Jeddah — Mbah Sarjo Utomo, Jemaah Haji Tunanetra, Menanti Penerbangan Pulang
Jeddah, Arab Saudi — Kursi roda yang didudukinya bergerak perlahan di antara deretan jemaah lain yang sama-sama berbaju ihram. Di Bandara Internasional Kin
Jeddah, Arab Saudi — Kursi roda yang didudukinya bergerak perlahan di antara deretan jemaah lain yang sama-sama berbaju ihram. Di Bandara Internasional King Abdulaziz, Minggu (1/6/2026) pagi, Mbah Sarjo Utomo menunggu dengan sabar. Lelaki berusia 79 tahun itu adalah satu dari 120 jemaah tunanetra Indonesia yang menunaikan ibadah haji tahun ini. Ia akan segera terbang kembali ke Tanah Air bersama 327 jemaah Kloter 42 Embarkasi Surabaya. Meski dunia tampak gelap di matanya, senyumnya merekah setiap kali petugas haji menyapa. “Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Saya bisa menyelesaikan seluruh rukun,” katanya lirih.
Kronologi Kepulangan: Dari Hotel ke Gerbang Keberangkatan
Proses pemulangan jemaah Kloter 42 dimulai sejak subuh. Berikut rangkaian peristiwa yang membawa Mbah Sarjo dan rekan-rekan sekloternya menuju pesawat yang akan membawa mereka pulang.
- Pukul 04.00 WAS — Seluruh jemaah Kloter 42 sudah berkumpul di lobi hotel di kawasan Mahbas Jin, Makkah. Petugas memeriksa paspor, gelang identitas, dan boarding pass. Mbah Sarjo tiba dengan didampingi dua orang pembimbing khusus yang sejak awal perjalanan mendampinginya.
- Pukul 05.15 WAS — Bus Saudi Public Transport Company (SAPTCO) yang akan membawa rombongan ke Jeddah tiba. Mbah Sarjo dibantu naik menggunakan kursi roda lipat yang telah disediakan Kementerian Agama. Jarak tempuh Makkah–Jeddah sekitar 85 kilometer ditempuh dalam 1,5 jam.
- Pukul 06.45 WAS — Rombongan tiba di Terminal Haji Bandara King Abdulaziz. Jemaah tunanetra dan lansia diprioritaskan masuk melalui jalur khusus fast track. Mbah Sarjo langsung digiring ke ruang tunggu keberangkatan tanpa harus antre lama di bagian imigrasi.
- Pukul 08.30 WAS — Proses pengecekan barang bawaan selesai. Mbah Sarjo dan jemaah lain menempati Gate 12 yang telah disiapkan untuk penerbangan Garuda Indonesia nomor GA 977 rute Jeddah–Surabaya. Pesawat dijadwalkan lepas landas pukul 11.20 WAS.
- Pukul 10.00 WAS — Menjelang boarding, petugas kembali memeriksa kondisi kesehatan jemaah. Tekanan darah Mbah Sarjo tercatat 135/85 mmHg, masih dalam batas aman untuk penerbangan jarak jauh selama sembilan jam. Tim medis menyatakan ia layak terbang.
Ibadah Haji di Tengah Keterbatasan
Mbah Sarjo yang berasal dari Desa Ngumpul, Jombang, Jawa Timur, kehilangan penglihatan total sejak lima tahun lalu akibat glaukoma. Namun, hal itu tak menyurutkan tekadnya untuk mendaftar haji pada tahun 2014. Setelah menunggu 12 tahun, akhirnya ia berangkat pada 18 Mei 2026 bersama istri dan anaknya yang juga menjadi jemaah.
Selama di Tanah Suci, ia menjalani setiap ritual dengan bantuan pendamping khusus. Saat tawaf di Masjidil Haram, seorang petugas memandunya sambil terus menggandeng tangan. Ketika sa’i antara Safa dan Marwah, ia menggunakan kursi roda elektrik yang dikendalikan oleh pembimbing. “Petugasnya sangat sabar. Mereka menjelaskan setiap langkah, bahkan membantu saya menyentuh Hajar Aswad,” kenang Mbah Sarjo.
Dukungan Pemerintah untuk Jamaah Berkebutuhan Khusus
Kementerian Agama mencatat, tahun 2026 Indonesia memberangkatkan 228.000 jemaah haji reguler. Dari jumlah itu, sekitar 0,05 persen merupakan penyandang disabilitas netra. Setiap jemaah tunanetra mendapatkan satu pendamping penuh waktu yang merupakan petugas haji profesional, serta bantuan teknis berupa tongkat pintar ber-sensor GPS dan audio guide yang menjelaskan setiap tahapan ibadah secara lisan.
“Ini bagian dari komitmen pemerintah untuk memberikan layanan inklusif,” ujar Kepala Sektor Khusus Disabilitas PPIH Arab Saudi, Ahmad Fauzi, saat dihubungi lewat sambungan telepon. Pihaknya juga menyiapkan layanan khusus di bandara, termasuk kursi roda, jalur prioritas, dan ruang tunggu lansia.
Di tengah suasana bandara yang sibuk dengan ribuan jemaah lain, Mbah Sarjo tampak tenang. Ia menggenggam erat tas kecil berisi air zamzam 5 liter dan sejumlah oleh-oleh kurma untuk sanak saudara. “Kalau sudah sampai rumah, saya mau langsung sujud syukur. Lalu peluk cucu-cucu,” ucapnya haru. Pesawat yang akan membawanya pulang perlahan mulai diparkir di apron, menandakan perjalanan suci ini akan segera berakhir. Bagi Mbah Sarjo, gelap di penglihatan tak pernah menghalangi terang di hati.
Pertanyaan Umum (FAQ)
- Bagaimana prosedur ibadah haji bagi jemaah tunanetra?
Setiap jemaah tunanetra didampingi petugas khusus yang membantu mobilitas dan ritual, termasuk tawaf dan sa’i. Mereka juga dibekali alat bantu seperti tongkat pintar ber-sensor GPS dan audio guide yang menjelaskan setiap tahapan ibadah secara lisan. - Apakah Mbah Sarjo Utomo dapat melaksanakan seluruh rangkaian haji dengan lancar?
Ya. Berkat dukungan tim pembimbing dan medis, Mbah Sarjo berhasil menyelesaikan seluruh rukun haji meskipun dengan keterbatasan penglihatan. Ia mengikuti semua prosesi, mulai dari wukuf di Arafah hingga melempar jumrah, dengan bantuan petugas. - Berapa jumlah jemaah haji tunanetra Indonesia tahun 2026?
Menurut data Kementerian Agama, terdapat sekitar 120 jemaah penyandang tunanetra yang tergabung dalam program haji reguler 2026. Mereka tersebar di berbagai kloter dan mendapatkan layanan khusus dari PPIH.
Comments (0)