Aug 25, 2026
Bisnis

Sertifikasi Halal: Kunci Sukses Cheese Stick BUNCY di Tengah Pandemi

Di tengah masih segarnya ingatan akan hantaman ekonomi akibat pandemi Covid-19, sejumlah usaha mikro justru menemukan celah untuk tumbuh. Salah satunya adalah lini bisnis kuliner rumahan yang memanfaa...

Sertifikasi Halal: Kunci Sukses Cheese Stick BUNCY di Tengah Pandemi

Di tengah masih segarnya ingatan akan hantaman ekonomi akibat pandemi Covid-19, sejumlah usaha mikro justru menemukan celah untuk tumbuh. Salah satunya adalah lini bisnis kuliner rumahan yang memanfaatkan perubahan gaya konsumsi masyarakat. Lebih dari sekadar bertahan, beberapa di antaranya melesat setelah menerapkan strategi branding yang tepat, yakni dengan mengantongi label jaminan halal resmi. Kisah dari dapur kecil milik Lucy Emilda dan produk cheese stick-nya yang diberi nama BUNCY menjadi gambaran nyata.

Lahir dari Krisis, Berjuang dari Dapur Rumah

Lucy Emilda memulai segalanya saat pandemi memaksa banyak orang untuk beradaptasi secara ekonomi. Kehilangan sebagian sumber pendapatan mendorongnya untuk mencoba peruntungan di bisnis camilan. Cheese stick, makanan ringan dengan cita rasa gurih dan tekstur renyah yang digemari segala usia, menjadi pilihan yang dirasa paling memungkinkan. Dengan modal terbatas, ia memproduksi sendiri di dapur rumah, dibantu anggota keluarga, lalu memasarkan produknya melalui media sosial dan jaringan pertemanan. Respons awal dari lingkungan terdekat cukup menggembirakan, membuat Lucy yakin bahwa usahanya punya potensi untuk berkembang.

Sayangnya, perjalanan memperbesar skala usaha tidak semulus yang dibayangkan. Setelah beberapa bulan, Lucy mulai menabrak tembok yang menjadi kendala klasik pelaku usaha mikro: keterbatasan akses pasar yang lebih luas. Setiap kali mencoba menawarkan ke toko-toko atau calon reseller, pertanyaan pertama yang muncul hampir selalu sama: “Apakah produknya sudah bersertifikat halal?” Tanpa label resmi dari badan berwenang, banyak pihak enggan mengambil risiko. Kesadaran konsumen Muslim yang semakin tinggi terhadap aspek kehalalan menjadi tantangan serius sekaligus peluang yang belum mampu dimanfaatkan sepenuhnya.

Intervensi Program Pendampingan dan Sertifikasi

Jalan keluar datang dari sebuah inisiatif yang tidak diduga. BRI Peduli—program tanggung jawab sosial PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk—menggelar pelatihan dan pendampingan sertifikasi halal yang menyasar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah. Program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan dan biaya yang selama ini menjadi momok bagi para pelaku usaha kecil. Lucy tanpa ragu mendaftarkan diri untuk mengikuti rangkaian kegiatannya.

Selama pelatihan, ia dibekali pemahaman menyeluruh mulai dari pemilihan bahan baku yang terjamin status kehalalannya, prosedur menjaga kebersihan dan higienitas dalam proses produksi, hingga tata cara dokumentasi dan pengajuan ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Bimbingan yang diterima sangat detail dan membuka mata Lucy bahwa banyak aspek yang selama ini hanya dipahami secara permukaan. Setelah melalui tahap verifikasi dan audit, produk cheese stick BUNCY akhirnya resmi memperoleh sertifikat halal yang diakui secara nasional. Momen itu menjadi titik balik perjalanan usahanya.

Pengalaman Lucy sejalan dengan data lapangan yang menunjukkan bahwa salah satu hambatan terbesar UMKM untuk mendapatkan label halal adalah persepsi soal kerumitan dan biaya. Dengan adanya pendampingan terstruktur, hambatan psikologis dan teknis tersebut bisa diurai. Inisiatif seperti BRI Peduli berperan penting dalam mempercepat target nasional untuk memperbanyak produk UMKM bersertifikat halal, yang pada gilirannya akan memperkuat fondasi ekonomi syariah di Tanah Air.

Kepercayaan Meningkat, Omzet Melonjak Tajam

Dampak dari kehadiran label halal resmi pada kemasan cheese stick BUNCY langsung terasa dalam waktu singkat. Kepercayaan konsumen praktis melonjak. Tidak hanya pembeli perseorangan yang bertambah, sejumlah minimarket lokal dan toko oleh-oleh mulai bersedia menitipkan produk tersebut. Para reseller pun lebih percaya diri untuk mempromosikan BUNCY ke jaringan mereka sendiri. Hasilnya, omzet bulanan yang semula berkisar Rp5 juta, secara bertahap meroket hingga menembus angka Rp18 juta dalam tempo enam bulan pasca sertifikasi. Pertumbuhan lebih dari tiga kali lipat itu membuktikan bahwa sertifikasi bukan sekadar formalitas, melainkan pendorong bisnis yang konkret.

Tak hanya dari sisi penjualan, sertifikat halal juga membukakan pintu ke berbagai kesempatan yang sebelumnya tertutup. Lucy kini bisa mengikuti pameran produk UMKM yang hampir selalu mensyaratkan label halal sebagai tiket masuk. Kemasan yang kini dilengkapi logo halal menambah persepsi profesionalisme di mata konsumen. Pasar BUNCY pun meluas ke kota-kota sekitar, tidak lagi terbatas pada komunitas terdekat. Lucy bahkan mulai bersiap menambah varian rasa serta memperbaiki desain kemasan untuk bersaing di jenjang yang lebih tinggi.

Pelajaran Berharga bagi Ekosistem UMKM

Kisah cheese stick BUNCY adalah cerminan dari potensi besar yang tersimpan dalam UMKM Indonesia apabila didukung oleh instrumen yang tepat. Sertifikasi halal bukan hanya sekadar pemenuhan regulasi, melainkan alat strategis untuk membangun kepercayaan, memperlebar jangkauan pasar, dan mendorong peningkatan kualitas produk. Di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, label halal menjadi aset pemasaran yang nilainya tidak bisa diabaikan. Laporan Indonesia Halal Economy Report mencatat pertumbuhan konsumsi produk halal domestik berkisar 5–6 persen per tahun, angka yang menunjukkan bahwa pasar masih sangat terbuka lebar.

Ke depan, kolaborasi antara korporasi, pemerintah, dan pelaku UMKM seperti yang dicontohkan oleh program BRI Peduli harus terus diperkuat. Pemerintah sendiri menargetkan jutaan sertifikasi halal baru dalam beberapa tahun mendatang, dan target itu hanya dapat dicapai dengan partisipasi aktif semua pihak. Bagi Lucy Emilda dan para pelaku UMKM lainnya, pengalaman ini menegaskan bahwa keterbatasan modal dan skala bukanlah akhir dari segalanya. Ketika kemauan untuk naik kelas bertemu dengan program yang memberdayakan, usaha sekecil apa pun memiliki peluang untuk bertahan, tumbuh, dan bahkan memimpin di segmen pasar yang digelutinya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User