Tragedi Pencetus Pancasila: Terasing, Ditahan, dan Depresi di Hari Tua
Dibalik pancaran sakral Pancasila sebagai falsafah pemersatu bangsa, terselip kisah pilu tentang sang penggagas yang justru terpuruk di masa senja. Soekarno, orator ulung yang merumuskan dasar negara ...
Dibalik pancaran sakral Pancasila sebagai falsafah pemersatu bangsa, terselip kisah pilu tentang sang penggagas yang justru terpuruk di masa senja. Soekarno, orator ulung yang merumuskan dasar negara dalam pidato 1 Juni 1945, pada akhirnya harus menjalani kehidupan penuh keterasingan, sakit, dan tekanan mental yang begitu dalam. Ia yang dulu dikagumi jutaan rakyat, berubah menjadi tahanan istana yang dilupakan sejarah.
Panggung Keagungan yang Runtuh
Soekarno yang dikenal sebagai Bapak Proklamator sekaligus pencetus nama Pancasila, pernah berada di puncak kuasa. Namun, setelah tragedi Gerakan 30 September 1965 dan terbitnya Supersemar pada 11 Maret 1966, peta politik berubah drastis. Soekarno secara perlahan kehilangan kekuasaan, hak-hak politiknya dipangkas, dan akhirnya dinyatakan sebagai “tahanan politik” meskipun tanpa proses pengadilan. Ia tidak lagi bebas bergerak, berpidato, atau berkomunikasi dengan dunia luar layaknya pemimpin besar.
Penjara Emas di Istana Bogor
Sejak tahun 1967, Soekarno menjalani kehidupan dalam pengasingan di Istana Bogor yang megah namun sepi. Istana itu berubah menjadi sangkar emas; kemewahan arsitekturnya kontras dengan kemurungan sang penghuninya. Kunjungan tamu dibatasi ketat, telepon dimonitor, dan aktivitas politiknya dihentikan. Ia hanya ditemani pengawal dan beberapa ajudan setia. Dunia luar yang pernah menantikan tiap ucapannya kini terhalang tembok birokrasi Orde Baru. Dalam sunyi itu, Soekarno kerap mengenang masa kejayaan sambil menulis catatan-catan pribadi yang kelak mengungkap penderitaan batinnya.
Kesehatan fisiknya merosot drastis. Tanpa akses perawatan memadai, penyakit prostatitis yang dideritanya semakin parah. Berat badannya menyusut dari 75 kilogram menjadi hanya sekitar 40 kilogram dalam waktu tiga tahun. Ia sering mengalami kesulitan buang air kecil dan nyeri akut, tetapi penanganannya terbatas karena alasan keamanan dan politik. Kondisi inilah yang semakin mempercepat kemunduran mentalnya.
Depresi yang Melumpuhkan Jiwa
Lebih menyiksa dari sakit fisik adalah luka batin yang dialami Soekarno. Menyaksikan dirinya dipinggirkan oleh rezim yang ia sendiri bentuk, membuatnya jatuh ke jurang depresi berat. Menurut sejumlah saksi sejarah, Soekarno kerap menangis sendirian di kamar, enggan makan, dan berbicara lirih tentang pengkhianatan. Ia merasa tidak berdaya, terasing dari anak-anaknya yang jarang diizinkan mengunjunginya. Istri tercintanya, Ratna Sari Dewi, berada di luar negeri dan tak kunjung pulang. Surat-surat yang ia kirimkan kepada para pemimpin dunia memohon intervensi tak pernah mendapat tanggapan.
“Bapak seperti kehilangan jati diri. Sorot matanya kosong, dan beliau sering bergumam sendiri,” ujar seorang mantan ajudan yang mendampinginya. Depresi itu diperparah oleh rasa bersalah dan kesepian yang menggerogotinya hari demi hari. Rezim yang baru tutup mata terhadap penderitaannya, bahkan ada upaya sistematis untuk menghapus sosoknya dari ingatan kolektif rakyat.
Akhir Hayat yang Sepi di Ruang Perawatan
Pada minggu-minggu terakhir Juni 1970, Soekarno dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto dalam kondisi kritis. Kendati deretan dokter berusaha menstabilkannya, komplikasi penyakit ginjal dan infeksi saluran kemih tak tertolong lagi. Tanggal 21 Juni 1970, Soekarno mengembuskan napas terakhirnya dalam kesendirian yang memilukan. Hanya segelintir keluarga dan sahabat dekat yang berada di sisinya. Berita wafatnya mengguncang publik, tetapi pemakamannya di Blitar digelar secara sederhana, jauh dari kemeriahan upacara kenegaraan yang layak diterima seorang pendiri bangsa.
Ironisnya, Pancasila yang ia gali dan perjuangkan justru terus dijadikan alat legitimasi oleh rezim penggantinya, sementara sang penggagas terbaring lemah tanpa perhatian semestinya. Sejarah mencatat, sosok yang mengukir fondasi Indonesia justru mengalami tamat riwayat yang tragis, memantik refleksi abadi tentang bagaimana bangsa ini memperlakukan para pendirinya.
Comments (0)