Oct 08, 2026
Bisnis

Tiga Syarat Infrastruktur bagi RI untuk Menjadi Pusat Data Center AI

Berdasarkan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam forum ekonomi terbaru, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi basis data center kecerdasan buatan (AI) d...

Tiga Syarat Infrastruktur bagi RI untuk Menjadi Pusat Data Center AI

Berdasarkan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam forum ekonomi terbaru, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi basis data center kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara. Namun, ambisi tersebut bergantung pada pemenuhan tiga prasyarat fundamental: ketersediaan lahan, pasokan listrik yang stabil, dan akses air yang memadai. Pernyataan ini mencuat di tengah tren global di mana kebutuhan komputasi AI melonjak, dengan proyeksi pertumbuhan pasar data center global mencapai 10,4 persen year-on-year pada 2025 menurut laporan industri terbaru.

Lahan, Listrik, dan Air: Tiga Pilar Infrastruktur yang Menentukan

Di satu sisi, ketiga syarat yang disebutkan Airlangga merupakan fondasi teknis yang tidak bisa ditawar. Data center AI generasi terbaru membutuhkan daya listrik yang sangat besar. Sebagai gambaran, satu fasilitas hyperscale dengan kapasitas 100 megawatt dapat mengonsumsi listrik setara dengan 80.000 rumah tangga. Sementara itu, sistem pendinginan berbasis air memerlukan suplai air bersih yang kontinu, terutama untuk mencegah overheating pada server berperforma tinggi. Lahan yang luas juga krusial, bukan hanya untuk bangunan utama, tetapi juga untuk infrastruktur pendukung seperti gardu induk dan sistem pendingin cadangan.

Di sisi lain, kritik muncul terkait kesiapan Indonesia dalam menyediakan ketiga elemen tersebut secara berkelanjutan. Pengamat energi menilai bahwa pasokan listrik nasional masih didominasi sumber fosil, dengan bauran energi terbarukan baru mencapai sekitar 13,1 persen dari total kapasitas terpasang per akhir 2024. Ketergantungan pada batu bara menimbulkan pertanyaan tentang komitmen dekarbonisasi di sektor data center yang notabene konsumen energi intensif.

"Data center AI bukan sekadar soal bangunan, tetapi soal ekosistem energi dan sumber daya air yang berkelanjutan. Tanpa itu, investasi akan ragu," ujar seorang analis infrastruktur dari lembaga riset independen.

Daya Tarik Investasi dan Sentimen Pasar Global

Dari kacamata investasi, prospek ini menawarkan daya tarik signifikan. Nilai investasi data center di Asia Pasifik diproyeksikan menembus USD 60 miliar pada 2027, naik dari sekitar USD 35 miliar pada 2023. Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa dan penetrasi internet yang terus meningkat, menjadi pasar potensial. Likuiditas pasar modal domestik yang relatif dalam dan valuasi sektor teknologi yang kompetitif turut memperkuat narasi ini.

Namun, sentimen pasar juga diwarnai kekhawatiran akan capital outflow jika iklim investasi dianggap belum kondusif. Rasio elektrifikasi yang tinggi di Jawa memang menjadi nilai plus, tetapi distribusi listrik ke luar Jawa masih menjadi tantangan. Proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik untuk data center diperkirakan mencapai 20-25 persen per tahun hingga 2030, yang menuntut percepatan pembangunan pembangkit dan jaringan transmisi.

Pro dan Kontra: Antara Peluang Ekonomi dan Risiko Lingkungan

Pro: Kehadiran data center AI dapat mendorong transformasi digital, menciptakan lapangan kerja terampil, dan meningkatkan penerimaan negara melalui pajak serta retribusi. Selain itu, transfer teknologi dan peningkatan kapasitas SDM lokal menjadi bonus tersendiri. Pemerintah pun telah menyiapkan insentif fiskal dan kemudahan perizinan untuk sektor ini.

Kontra: Eksploitasi air tanah berlebihan untuk pendinginan berisiko menimbulkan penurunan muka air tanah dan konflik dengan kebutuhan masyarakat. Jejak karbon dari konsumsi listrik fosil juga dapat mencoreng citra keberlanjutan Indonesia di mata investor global yang semakin memperhatikan faktor ESG (Environmental, Social, and Governance).

Ke depan, keseimbangan antara ekspansi infrastruktur dan pelestarian lingkungan akan menjadi penentu. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap proyek data center dilengkapi analisis dampak lingkungan yang ketat, serta mendorong adopsi teknologi pendingin hemat air dan energi terbarukan. Tanpa itu, tiga syarat yang disebut Airlangga berpotensi menjadi bumerang bagi daya saing Indonesia di peta ekonomi digital regional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User