Jateng Juara Umum Peparnas 2024, Tunanetra Sinjai Diabadikan di Madinah

Kiprah gemilang atlet disabilitas Tanah Air kembali mencuri perhatian publik. Dalam gelaran Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024, kontingen Jawa Ten

Jateng Juara Umum Peparnas 2024, Tunanetra Sinjai Diabadikan di Madinah

Kiprah gemilang atlet disabilitas Tanah Air kembali mencuri perhatian publik. Dalam gelaran Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2024, kontingen Jawa Tengah (Jateng) tampil sebagai juara umum setelah mengumpulkan total 406 medali. Capaian ini bukan hanya dominasi angka, melainkan bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tak menyurutkan semangat juang.

Sementara itu, dari ujung timur Indonesia, kabar mengharukan datang dari Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Seorang penyandang disabilitas netra yang dikenal sebagai hafiz dan guru Al-Qur’an, namanya akan diabadikan di kompleks Masjid Nabawi, Madinah. Dua peristiwa ini menjadi potret bahwa difabel Indonesia semakin diperhitungkan, baik di arena olahraga maupun ranah spiritual.

Kejayaan Jateng di Peparnas 2024

Peparnas 2024 yang diselenggarakan di sejumlah venue di Jawa Tengah pada awal November lalu, mempertemukan ribuan atlet difabel dari 34 provinsi. Jawa Tengah tak hanya unggul secara kuantitas medali, tetapi juga menunjukkan kedalaman prestasi di berbagai cabang olahraga. Dari total 406 medali, kontingen tuan rumah mendominasi cabang atletik, renang, dan tenis meja.

Rincian perolehan medali Jateng di Peparnas 2024:

Jenis MedaliJumlah
Emas161
Perak135
Perunggu110
Total406

Berdasarkan data resmi panitia, Jateng menjadi provinsi dengan selisih emas terbanyak dibandingkan peringkat kedua, Jawa Timur, yang mengumpulkan 125 emas. Berikut perbandingan perolehan tiga besar:

ProvinsiEmasPerakPerungguTotal
Jawa Tengah161135110406
Jawa Timur12510887320
Jawa Barat1009585280

Data di atas menunjukkan dominasi Jateng yang tidak hanya unggul total medali, tetapi juga jarak perolehan emas yang cukup lebar dari pesaing terdekatnya. Ketua Kontingen Jateng, Budi Santoso, menyatakan kunci keberhasilan terletak pada pembinaan berkelanjutan. “Kami telah mempersiapkan atlet sejak dua tahun lalu, dengan dukungan fasilitas memadai serta pelatih berlisensi internasional,” ujarnya. Prestasi ini sekaligus memecahkan rekor perolehan medali Jateng pada Peparnas sebelumnya yang hanya meraih 312 medali.

Di balik angka fantastis itu, ada kisah heroik sejumlah atlet. Sebut saja Siti Aminah, peraih tiga emas dari cabang renang yang kehilangan satu kakinya akibat kecelakaan. “Medali ini untuk semua yang percaya bahwa mimpi tidak punya batas,” katanya penuh haru. Cerita seperti Siti merefleksikan bahwa Peparnas bukan sekadar kompetisi, melainkan panggung inklusi.

Pemerintah pusat melalui Kemenpora mengapresiasi capaian ini. Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, dalam sambutannya menekankan bahwa Peparnas merupakan wujud komitmen negara untuk memuliakan difabel. “Kami ingin Indonesia menjadi contoh bagi dunia dalam hal inklusi olahraga,” tegasnya. Hal ini sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan jumlah atlet difabel di ajang ASEAN Para Games berikutnya.

Nama Tunanetra dari Sinjai Menuju Madinah

Jika di Solo raya gemuruh tepuk tangan untuk atlet difabel, di Masjid Nabawi yang suci justru akan terukir nama seorang pria tunanetra asal Sinjai. Pria bernama Abdurrahman Mahmud (75) ini wafat saat menunaikan ibadah umrah pada Oktober 2023. Sejak muda, meski tak bisa melihat, beliau menghafal 30 juz Al-Qur’an dan mengabdikan diri sebagai guru ngaji di kampung halamannya.

