Aug 25, 2026
Bisnis

Wanita Dukun Raup Rp10 Miliar Lebih, Akui Kenal Orang Dalam Istana

Kasus penipuan bernuansa mistis kembali mencuat di Jakarta, kali ini melibatkan seorang dukun perempuan yang berhasil mengeruk dana puluhan miliar rupiah dari para korbannya. Modus yang digunakan terb...

Wanita Dukun Raup Rp10 Miliar Lebih, Akui Kenal Orang Dalam Istana

Kasus penipuan bernuansa mistis kembali mencuat di Jakarta, kali ini melibatkan seorang dukun perempuan yang berhasil mengeruk dana puluhan miliar rupiah dari para korbannya. Modus yang digunakan terbilang klasik namun tetap ampuh: mengaku mengenal dekat seorang figur kaya raya yang kerap keluar masuk Istana Negara. Kepercayaan yang dibangun atas dasar klaim tersebut membuat sejumlah klien rela merogoh kocek dalam demi ritual, jimat, hingga “investasi spiritual” yang dijanjikan berbuah kekayaan instan. Polisi kini masih mendalami aliran dana tersebut, sementara para korban berharap uang mereka bisa kembali.

Modus Operandi: Klaim Kedekatan dengan Lingkaran Istana

Dukun yang diketahui berinisial M (47) itu membangun reputasinya secara lisan di tengah masyarakat dan melalui media sosial. Ia kerap memamerkan foto-foto bersama seseorang berjas mahal di lokasi-lokasi eksklusif, yang belakangan diakuinya sebagai “horang dekat penguasa” yang memiliki akses langsung ke Istana. Dalam pertemuan tertutup dengan calon korban, M meyakinkan bahwa sang kenalan adalah sosok yang “bolak-balik Istana untuk urusan bisnis negara”, sehingga memiliki kuasa untuk melancarkan proyek atau menaikkan status sosial siapa pun yang mendapat restunya.

Untuk meyakinkan, M meminta bayaran awal puluhan juta rupiah sebagai “biaya administrasi” agar sang misteri bersedia bertemu. Setelah itu, korban diwajibkan membeli benda-benda spiritual seperti batu mustika, keris kecil, atau minyak wangi bertuah dengan harga selangit. Tarif paling tinggi dikenakan untuk ritual “pembukaan jalan rezeki” yang melibatkan sesajen dan meditasi bersama, di mana M berbisik seakan menerima pesan langsung dari alam gaib. Satu korban mengaku telah mentransfer total Rp2,3 miliar secara bertahap dalam kurun waktu enam bulan.

Total Kerugian Korban Capai Miliaran Rupiah

Berdasarkan laporan sementara yang dihimpun kepolisian, kerugian yang dilaporkan sedikitnya 12 korban mencapai Rp10,8 miliar. Para korban berasal dari berbagai latar belakang: pebisnis yang ingin memenangkan tender, ibu rumah tangga yang ingin suaminya sukses, hingga pegawai negeri yang mendambakan promosi cepat. Sebagian besar dari mereka tertarik karena dijanjikan hasil nyata dalam waktu 3-6 bulan. Namun setelah uang diserahkan, janji tinggallah janji.

Satu korban, seorang pengusaha mebel di bilangan Cakung, bercerita bahwa ia diiming-imingi proyek pengadaan barang di sebuah kementerian dengan nilai kontrak Rp15 miliar. Ia diminta menyetor Rp500 juta sebagai dana talangan untuk “membuka kunci” proyek tersebut. Lima bulan berlalu tanpa kepastian, sang dukun selalu beralasan bahwa “pejabatnya sedang sibuk ke luar negeri” atau “ada intrik politik”. Saat korban mulai mencurigai, M malah mengancam akan menutup pintu rezekinya selamanya jika berani protes. Pola intimidasi spiritual ini berhasil membuat banyak korban bungkam hingga akhirnya satu laporan resmi membuka tabir penipuan ini.

Pakar Psikologi: Kenapa Banyak Orang Tertipu?

Fenomena ini menuai sorotan dari psikolog sosial Dr. Ratna Dewi. Menurutnya, kombinasi antara ketidakpastian ekonomi dan keinginan instan membuat masyarakat rentan menjadi korban. “Klaim kedekatan dengan pusat kekuasaan seperti Istana memicu ilusi akses eksklusif, apalagi jika dikaitkan dengan wibawa supranatural. Orang yang sedang dalam tekanan finansial atau ambisi karier tinggi lebih mudah meyakini bahwa ada ‘jalan pintas’ jika ia bisa memenangkan hati seorang ‘orang dalam’ yang sakti,” ujarnya. Selain itu, efek pengakuan dari korban yang sesekali diuntungkan—seperti mendapat proyek kecil secara kebetulan—memperkuat keyakinan bahwa ritual itu bekerja, padahal itu hanyalah rezeki alamiah.

Dr. Ratna menambahkan bahwa figur dukun bukan sekadar penyedia jasa ramal, melainkan dianggap sebagai perantara dunia gaib yang tak tertandingi. Ketika dukun menyebut nama Istana, otoritas simbolik negara seolah melekat pada dirinya, menciptakan ilusi kredibilitas ganda: spiritual dan politik. Hal ini diperburuk oleh budaya “ewuh pakewuh” alias sungkan yang membuat korban enggan melakukan cek silang. “Mereka takut dianggap tidak percaya dan nantinya kualat. Ini adalah eksploitasi psikologis yang sangat cerdik,” tegasnya.

Pentingnya Verifikasi dan Kehati-hatian

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa klaim akses ke pusat kekuasaan harus selalu diverifikasi secara faktual, bukan berdasarkan bukti sepihak. Otoritas menyarankan masyarakat untuk segera melaporkan segala bentuk penawaran jasa spiritual yang mencurigakan, terutama jika melibatkan imbalan finansial besar. Selain itu, edukasi literasi keuangan dan pemahaman dasar mengenai mekanisme proyek pemerintah perlu digencarkan agar publik tidak mudah terbuai iming-iming “orang dalam”.

Sementara itu, M kini mendekam di sel tahanan dan terancam pasal penipuan serta penggelapan dengan hukuman maksimal 12 tahun penjara. Penyidik masih melacak aset yang diduga dibeli dari hasil kejahatan, termasuk dua unit apartemen dan mobil mewah di kawasan Jakarta Pusat. Publik diharapkan tidak lagi memberikan celah bagi para penipu yang memanfaatkan kepercayaan terhadap hal mistis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User