadi viral dan membuka mata banyak pihak. Dalam foto karya jurnalis Merdeka.com, Arie Basuki, tampak seorang santri penyandang disabilitas tunarungu tengah membimbing seorang anak difabel tunarungu lainnya membaca ayat-ayat suci Al-Quran menggunakan bahasa isyarat.
Peristiwa itu terjadi dalam sesi belajar sore di pesantren yang terletak di kawasan Jakarta Timur. Berikut kronologi singkat yang mengubah wajah pendidikan Al-Quran inklusif di Indonesia:
- Pendirian pesantren inklusif (2022) – KH Ahmad Lutfi Fathullah mendirikan pesantren khusus untuk santri difabel, terutama tunarungu, dengan kurikulum yang menggabungkan metode tahfidz konvensional dan bahasa isyarat Arab.
- Peresmian program beasiswa (awal 2024) – Pesantren membuka beasiswa bagi 50 anak tunarungu dari keluarga prasejahtera untuk belajar mengaji dan menghafal Al-Quran secara gratis.
- Sesi belajar 21 Maret 2024 – Seorang santri senior bernama Ahmad (16 tahun) dengan sabar mengajarkan surat Al-Fatihah kepada adik binaannya, Rizky (9 tahun), menggunakan isyarat tangan yang diadaptasi dari Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan isyarat khusus huruf hijaiyah.
- Publikasi foto oleh Merdeka.com – Foto tersebut menyebar luas di media sosial, memicu dukungan publik dan perhatian pemerintah terhadap perlunya standardisasi kurikulum Al-Quran inklusif.
- Respon Kementerian Agama (2025-2026) – Kemenag mulai merintis program pelatihan guru ngaji isyarat di 10 provinsi dan mengintegrasikan modul disabilitas dalam PPG (Pendidikan Profesi Guru) Madrasah.
Menurut pengasuh pesantren, metode yang digunakan mengombinasikan isyarat visual untuk setiap huruf hijaiyah, ekspresi wajah sebagai penanda tajwid, dan pengulangan berbasis gerakan tangan. Dalam satu tahun, rata-rata santri mampu menghafal 2-3 juz.
Inklusivitas sebagai Arus Utama Kebijakan
Seruan Menag pada malam 1 Muharam 1448 H menandai babak baru kebijakan Kementerian Agama. Sejak 2025, Kemenag telah mengalokasikan Rp 120 miliar untuk program pesantren ramah disabilitas, termasuk pembangunan akses fisik, penyediaan Al-Quran braille, dan pelatihan 5.000 guru ngaji isyarat di seluruh Indonesia. Data Kemenag per Juni 2026 mencatat sudah ada 217 pesantren inklusif yang tersebar di 28 provinsi, naik dari hanya 34 pesantren pada 2023.
Pengamat pendidikan Islam, Dr. Siti Ruhaini, menilai langkah ini sebagai terobosan yang sejalan dengan semangat Maqashid Syariah—menjaga akal dan agama bagi seluruh umat. “Apa yang dilakukan Pondok Pesantren Tahfidz Difabel dan kini diadopsi Kemenag adalah tafsir nyata dari Surah Abasa yang menegur sikap abai terhadap penyandang difabel. Ini kembali ke ruh Al-Quran yang membebaskan,” ujarnya saat dihubungi terpisah.
Di sisi lain, komunitas tunarungu menyambut positif tetapi berharap perhatian tidak berhenti pada seremoni. Ketua Gerakan Disabilitas Muslim Indonesia, Syarifuddin, mengapresiasi pidato Menag namun mengingatkan bahwa akses ke masjid, tafsir isyarat, dan ketersediaan juru bahasa isyarat di kajian publik masih sangat terbatas. “Kami butuh lebih dari sekadar pengakuan, kami butuh sistem yang memastikan setiap masjid ramah difabel,” katanya.
Peringatan Malam Tahun Baru Islam di Masjid Istiqlal pun ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Menag Nasaruddin Umar, diikuti oleh jamaah tunarungu yang menerjemahkan doa tersebut dalam bahasa isyarat di samping mimbar. Sebuah pemandangan yang menjadi simbol kuat bahwa rumah ibadah sejatinya adalah rumah bagi semua.
[SOCIAL_TWEET]: Menag Nasaruddin Umar tegaskan pendidikan Al-Quran inklusif di Malam 1 Muharam. Santri tunarungu di Jakarta jadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tak halangi hafalan Al-Quran. #Inklusivitas #PendidikanAgama #SantriTunarungu[SOCIAL_TG]: 🕌✨ Malam 1 Muharam 1448 H di Masjid Istiqlal: Menag Nasaruddin Umar serukan pendidikan Al-Quran inklusif. Santri tunarungu tunjukkan hafalan 3 juz dengan bahasa isyarat! Kemenag alokasikan Rp120M untuk 217 pesantren difabel.
Comments (0)