Warga Adat dan MASL Gelar Silaturahmi Budaya di Sumedang

SUMEDANG — Warga dan masyarakat adat dari berbagai daerah menggelar silaturahmi bersama Majelis Adat Sumedang Larang (MASL) di Dayeuh Luhur, Kompleks Makam

Jul 08, 2026 - 16:38
0 0

SUMEDANG — Warga dan masyarakat adat dari berbagai daerah menggelar silaturahmi bersama Majelis Adat Sumedang Larang (MASL) di Dayeuh Luhur, Kompleks Makam Keramat Prabu Geusan Ulun, Kabupaten Sumedang. Kegiatan yang mengusung semangat menjaga warisan leluhur ini berlangsung pada Sabtu, 4 Juli 2027, pukul 13.00 WIB hingga sore hari.

Kronologi Pertemuan dan Diskusi Budaya

Rangkaian acara digelar di Saung Gajebo yang berada di dalam kompleks pemakaman bersejarah. Suasana kekeluargaan mewarnai seluruh jalannya pertemuan, tanpa sekat antara pengurus MASL, sesepuh masyarakat adat Sumedang, kuncen (juru pelihara) makam keramat, dan para tamu dari luar daerah.

  1. Sesi pembukaan dan sambutan: Ketua MASL, Susane Febriaty, S.H., membuka pertemuan dengan menekankan peran lembaganya sebagai jembatan penghubung antargenerasi dan antarkomunitas adat. "Kami ingin Majelis Adat Sumedang Larang menjadi jembatan. Temu hari ini bukan hanya soal sejarah, tapi juga tentang bagaimana kita menjaga kekayaan Nusantara bersama-sama. Dari Sumedang untuk Indonesia," ujarnya.
  2. Pemaparan materi utama: Narasumber Pak Tri menyampaikan materi tentang kekayaan Nusantara, mencakup sejarah, budaya, dan potensi kearifan lokal. Peserta dari Bogor, Sukabumi, dan Bandung menyimak dengan antusias.
  3. Sesi diskusi interaktif: Para peserta semakin bersemangat dan aktif bertanya. Topik tentang regenerasi pengetahuan adat dan perlindungan warisan budaya menjadi sorotan utama.
  4. Testimoni peserta: Salah satu peserta dari Bogor menyampaikan apresiasi, "Kami datang jauh-jauh karena ingin belajar langsung di sumbernya. Di sini kami bisa menggali ilmu dari para sesepuh dan mendapatkan pemahaman yang lebih hidup."
  5. Penutup: Kegiatan diakhiri dengan foto bersama dan komitmen untuk terus merawat nilai-nilai leluhur melalui forum serupa di masa depan.

Kehadiran perwakilan dari berbagai daerah menunjukkan bahwa nilai adat dan sejarah Sumedang Larang masih menjadi magnet pemersatu. Diskusi yang berlangsung hangat ini sekaligus menjadi bukti bahwa kearifan lokal tetap relevan di tengah arus modernisasi.

Makna Silaturahmi bagi Masyarakat Adat

Susane Febriaty menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan ruang untuk saling menguatkan identitas budaya. "Temu hari ini menunjukkan bahwa adat bukanlah masa lalu yang beku, melainkan fondasi hidup yang terus berkembang. Kami ingin regenerasi pengetahuan adat berjalan alami dan inklusif," ujarnya. Selain itu, keberadaan kuncen makam keramat sebagai pemangku situs bersejarah memberi bobot tersendiri pada acara ini karena para peserta dapat langsung menyaksikan bukti fisik kebesaran leluhur. Melalui forum ini, MASL menegaskan fungsinya tidak hanya sebagai penjaga tradisi, tetapi juga sebagai inisiator dialog kebudayaan yang merangkul semua pihak tanpa memandang asal daerah atau latar belakang.

Peserta dari Bogor menambahkan bahwa pertemuan semacam ini amat penting untuk mentransfer pengetahuan oral dari generasi tua ke generasi muda. "Kalau bukan kami, siapa lagi yang akan meneruskan cerita-cerita tentang leluhur dan falsafah hidupnya? Silaturahmi seperti ini menghidupkan kembali semangat gotong royong budaya," katanya.

Implikasi dan Harapan ke Depan

Kesuksesan acara di Dayeuh Luhur membuka peluang bagi MASL untuk menginisiasi kegiatan serupa dengan melibatkan lebih banyak komunitas adat di Pulau Jawa maupun luar pulau. Terlebih, lokasi Sumedang yang strategis dan kaya situs sejarah menjadikannya titik temu ideal bagi penggiat budaya. Namun demikian, tantangan pendanaan dan dokumentasi tetap perlu diantisipasi agar setiap diskusi dapat terdokumentasi dengan baik dan bisa diakses oleh generasi selanjutnya. Beberapa peserta mengusulkan pembuatan arsip digital hasil diskusi sebagai langkah konkret pelestarian.

Dari pantauan di lapangan, jajaran pengurus MASL menyambut positif usulan tersebut dan berjanji akan membahasnya dalam rapat internal. Apabila ditindaklanjuti, inisiatif ini bisa menjadi model kolaborasi antara lembaga adat dan teknologi informasi untuk menjaga kekayaan Nusantara secara modern dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User