Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per semester pertama 2026, kontribusi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional masih berada di kisaran 61 persen, dengan serapan tenaga kerja sekitar 97 persen dari total angkatan kerja. Meski demikian, di balik angka itu tersimpan pekerjaan rumah besar: hanya sebagian kecil dari sekitar 66 juta unit usaha yang mampu menjangkau pasar luar negeri. Kisah PT WWA Andik Sukses, perusahaan di balik merek Visang, menjadi salah satu contoh bagaimana pendampingan Rumah BUMN BRI mendorong pelaku usaha kelas menengah melangkah ke Malaysia dan Hong Kong.
Bagi pembaca awam, PDB adalah total nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam satu periode. Adapun Rumah BUMN adalah pusat pelatihan dan inkubasi yang digagas Kementerian BUMN bersama badan usaha milik negara, dalam hal ini BRI, untuk membina UMKM dari hulu ke hilir.
Rumah BUMN, dari Pelatihan ke Panggung Ekspor
Melalui Rumah BUMN, pelaku usaha mendapatkan pendampingan berjenjang: perbaikan kemasan, pengurusan legalitas, standarisasi mutu produk, hingga koneksi dengan calon pembeli di luar negeri. Visang menempuh proses kurasi yang panjang sebelum akhirnya diterima distributor di Malaysia dan Hong Kong. Kurasi sendiri dapat dipahami sebagai seleksi ketat untuk memastikan kualitas, sertifikasi, dan daya saing produk di pasar tujuan.
“Kami tidak hanya menyediakan pelatihan, tetapi juga membuka akses pasar melalui pameran dagang, business matching, dan pendampingan ekspor yang berkelanjutan,” demikian pernyataan BRI dalam keterangan resminya.
Keberhasilan Visang menembus dua pasar tersebut bertepatan dengan tren penguatan ekspor nonmigas Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total ekspor nasional tahun lalu berada di sekitar USD 264 miliar, dan Malaysia serta Hong Kong termasuk dalam jajaran mitra dagang utama. Kendati demikian, kontribusi nilai ekspor UMKM terhadap total ekspor nasional baru mencapai sekitar 15,6 persen — sebuah angka yang menurut ekonom masih jauh dari potensi.
Di Satu Sisi Sukses, Di Sisi Lain Masih Banyak Pekerjaan Rumah
Di satu sisi, kisah Visang membuktikan bahwa pendampingan terstruktur mampu mengubah UMKM lokal menjadi pemain ekspor. Model binaan seperti Rumah BUMN mengurangi risiko kegagalan dengan menyediakan mentor, akses pembiayaan, dan jaringan pembeli sekaligus. Dampaknya terlihat pada kualitas produk yang meningkat dan harga jual yang lebih baik, karena produk ekspor umumnya memperoleh valuasi lebih tinggi dibandingkan penjualan domestik. Valuasi, dalam konteks ini, adalah penilaian terhadap nilai jual sebuah produk di mata pasar.
Di sisi lain, skala keberhasilan semacam ini masih terbatas. Data berbagai lembaga menunjukkan kurang dari dua persen UMKM Indonesia yang melakukan ekspor secara langsung. Hambatan yang paling sering disebut adalah biaya logistik yang tinggi, sertifikasi halal dan SNI yang belum merata, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta keterbatasan modal kerja. Rasio — yaitu perbandingan antara nilai ekspor UMKM dan total ekspor nasional — yang baru menyentuh belasan persen menandakan bahwa mayoritas produk UMKM masih berputar di pasar domestik.
“Dari sisi fundamental, pertumbuhan ekspor UMKM sangat tergantung pada kesiapan logistik dan pembiayaan. Tanpa keduanya, program pendampingan hanya akan menjangkau sebagian kecil pelaku usaha,” ujar seorang ekonom yang memantau sektor UMKM kepada Beritadua.
Proyeksi ke Depan: Fundamental Harus Ikut Naik Kelas
Ke depan, proyeksi pemerintah menargetkan peningkatan kontribusi ekspor UMKM secara bertahap, antara lain melalui digitalisasi dan perdagangan elektronik lintas negara. Tren ini mendapat angin segar dari likuiditas perbankan yang masih longgar; BRI sendiri menyalurkan porsi kredit UMKM yang mencapai sekitar 80 persen dari total portofolio kreditnya. Portofolio adalah kumpulan pinjaman yang dimiliki bank, sementara likuiditas adalah kemampuan lembaga keuangan menyediakan dana tunai. Keduanya menjadi penentu seberapa cepat UMKM memperoleh pembiayaan untuk ekspansi.
Catatan lain datang dari perbandingan year-on-year, yaitu pertumbuhan yang dihitung terhadap periode yang sama tahun sebelumnya. Beberapa komoditas andalan UMKM mengalami kenaikan permintaan dari kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, yang turut tercermin pada pergerakan indeks harga komoditas global. Namun, sentimen pasar yang bergejolak — mulai dari perlambatan ekonomi mitra dagang hingga pergerakan suku bunga acuan — berpotensi memicu capital outflow, yakni keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik, yang pada akhirnya bisa mengubah arah proyeksi tersebut dalam hitungan kuartal.
Dengan demikian, keberhasilan Visang di Malaysia dan Hong Kong layak diapresiasi, tetapi tidak boleh dibaca sebagai tren tunggal. Ia adalah bukti bahwa kombinasi pendampingan, pembiayaan, dan akses pasar bekerja; sekaligus pengingat bahwa mayoritas UMKM masih menunggu kesempatan serupa. Jika infrastruktur pendukung seperti logistik, sertifikasi, dan pembiayaan ikut naik kelas, proyeksi kontribusi ekspor UMKM bukan sekadar angka, melainkan arah baru bagi perekonomian nasional.
Comments (0)