Pihak pengelola Masjid Nabawi, seperti dilaporkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel, berencana menempatkan plakat khusus bertuliskan nama Abdurrahman di salah satu sudut perluasan masjid. “Ini sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi almarhum dalam menyebarkan cahaya Al-Qur’an meskipun dalam kegelapan mata,” kata Ketua MUI Sinjai, K.H. Abdul Azis. Proses administrasi tengah berjalan dan diharapkan rampung sebelum Ramadan tahun depan.

Salah satu murid Abdurrahman, H. Syahrul (45), menuturkan bahwa meski tanpa penglihatan, gurunya mampu menyimak bacaan Al-Qur’an murid-muridnya dengan sangat teliti. “Beliau bisa langsung mengoreksi jika ada kesalahan tajwid, hanya lewat pendengaran. Kami sering merinding dibuatnya,” kenang Syahrul. Keteguhan dan keikhlasan Abdurrahman menjadi teladan di desanya, hingga kini ratusan santri binaannya sudah menyebar ke berbagai daerah.

Penghargaan ini menandai pertama kalinya seorang penyandang disabilitas asal Indonesia mendapat tempat khusus di Masjid Nabawi, yang selama ini hanya diberikan kepada tokoh-tokoh besar Islam. Langkah itu sekaligus mengirim pesan kuat bahwa kontribusi spiritual tidak diukur dari kesempurnaan fisik, melainkan dari ketulusan hati dan amal. Kabar dari Sinjai ini pun viral di media sosial dan mendapat respons positif dari berbagai kalangan, termasuk para penyandang disabilitas yang merasa terwakili. Mereka berharap pengakuan serupa bisa menjadi motivasi untuk terus berkarya di berbagai bidang.

Analisis: Merajut Inklusi, Merobohkan Stigma

Dua berita di atas mencerminkan pergeseran signifikan dalam cara masyarakat memandang disabilitas. Menurut pengamat sosial dan pemerhati difabel, Dr. Retno Wulandari, M.Si., “Pencapaian olahraga dan pengakuan religius ini adalah tonggak penting dalam upaya meruntuhkan stigma bahwa penyandang disabilitas adalah kelompok yang lemah dan hanya menjadi objek belas kasihan.”

Secara data, partisipasi difabel di berbagai bidang terus meningkat. Pada Peparnas 2024, jumlah atlet yang berpartisipasi melonjak 22% dibandingkan edisi sebelumnya, mencapai 2.500 atlet. Sementara itu, survei nasional menunjukkan 67% warga menilai bahwa difabel memiliki potensi setara dengan non-difabel jika diberi akses yang sama.

Jateng sebagai etalase pembinaan olahraga difabel, dan penghormatan di Masjid Nabawi bagi tokoh tunanetra, keduanya ibarat dua sisi mata uang: pembuktian bahwa kemampuan tidak ditentukan oleh batasan fisik. Sinergi antara pemerintah, lembaga agama, dan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan cerita-cerita inspiratif semacam ini.

Dengan demikian, dua peristiwa di ujung berbeda ini menjadi suluh bagi perjalanan panjang inklusi di negeri ini. Dari gelanggang olahraga hingga pelataran masjid suci, difabel Indonesia membuktikan bahwa mereka bukan sekadar penerima manfaat, melainkan subyek sejarah yang layak dikenang. Dua kisah ini mengingatkan kita bahwa Indonesia memiliki potensi besar dari kaum difabel yang harus terus didukung, mulai dari penyediaan fasilitas ramah disabilitas hingga afirmasi akses pendidikan dan pekerjaan. Dengan begitu, prestasi seperti yang ditorehkan Jateng di Peparnas maupun pengakuan dunia internasional bagi sosok tunanetra Sinjai akan semakin sering terjadi.

[SOCIAL_TWEET]: Jateng raih 406 medali di Peparnas 2024, sementara nama tunanetra asal Sinjai akan diabadikan di Masjid Nabawi. Dua kisah inspiratif dari #DisabilitasBerprestasi #Peparnas2024 #Sinjai[SOCIAL_TG]: 🏅 Jateng Juara Umum Peparnas 2024 dengan 406 medali. 🕌 Nama tunanetra Sinjai diabadikan di Masjid Nabawi. Dua berita membanggakan hari ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User