Aug 25, 2026
Bisnis

Kapur Barus dari Barus: Warisan Dagang yang Disebut dalam Al-Qur'an

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia sepanjang 2024 mencapai sekitar 264 miliar dolar AS, dengan andil besar dari komoditas sumber daya alam. Namun jauh sebelum sawit d...

Kapur Barus dari Barus: Warisan Dagang yang Disebut dalam Al-Qur'an

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia sepanjang 2024 mencapai sekitar 264 miliar dolar AS, dengan andil besar dari komoditas sumber daya alam. Namun jauh sebelum sawit dan nikel menjadi primadona, ada satu komoditas yang membuat nama Nusantara harum di pasar dunia: kapur barus. Benda yang dikenal pula dengan sebutan kafur ini bahkan disebut dalam Al-Qur'an pada Surah Al-Insan ayat 5, menjadikannya salah satu dari sedikit produk Nusantara yang terekam dalam kitab suci. Yang menarik, pusat produksinya berada di Barus, sebuah kota kecil di pesisir barat Sumatra Utara yang pada masanya menjadi salah satu bandar dagang paling ramai di dunia.

Jejak Dagang: Ketika Kapur Barus Setara Emas

Kafur diperoleh dari kristal getah pohon Dryobalanops aromatica yang hanya tumbuh di hutan tropis Sumatra. Catatan geografer Arab seperti Al-Mas'udi pada abad ke-10 Masehi menyebut "al-kafur al-fanfuri", merujuk pada Fansur, nama kuno Barus. Pada puncak kejayaannya, kapur barus dihargai setara, bahkan lebih mahal dari emas per satuan berat, karena pasokannya sangat terbatas. Pedagang Arab, Persia, India, dan Cina menempuh ribuan kilometer untuk mengangkutnya, dan Barus telah tercatat sebagai pusat perdagangan sejak abad kedua Masehi dalam peta Ptolemaeus.

Bagi pembaca awam, kapur barus dikenal sebagai kamper pengusir ngengat. Namun pada masa lalu fungsinya jauh lebih luas: bahan pengawet, campuran obat, hingga wewangian istana. Permintaan yang tinggi membuat harganya mengalami kenaikan berlipat setiap kali musim angin membawa kapal dagang tiba. Dari sinilah lahir fundamental ekonomi maritim: sebuah kota pelabuhan yang hidup dari arus barang, likuiditas, dan jaringan dagang antar samudra, jauh sebelum kata "globalisasi" dikenal.

Dua Sisi Warisan: Kebanggaan Sejarah versus Ekonomi Kini

Di satu sisi, warisan ini adalah aset tak ternilai. Kompleks makam Mahligai di Barus dengan batu nisan berangka 691 Hijriah atau sekitar 1292 Masehi diyakini sebagai salah satu bukti keberadaan komunitas Muslim tertua di Asia Tenggara. Artinya, pedagang Arab tidak hanya membawa kapur barus dan rempah, tetapi juga menyebarkan Islam melalui rute dagang — proses yang berlangsung berabad-abad. Kini potensinya menjelma menjadi wisata sejarah dan religi; tren wisata halal yang tumbuh di Asia Tenggara membuka peluang baru bagi kawasan seperti Barus.

Di sisi lain, secara komersial kapur barus alami nyaris kehilangan pasar. Kebutuhan kamper dunia hampir seluruhnya dipenuhi kapur barus sintetis dari minyak terpentin dengan harga jauh lebih murah dan pasokan melimpah. Produksi alami kini bertahan hanya di ceruk kecil, seperti bahan ritual dan obat tradisional. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) Sumatra Utara tidak signifikan dibandingkan sawit, karet, atau pariwisata Danau Toba. Rasio nilai ekonomi warisan sejarah terhadap pendapatan asli daerah pun masih minim.

"Barus adalah contoh bagaimana komoditas kecil mampu menggerakkan peradaban besar. Tantangan hari ini adalah menerjemahkan warisan itu menjadi nilai ekonomi, bukan sekadar narasi museum," ujar seorang peneliti sejarah maritim di Sumatra Utara.

Proyeksi: Pro dan Kontra Pengembangan Barus

Pro: Pengembangan kawasan wisata religi Barus berpotensi memberi nilai tambah nyata bagi ekonomi lokal. Jumlah wisatawan mancanegara dari Timur Tengah ke Indonesia mengalami kenaikan year-on-year dan menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat dalam beberapa tahun terakhir. Jika infrastruktur pelabuhan dan akses jalan diperbaiki, Barus dapat masuk dalam portofolio destinasi wisata halal nasional dan bersaing sebagai tujuan ziarah tingkat dunia.

Kontra: Tanpa studi kelayakan yang matang, risiko pembangunan berlebihan cukup besar. Fasilitas yang dipasok dari luar daerah justru dapat memicu capital outflow, ketika belanja wisatawan mengalir keluar dari Barus. Valuasi potensi wisata religi juga rawan dilebih-lebihkan, sementara fundamental pendukung seperti kebersihan, transportasi, dan keamanan masih perlu perbaikan serius.

Kafur, Ekonomi Halal, dan Posisi Indonesia

Kisah kafur mengingatkan bahwa Indonesia adalah bagian dari jejaring ekonomi Islam sedunia sejak berabad-abad lalu. Pasar halal global kini diperkirakan bernilai sekitar 2,8 triliun dolar AS, dengan Indonesia menempati peringkat ketiga dalam indeks ekonomi Islam global dan menjadi pasar makanan halal terbesar di dunia. Sentimen pasar terhadap produk berbasis warisan budaya Islam pun mengalami kenaikan seiring pertumbuhan kelas menengah Muslim.

Proyeksi ke depan, nilai strategis Barus bukan lagi terletak pada kapur barusnya, melainkan pada identitasnya sebagai simpul sejarah yang menghubungkan Nusantara dengan dunia Arab. Namun tanpa data, riset, dan komitmen serius, kejayaan itu akan tetap menjadi catatan lama — sementara negara lain yang warisan sejarahnya lebih muda justru berhasil mengkomersialkannya lebih dulu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User