Pertamina Peduli Pulihkan Psikologi Anak Korban Gempa NTT lewat Trauma Healing

Berdasarkan data BPS per akhir 2021, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mencatat tingkat kemiskinan sekitar 19,8 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 9,7 persen. Secara...

Aug 23, 2026 - 08:22
0 0
Pertamina Peduli Pulihkan Psikologi Anak Korban Gempa NTT lewat Trauma Healing

Berdasarkan data BPS per akhir 2021, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mencatat tingkat kemiskinan sekitar 19,8 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 9,7 persen. Secara year-on-year, angka tersebut sempat mengalami kenaikan dibandingkan 2020 akibat tekanan pandemi. Fundamental sosial-ekonomi daerah ini kembali diuji setelah BMKG merekam gempa bermagnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah Flores pada 14 Desember 2021, disusul ratusan guncangan susulan dalam beberapa pekan berikutnya. Menanggapi kondisi tersebut, PT Pertamina (Persero) melalui lini sosial Pertamina Peduli menurunkan tim relawan ke lokasi terdampak untuk mendampingi warga, dengan fokus pemulihan fisik sekaligus psikologis, khususnya bagi kelompok anak.

Tekanan Ekonomi Lokal Pasca Bencana

Rangkaian gempa memaksa sejumlah rumah dan fasilitas umum ditinggalkan penduduknya, sehingga roda perekonomian mikro di daerah terdampak melambat. Aktivitas usaha kecil—warung, pasar tradisional, hingga jasa transportasi—mengalami penurunan karena warga memilih berkumpul di titik pengungsian. Di saat yang sama, harga kebutuhan pokok rawan mengalami kenaikan akibat terganggunya rantai pasok antarpulau. Bagi pembaca awam, fenomena ini sederhananya berarti daya beli masyarakat turun sementara biaya hidup naik, kombinasi yang menekan konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang terbesar perekonomian regional NTT.

Dalam kerangka yang lebih luas, tren ini penting dipantau karena pemulihan psikologis warga berpengaruh langsung pada produktivitas. Keluarga yang pulih lebih cepat akan kembali beraktivitas ekonomi lebih cepat pula, sehingga upaya pemulihan nonfisik sesungguhnya juga merupakan investasi terhadap fundamental ekonomi daerah.

Trauma Healing: Memulihkan Keceriaan dari Sisi Psikologis

Salah satu program unggulan tim relawan adalah trauma healing bagi anak-anak. Alih-alih pendekatan klinis yang formal, relawan memilih media yang akrab dengan dunia anak: permainan kelompok, bernyanyi, menggambar, dan sesi bercerita. Relawan Pertamina Peduli menghadirkan beragam aktivitas interaktif agar anak-anak dapat tertawa kembali, bergerak bebas, dan menjalin interaksi positif dengan teman seusiananya.

Dampak bencana pada anak memang sering tidak tampak secara kasat mata. Anak korban gempa umumnya menunjukkan gejala seperti sulit tidur, menempel berlebihan pada orang tua, atau menarik diri dari pergaulan. Kegiatan bermain terstruktur diyakini para praktisi psikologi sebagai pintu masuk paling efektif untuk meredam ketegangan tersebut, karena ekspresi emosi anak bekerja melalui aktivitas, bukan melalui percakapan ala orang dewasa.

Dua Perspektif: Manfaat Nyata dan Catatan Keberlanjutan

Di satu sisi, kehadiran program korporasi seperti ini memberikan napas tambahan bagi pemulihan masyarakat tanpa harus menunggu seluruh proses birokrasi bantuan negara selesai. Dana sosial korporasi memperluas cakupan layanan, dari paket kebutuhan pokok hingga dukungan psikososial, sementara relawan yang telah dilatih mempercepat respons di lapangan. Bagi korporasi, kegiatan semacam ini juga merupakan bagian dari portofolio tanggung jawab sosial yang menopang keberlangsungan operasi bisnis di wilayah tersebut.

Di sisi lain, ada catatan penting yang tidak boleh diabaikan. Trauma healing yang bersifat insidental berisiko berhenti sebagai kegiatan seremonial apabila tidak ditindaklanjuti oleh tenaga profesional, misalnya psikolog klinis atau guru yang terlatih pendampingan trauma. Rasio jumlah relawan terhadap jumlah anak terdampak juga terbatas, padahal kebutuhan pemulihan mental bersifat jangka panjang. Artinya, program korporasi idealnya diposisikan sebagai pemantik awal yang kemudian diserahkan kepada sistem layanan psikososial pemerintah daerah agar dampaknya bertahan lebih lama.

Proyeksi: Fokus pada Pemulihan Berkelanjutan

Ke depan, tahap rekonstruksi fisik diperkirakan justru menjadi stimulus baru bagi perekonomian lokal melalui serapan tenaga kerja dan material bangunan. Namun pemulihan mental tidak memiliki linimasa yang sama. Pengalaman berbagai bencana sebelumnya menunjukkan dampak psikologis dapat bertahan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, apabila tidak dikelola dengan serius. Oleh karena itu, integrasi antara program korporasi, pemerintah kabupaten, dan komunitas psikologi lokal menjadi kunci agar keceriaan anak-anak NTT yang mulai tumbuh kembali hari ini tidak berhenti sebagai momen sesaat, melainkan berlanjut menjadi fondasi regenerasi sumber daya manusia yang sehat di kawasan timur Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User