Pasangan Disabilitas Indonesia Buktikan Haji Inklusif di Makkah

Langit Makkah sore itu begitu cerah saat Rohmat (56) menggenggam erat tangan istrinya, Masuah (54). Keduanya bukan jemaah haji biasa. Rohmat adalah seorang

Pasangan Disabilitas Indonesia Buktikan Haji Inklusif di Makkah

Langit Makkah sore itu begitu cerah saat Rohmat (56) menggenggam erat tangan istrinya, Masuah (54). Keduanya bukan jemaah haji biasa. Rohmat adalah seorang Tuli, sementara Masuah menyandang disabilitas kognitif yang membuatnya kesulitan memahami instruksi lisan. Hari itu, 16 Mei 2026, pasangan asal Indonesia itu ditemui di kawasan Aziziyah, setelah menyelesaikan rangkaian ibadah umrah wajib yang menjadi bagian perjalanan haji mereka. Senyum sumringah membalut wajah keduanya, seakan ribuan kilometer jarak dan keterbatasan fisik tak pernah menjadi halangan.

Keberhasilan Rohmat dan Masuah beribadah dengan khusyuk di Tanah Suci bukanlah kebetulan. Di baliknya, ada kerja keras pemerintah Indonesia melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang mulai menggencarkan konsep haji ramah disabilitas. Visitasi layanan disabilitas yang digelar di hotel sektor 10 Daerah Kerja (Daker) Makkah pada tanggal yang sama menjadi bukti nyata komitmen itu. Petugas kesehatan, pembimbing ibadah, hingga pengelola akomodasi memastikan setiap sudut hotel bisa diakses dengan mudah oleh jemaah berkebutuhan khusus, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan pendengaran, penglihatan, atau kognitif.

Perjuangan di Tanah Suci

Rohmat dan Masuah berangkat dari embarkasi Jakarta. Sejak awal, keluarga dan pendamping kloter sudah menyiapkan strategi khusus agar keduanya bisa menjalani semua rukun haji dengan sempurna. Komunikasi dengan Rohmat sepenuhnya menggunakan bahasa isyarat. Sementara untuk Masuah, pendamping menggunakan gambar-gambar sederhana agar ia bisa memvisualisasikan tahapan ibadah. "Kami belajar bahwa jemaah seperti Rohmat dan Masuah bukan hanya perlu akses fisik, tapi juga komunikasi yang inklusif," ujar salah satu pendamping kloter saat ditemui di Aziziyah.

Di sektor 10 Daker Makkah, tim visitasi menemui para pengelola hotel untuk mengecek langsung fasilitas seperti kamar mandi ber-pegangan, jalur pemandu bagi tuna netra, serta sistem alarm kebakaran dengan lampu kilat bagi Tuli. Semua itu sudah tersedia dan berfungsi. Namun, Kepala Seksi Layanan Disabilitas PPIH, yang turut serta dalam visitasi itu, menegaskan bahwa standar saja tidak cukup. "Kami ingin jemaah difabel merasa dimanusiakan, bukan sekadar difasilitasi. Setiap petugas hotel wajib paham etika melayani difabel," katanya. Kalimat itu menjadi penegasan bahwa inklusivitas bukan hanya soal infrastruktur, melainkan juga hati.

Layanan Inklusif yang Terus Berkembang

Sejak musim haji 2025, Kementerian Agama mulai menerapkan sistem “pendampingan khusus difabel” di tiap sektor. Pada 2026, program ini diperkuat dengan pelatihan bahasa isyarat untuk petugas akomodasi dan penyiapan menu khusus bagi jemaah dengan kesulitan menelan. Hotel sektor 10 menjadi salah satu percontohan karena memiliki 15 kamar khusus difabel yang dilengkapi tombol panggil darurat otomatis. Visitasi 16 Mei itu juga mengecek kelayakan tempat wudhu yang bisa diakses pengguna kursi roda dan ketersediaan alat bantu dengar di area umum.

Di luar akomodasi, layanan ikut dirasakan langsung oleh Rohmat dan Masuah. Selama di Masjidil Haram, mereka didampingi relawan yang ahli dalam komunikasi visual. Masuah, yang kerap cemas di keramaian, selalu diarahkan ke zona tenang. "Dia merasa aman, jadi ibadahnya lebih tenang," jelas sang pendamping. Keberhasilan pasangan ini menjadi simbol bahwa haji tidak lagi eksklusif. Siapa pun, dengan segala kondisi fisik dan mental, bisa memenuhi panggilan Ilahi.

Harapan ke Depan

Perjalanan Rohmat dan Masuah masih panjang. Mereka akan mengikuti puncak haji di Arafah dan Muzdalifah, di mana layanan disabilitas akan diuji lebih berat. PPIH mengklaim sudah menyiapkan tenda khusus difabel di Arafah, lengkap dengan petugas medis dan penerjemah isyarat. Bagi keluarga di Tanah Air, cerita pasangan ini adalah oase di tengah berita seringnya jemaah difabel terabaikan.

Makkah, sore itu, Rohmat dan Masuah berjalan perlahan meninggalkan hotel sektor 10, setelah proses visitasi. Ia mungkin tak mendengar pujian, dan istrinya mungkin tak sepenuhnya mengerti. Namun dari genggaman tangan mereka, dunia diajarkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk mendekati Yang Maha Sempurna. Inilah wajah baru haji Indonesia: inklusif, manusiawi, dan penuh kasih.

[SOCIAL_TWEET]: Kisah Rohmat (Tuli) & Masuah (disabilitas kognitif) buktikan haji inklusif di Makkah. Pemerintah sediakan penerjemah isyarat, kamar khusus, hingga pendampingan visual. Haji bukan lagi mimpi bagi difabel! #HajiInklusif #DisabilitasBerhaji #Haji2026[SOCIAL_TG]: 🌙🤲 Kisah haru pasangan difabel Indonesia di Tanah Suci. Rohmat (Tuli) dan Masuah (disabilitas kognitif) jalani umrah wajib dengan layanan inklusif. Petugas haji pastikan aksesibilitas di hotel sektor 10 Makkah. Keterbatasan bukan halangan untuk berhaji. #HajiInklusif

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User