# Penyandang Disabilitas Sleman Belajar Biopori dan Kelola Pangan Mandiri

Puluhan penyandang disabilitas di Kabupaten Sleman mengikuti pelatihan pembuatan biopori dan pengelolaan pangan mandiri di halaman rumah. Program yang diin

# Penyandang Disabilitas Sleman Belajar Biopori dan Kelola Pangan Mandiri

Puluhan penyandang disabilitas di Kabupaten Sleman mengikuti pelatihan pembuatan biopori dan pengelolaan pangan mandiri di halaman rumah. Program yang diinisiasi Dinas Sosial Sleman bersama Organisasi Penyandang Disabilitas setempat ini bertujuan membekali peserta dengan keterampilan menjaga lingkungan sekaligus menghasilkan bahan pangan sendiri. Kegiatan digelar di balai desa dan dihadiri oleh 45 peserta dari berbagai jenis disabilitas, ditambah 18 pendamping yang bertugas memastikan aksesibilitas materi. Kepala Dinas Sosial Sleman, Drs. Tri Purnomo, M.Si., menegaskan program ini merupakan bagian dari inklusi difabel dalam gerakan ketahanan pangan nasional. "Mereka bukan objek bantuan, tapi subjek yang bisa berkontribusi dan mandiri," ujarnya saat membuka acara.

Kronologi: Dari Teori ke Praktik Langsung

Rangkaian pelatihan disusun agar peserta penyandang disabilitas dapat mengikuti setiap tahap dengan mudah. Berikut urutan kejadian yang dihimpun dari laporan panitia:

  1. 09.00 – 09.30 WIB: Pembukaan dan Orientasi. Seluruh peserta berkumpul di aula utama. Panitia memastikan penerjemah bahasa isyarat hadir bagi peserta tuli, serta menyediakan kursi roda tambahan dan panduan berhuruf braille. Tri Purnomo menyampaikan sambutan dan menjelaskan target pelatihan: setiap peserta pulang membawa lubang biopori dan rencana tanam pangan keluarga.
  2. 09.30 – 11.00 WIB: Pemaparan Teori Terkait Biopori. Fasilitator dari Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Ana Puspitasari, S.T., memaparkan mekanisme biopori sebagai lubang resapan air yang sekaligus mengubah sampah organik menjadi kompos. Dijelaskan pula jenis tanah di Sleman yang cocok, alat bor tanah sederhana, serta cara mengukur jarak aman dari fondasi bangunan. Peserta dengan disabilitas netra mendapatkan modul audio dan alat peraga taktil berupa model lubang biopori mini.
  3. 11.00 – 12.30 WIB: Praktik Pengeboran Lubang Biopori. Peserta dibagi dalam delapan kelompok, masing-masing dipandu fasilitator. Di halaman belakang balai desa, mereka menggunakan bor berdiameter 10 cm dengan kedalaman rata-rata 100 cm. Bagi peserta berkursi roda, alat bor telah dimodifikasi agar dapat dioperasikan dari posisi duduk. Sampah organik seperti dedaunan dan sisa sayur langsung dimasukkan ke dalam tiga lubang pertama sebagai contoh.
  4. 13.00 – 14.00 WIB: Istirahat dan Makan Siang Bersama. Makanan berasal dari hasil panen pekarangan sendiri, menunya antara lain nasi jagung, sayur bayam, dan ikan lele panggang. Hal ini sengaja dilakukan untuk memberi inspirasi menu mandiri.
  5. 14.00 – 15.30 WIB: Mengelola Pangan Mandiri di Halaman Rumah. Instruktur pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kapanewon Ngaglik menjelaskan teknik vertikultur dan hidroponik sederhana. Peserta diajari menanam kangkung, bayam, cabai, dan tomat ceri dalam polybag dan pipa bekas. Setiap peserta mendapat media tanam, benih, dan panduan bergambar (atau audio). Peserta tunadaksa dibantu pendamping memasang rak vertikal setinggi 120 cm agar mudah dijangkau.
  6. 15.30 – 16.00 WIB: Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut. Setiap kelompok menyusun rencana aksi: satu lubang biopori di rumah masing-masing dan minimal lima jenis tanaman pangan. Dinas Sosial akan memonitor melalui kunjungan dan grup WhatsApp komunitas difabel.

