Was-was Ancaman Israel, Mojtaba Khamenei Tak Akan Hadiri Pemakaman Ali Khamenei
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dikonfirmasi tidak akan menghadiri prosesi pemakaman ayahnya, mendiang Ali Khamenei. Ketidakhadiran sosok nomor satu di Iran itu didasari oleh pertimbangan
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dikonfirmasi tidak akan menghadiri prosesi pemakaman ayahnya, mendiang Ali Khamenei. Ketidakhadiran sosok nomor satu di Iran itu didasari oleh pertimbangan keamanan yang sangat ketat di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Informasi eksklusif ini pertama kali diungkap oleh perwakilan resmi Mojtaba, Ayatollah Hakim Elahi, dalam sebuah wawancara dengan media internasional. Menurut data yang dihimpun redaksi Beritadua.com, ancaman berkelanjutan yang dilontarkan oleh rezim Israel terhadap para petinggi Republik Islam Iran menjadi alibi utama di balik keputusan sulit tersebut.
"Kehadiran Pemimpin Tertinggi dalam acara terbuka berskala massal seperti pemakaman, dalam situasi ancaman yang begitu nyata, adalah risiko yang tidak bisa kami toleransi. Kami memiliki intelijen kredibel mengenai potensi aksi teror yang menyasar simbol negara," tegas Hakim Elahi dalam pernyataannya yang dikutip Beritadua.com, Kamis (2/7/2026).
Protokol Keamanan Diaktifkan Penuh
Keputusan ini diambil setelah serangkaian insiden sabotase dan pembunuhan yang diduga kuat melibatkan agen intelijen asing di dalam negeri. Laporan yang dirangkum media kami menyebutkan bahwa militer dan Garda Revolusi Iran tengah memberlakukan status siaga tertinggi menjelang prosesi pemakaman Ali Khamenei.
Ali Khamenei, yang tutup usia pada Juni 2026 di usia lanjut, merupakan figur sentral dalam poros perlawanan Tehran. Ketiadaan Mojtaba di prosesi tersebut digadang-gadang akan menimbulkan simbol politik baru, di mana pemimpin saat ini mengedepankan keselamatan struktur komando di atas tradisi seremonial.
Pihak otoritas keamanan Iran belum merilis detail spesifik mengenai sifat ancaman yang dimaksud, namun suasana di ibu kota Tehran dilaporkan mencapai titik kritis dengan penebalan barikade dan patroli udara yang masif. Pengamat intelijen menilai bahwa langkah defensif ini merupakan respons langsung atas retorika keras Tel Aviv yang berulang kali menegaskan haknya untuk melakukan serangan preemtif terhadap infrastruktur nuklir dan hierarki kepemimpinan Iran.
Di sisi geopolitik yang lebih luas, eskalasi ini turut menarik perhatian Beirut. Secara terpisah, pemerintah Lebanon kembali menyuarakan pernyataan keras menolak setiap upaya pencaplokan wilayah oleh militer Israel. Dalam pernyataan resmi yang turut dipantau redaksi Beritadua.com, Lebanon menegaskan tidak akan melepas seinci pun kedaulatan teritorial mereka meskipun Israel bersikukuh tidak akan mundur dari garis perbatasan yang disengketakan.
Comments (0)