Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2024, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Dari angka besar itu, subsektor ekonomi kreatif—termasuk fesyen yang mengangkat warisan budaya—menjadi salah satu penopang yang menarik dicermati. Salah satu contohnya adalah UMKM fesyen yang menjadikan aksara Lontara, sistem tulisan tradisional Bugis-Makassar, sebagai identitas utama produknya.
Ketika Warisan Budaya Menjadi Nilai Tambah Ekonomi
Di satu sisi, langkah menjadikan aksara Lontara sebagai motif dan elemen desain membuka ruang diferensiasi yang sulit ditiru pesaing. Dalam industri fesyen yang sangat kompetitif, keunikan kultural menjadi semacam pembeda yang membangun cerita merek atau brand story. Cerita ini kemudian menjadi daya tarik bagi konsumen yang mencari produk bukan sekadar fungsional, tetapi juga bermakna. Nilai tambah semacam ini kerap disebut sebagai cultural added value, yakni nilai ekonomi yang lahir dari kelekatan tradisi.
Di sisi lain, mengandalkan keunikan budaya saja tidak cukup. Pelaku usaha tetap harus menghadapi persoalan fundamental: manajemen keuangan, akses pasar, rantai pasok bahan baku, hingga literasi digital. Tanpa kemampuan mengelola bisnis yang memadai, produk yang secara estetika kuat bisa berhenti sebagai proyek hobi yang tidak berkelanjutan.
Literasi Manajerial Jadi Titik Kritis
Pengalaman sejumlah pelaku UMKM kriya dan fesyen menunjukkan pola serupa: semangat melestarikan budaya sering kali tidak dibarengi dengan kapasitas tata kelola usaha. Padahal, indikator kesehatan usaha seperti arus kas, margin keuntungan, dan perputaran persediaan bersifat mutlak. Menurut data Bank Indonesia per kuartal III 2024, sekitar 30 persen UMKM masih terkendala akses pembiayaan formal, sementara OJK mencatat tingkat literasi keuangan pelaku usaha mikro berada di bawah rata-rata nasional.
"Banyak perajin hebat secara teknis, tetapi lemah dalam pencatatan dan strategi. Padahal modernisasi usaha tidak menghapus tradisi, justru memperpanjang umurnya," ujar seorang pendamping UMKM dalam sebuah forum pengembangan usaha kreatif.
Karena itu, program pendampingan yang menggabungkan pelatihan manajerial, digitalisasi pemasaran, dan akses pembiayaan menjadi krusial. Kolaborasi dengan lembaga keuangan, termasuk perbankan yang memiliki program khusus UMKM, berperan menyediakan likuiditas sekaligus pendampingan teknis.
Peluang dan Tantangan di Tengah Sentimen Pasar
Pro: permintaan terhadap produk berbasis kearifan lokal cenderung meningkat seiring menguatnya kesadaran konsumen terhadap identitas dan keberlanjutan. Tren year-on-year pada segmen fesyen etnik dan kriya diperkirakan tumbuh dua digit, ditopang kanal e-commerce yang memperluas jangkauan hingga pasar ekspor.
Kontra: volatilitas harga bahan baku, persaingan dengan produk massal berbiaya rendah, serta risiko peniruan desain menjadi tekanan nyata. Belum lagi tantangan menjaga konsistensi kualitas ketika skala produksi naik. Tanpa strategi branding dan perlindungan kekayaan intelektual, keunggulan budaya bisa tergerus.
Dari kacamata valuasi usaha, UMKM seperti ini menyimpan potensi scaling jika mampu merapikan fundamental. Proyeksi ke depan bergantung pada kemampuan mengubah modal budaya menjadi portofolio produk yang berkelanjutan, bukan sekadar sentimen pasar sesaat. Dengan tata kelola yang tertata, pelestarian aksara bukan hanya misi kultural, tetapi juga mesin ekonomi yang menyejahterakan.
Comments (0)