Inklusi Lingkungan: Biopori dan Sayuran di Pekarangan Difabel

Selama ini, penyandang disabilitas seringkali terkendala akses fisik ketika berpartisipasi dalam program lingkungan. Pelatihan ini menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan peralatan adaptif. Bor biopori yang digunakan memiliki tuas panjang dan pegangan karet ergonomis, sehingga peserta dengan keterbatasan genggaman tetap dapat memutar. “Saya tunadaksa tangan kanan, tapi bor ini ringan dan bisa saya putar dengan kiri. Sekarang saya yakin bisa buat sendiri di rumah,” ujar Anggun, salah satu peserta dari Kapanewon Gamping.

Antusiasme juga terlihat dari peserta rungu yang sebelumnya belum pernah mendengar istilah biopori. Dengan visual dan praktik langsung, mereka mampu membuat lubang resapan hanya dalam waktu 25 menit. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa 92 persen peserta mampu membuat biopori secara mandiri tanpa bantuan penuh pendamping.

Mewujudkan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Inklusif

Menteri Sosial dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya transformasi kaum difabel dari penerima manfaat menjadi agen pembangunan. Program Sleman ini sejalan dengan target nasional: membangun 30 juta lubang biopori pada 2025 dan meningkatkan kemandirian pangan 5.000 keluarga difabel. Di tingkat daerah, Dinas Sosial Sleman telah mengalokasikan anggaran Rp 150 juta untuk 2025 guna pelatihan serupa di 17 kapanewon.

Instruktur pertanian, Mulyadi, S.P., menegaskan bahwa pekarangan seluas 2×3 meter saja bisa menghasilkan 20 ikat kangkung tiap dua minggu dan cabai untuk kebutuhan rumah tangga. “Ketika difabel bisa mengelola sendiri, pengeluaran mingguan untuk sayur turun hingga Rp 30.000–50.000. Ini bentuk ketahanan yang paling nyata,” jelasnya. Peserta juga diajari membuat pupuk cair dari sisa biopori sehingga tidak perlu membeli pupuk kimia.

Tantangan dan Dukungan Keberlanjutan

Meski sukses, sejumlah tantangan mengemuka, antara lain keterbatasan lahan di permukiman padat dan kekhawatiran peserta akan konsistensi. Untuk itu, panitia membentuk kelompok-kelompok kecil (Poktan Difabel) yang akan saling mengunjungi dan bertukar hasil panen. Pemerintah Sleman juga menyediakan bantuan bibit gratis selama enam bulan pertama. “Kami akan dampingi terus, jangan sampai lubang biopori terbengkalai atau tanaman mati,” tegas Tri Purnomo.

Replikasi Model di Daerah Lain

Keberhasilan Sleman melibatkan difabel dalam konservasi air dan pangan mengundang perhatian daerah sekitar. Kabupaten Bantul dan Gunungkidul telah mengirim perwakilan untuk studi tiru. Komponen kunci keberhasilan terletak pada modifikasi alat, pendekatan multisensori, dan pendampingan intensif pasca-pelatihan. “Kuncinya adalah membangun sistem, bukan sekadar acara seremonial,” tambah Ana Puspitasari.

FAQ Esensial

[TAGS]: #penyandangdisabilitas, #biopori, #ketahananpangan, #Sleman, #pemberdayaandifabel

[SOCIAL_FB]: "Bukan sekadar seremoni, pelatihan bagi penyandang disabilitas di Sleman ini sungguh mengubah hidup. 45 peserta belajar membuat lubang biopori dengan bor yang telah disesuaikan, lalu menanam sayuran di pekarangan. Dinas Sosial setempat menjanjikan pendampingan hingga panen pertama. Yuk, dukung ketahanan pangan yang benar-benar inklusif. Baca cerita lengkapnya dan sebarkan inspirasi ini! #DifabelBerkarya #SlemanRamahDifabel" [SOCIAL_THREADS]: "Pagi ini aku cerita tentang 45 penyandang disabilitas di Sleman yang belajar biopori dan nanam sayur sendiri. Mereka nggak cuma dengerin teori, tapi langsung pegang bor dan benih. Alatnya dirancang khusus—bor bisa diputar dengan satu tangan, rak tanaman setinggi kursi roda. Hasilnya? 92% bisa buat lubang resapan tanpa bantuan penuh. Sekarang mereka pulang bawa lubang biopori dan rencana tanam. Panen pertama diyakini cukup buat makan keluarga, bahkan sisa dijual ke tetangga. #KemandirianDifabel"

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User