Oct 13, 2026
Bisnis

UMKM Lombok Unjuk Gigi di Panggung Global MotoGP Mandalika

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2024, penyelenggaraan MotoGP Mandalika tercatat mendatangkan lebih dari 100 ribu penonton dalam satu gelaran, dengan estimasi pe...

UMKM Lombok Unjuk Gigi di Panggung Global MotoGP Mandalika

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2024, penyelenggaraan MotoGP Mandalika tercatat mendatangkan lebih dari 100 ribu penonton dalam satu gelaran, dengan estimasi perputaran ekonomi mencapai Rp 4,5 triliun. Angka ini menjadikan ajang balap internasional tersebut bukan sekadar perhelatan olahraga, melainkan mesin penggerak sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Barat. Pada edisi terbaru, sejumlah produk kerajinan unggulan Lombok tampil sebagai merchandise resmi, sebuah terobosan yang menempatkan karya pengrajin lokal bersanding dengan merek-merek global.

Dari Pinggiran Sirkuit ke Pusat Perhatian

Langkah menghadirkan kerajinan tangan Lombok sebagai merchandise resmi menandai pergeseran strategi hilirisasi produk UMKM. Selama ini, produk kerajinan daerah kerap hanya mengisi lapak pinggiran acara besar tanpa standardisasi kualitas maupun kemasan. Kini, produk seperti tenun khas Sasak, anyaman rotan, dan aksesori berbahan mutiara masuk ke kanal distribusi resmi yang dikelola salah satu perusahaan energi nasional melalui anak usahanya di bidang niaga bahan bakar.

Di satu sisi, kebijakan ini membuka akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau pelaku UMKM. Penonton mancanegara dengan daya beli tinggi menjadi konsumen potensial, sementara eksposur merek meningkat berkat liputan media internasional. Berdasarkan proyeksi Dinas Koperasi dan UMKM NTB, keterlibatan UMKM dalam event berskala global berpotensi menaikkan omzet pelaku usaha hingga 40 persen dibandingkan penjualan bulanan reguler.

Di sisi lain, sejumlah pengamat ekonomi menyoroti tantangan struktural yang belum terselesaikan. Kapasitas produksi pengrajin lokal dinilai belum memadai untuk memenuhi permintaan berskala besar secara konsisten. Selain itu, standar pengemasan dan sertifikasi produk kerap menjadi hambatan ketika berhadapan dengan tuntutan pasar premium.

"UMKM kita punya kualitas artisan yang kuat, tetapi tantangan terbesar adalah kesinambungan pasokan dan standardisasi. Tanpa pendampingan, momentum event besar bisa berlalu tanpa jejak," ujar seorang ekonom pembangunan daerah yang meneliti rantai nilai kerajinan di NTB.

Fundamental Ekonomi di Balik Euforia

Dari perspektif makro, kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto nasional berkisar 61 persen, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 97 persen dari total angkatan kerja. Artinya, setiap intervensi yang berhasil menyambungkan UMKM ke pasar global memiliki efek berganda terhadap penciptaan lapangan kerja dan pengurangan ketimpangan wilayah.

Namun, sentimen pasar pariwisata tidak selalu linier. Tren kunjungan wisatawan ke Lombok menunjukkan pola fluktuatif yang bergantung pada kalender event. Setelah MotoGP berakhir, permintaan merchandise kerajinan berpotensi menurun tajam bila tidak ada kanal penjualan berkelanjutan, baik melalui platform digital maupun ritel tetap.

Likuiditas pelaku UMKM juga menjadi catatan penting. Banyak pengrajin mengandalkan modal kerja terbatas sehingga kesulitan menyerap pesanan dalam jumlah besar sebelum pembayaran diterima. Skema pembayaran bertahap atau pembiayaan rantai pasok menjadi solusi yang kerap dibutuhkan, tetapi belum tentu tersedia bagi usaha skala mikro.

Pro dan Kontra Hilirisasi Produk Daerah

Pro: pelibatan UMKM dalam event global mempercepat transfer pengetahuan, mulai dari standar kualitas, desain kemasan, hingga manajemen pesanan. Kolaborasi dengan perusahaan besar juga memberi legitimasi yang meningkatkan kepercayaan pembeli institusional.

Kontra: tanpa evaluasi dampak yang terukur, program semacam ini berisiko menjadi seremonial belaka. Beberapa pelaku usaha mengeluh keterbatasan kuota dan seleksi yang tidak transparan, sehingga manfaatnya hanya dinikmati segelintir pengrajin mapan.

Valuasi jangka panjang dari inisiatif ini bergantung pada kemampuan membangun ekosistem, bukan sekadar penampilan sesaat. Pemerintah daerah, pelaku industri, dan lembaga pembiayaan perlu menyusun peta jalan yang mencakup pendampingan produksi, akses permodalan, serta pemasaran digital pasca-event. Jika eksekusinya konsisten, bukan tidak mungkin kerajinan Lombok menembus portofolio ekspor yang lebih luas, menyeimbangkan tren capital outflow dengan penguatan produk domestik berdaya saing global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User