Berdasarkan data Bank Dunia dan laporan PBB per Oktober 2025, tiga tahun konflik bersenjata di Gaza telah menimbulkan kerugian ekonomi yang luar biasa besar. Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 71,5 miliar dolar AS, atau setara lebih dari Rp1.100 triliun dengan asumsi kurs Rp15.400 per dolar AS. Angka ini menempatkan Gaza sebagai salah satu wilayah dengan kerusakan infrastruktur terparah dalam sejarah modern, melampaui kerusakan pasca-perang di Suriah dan Yaman pada periode yang sama.
Kerugian tersebut tidak hanya mencakup fisik bangunan, tetapi juga hilangnya output ekonomi (lost output), penurunan kapasitas produksi, serta kerugian modal manusia (human capital) yang sulit diukur secara nominal. Bank Dunia mencatat sekitar 92 persen unit perumahan di Gaza mengalami kerusakan sebagian atau total, sementara 88 persen fasilitas kesehatan tidak lagi beroperasi penuh. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di wilayah tersebut diproyeksikan turun ke level terendah sejak 2004, mundur hampir dua dekade.
Fundamental Ekonomi Gaza Sebelum dan Sesudah Konflik
Untuk memahami besarnya dampak, kita perlu melihat kondisi fundamental ekonomi Gaza sebelum eskalasi. Pada 2022, Produk Domestik Bruto (PDB) Gaza diperkirakan sekitar 2,3 miliar dolar AS dengan tingkat pengangguran mencapai 45 persen. Setelah tiga tahun konflik, PDB wilayah tersebut diperkirakan menyusut hingga 85 persen, menjadikannya salah satu kontraksi ekonomi terbesar dalam satu dekade terakhir di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA).
Di satu sisi, kehancuran ini menciptakan kebutuhan rekonstruksi yang sangat besar, yang secara teori dapat menjadi stimulus fiskal jangka panjang jika pendanaan internasional mengalir. Proyeksi Bank Dunia menunjukkan bahwa setiap 1 miliar dolar AS investasi rekonstruksi berpotensi menciptakan sekitar 15.000 hingga 20.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung, terutama di sektor konstruksi, logistik, dan jasa. Ini bisa menjadi titik balik bagi perekonomian Gaza jika dikelola dengan tata kelola yang transparan.
Di sisi lain, realitas politik dan keamanan yang belum stabil membuat capital inflow sangat tidak pasti. Tanpa jaminan keamanan jangka panjang, investor institusi cenderung menahan portofolio mereka, dan bantuan internasional sering kali terserap oleh kebutuhan kemanusiaan darurat ketimbang pembangunan kapasitas produksi. Rasio ketergantungan Gaza terhadap bantuan luar negeri diperkirakan melonjak dari 60 persen sebelum konflik menjadi lebih dari 90 persen saat ini.
Implikasi Regional: Sentimen Pasar dan Likuiditas Kawasan
Dampak ekonomi tidak berhenti di perbatasan Gaza. Kawasan Timur Tengah secara keseluruhan mengalami peningkatan risiko geopolitik yang memengaruhi sentimen pasar. Indeks volatilitas pasar keuangan regional, seperti yang tercermin dari spread obligasi negara-negara tetangga, melebar sekitar 120 basis poin dibandingkan periode pra-konflik. Hal ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi yang lebih luas.
Likuiditas di pasar modal kawasan juga terdampak. Data dari beberapa bursa efek di Timur Tengah menunjukkan capital outflow bersih sebesar 4,7 miliar dolar AS dari portofolio ekuitas asing selama tiga tahun terakhir, meskipun sebagian telah kembali masuk seiring membaiknya kondisi di beberapa negara Teluk. Valuasi perusahaan-perusahaan di sektor energi dan logistik di kawasan tersebut mengalami penurunan rata-rata 8 hingga 12 persen year-on-year, mencerminkan premi risiko yang lebih tinggi.
"Kerugian ekonomi akibat konflik berkepanjangan tidak pernah bersifat linear. Yang paling parah adalah hilangnya kapasitas produktif generasi muda, yang akan terasa selama puluhan tahun," ujar seorang ekonom senior yang tidak ingin disebutkan namanya dalam laporan terbaru Bank Dunia.
Proyeksi Pemulihan dan Tantangan Struktural
Proyeksi pemulihan ekonomi Gaza sangat bergantung pada tiga faktor utama: stabilitas keamanan, aliran bantuan internasional, dan reformasi tata kelola. Dalam skenario optimistis, dengan injeksi dana rekonstruksi sebesar 20 miliar dolar AS selama lima tahun pertama, PDB Gaza dapat tumbuh rata-rata 7 hingga 9 persen per tahun pada dekade berikutnya. Namun, skenario ini memerlukan komitmen politik yang kuat dan mekanisme pengawasan yang akuntabel.
Dalam skenario pesimistis, jika konflik berlanjut atau bantuan tersendat, ekonomi Gaza bisa mengalami stagnasi berkepanjangan dengan tingkat pengangguran bertahan di atas 50 persen hingga 2030. Ini akan menciptakan lingkaran setan kemiskinan yang sulit diputus, serta meningkatkan risiko radikalisasi dan ketidakstabilan sosial yang lebih luas.
Bagi pembaca awam, istilah "kerugian ekonomi" di sini bukan hanya soal uang yang hilang, melainkan hilangnya kesempatan untuk hidup lebih baik: sekolah yang tidak lagi berfungsi, rumah sakit yang tutup, dan pekerjaan yang lenyap. Angka 71,5 miliar dolar AS adalah cerminan dari masa depan yang tertunda bagi jutaan orang. Tanpa perhatian global yang berkelanjutan, biaya kemanusiaan dan ekonomi akan terus bertambah, jauh melampaui angka yang bisa dihitung dalam laporan keuangan mana pun.
Comments (0)