Oct 13, 2026
Bisnis

Telkomsel Buka NextDev Ke-12, Fokus Inovasi AI Startup Lokal

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan industri telekomunikasi per awal 2025, adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia mengalami kenaikan signifika...

Telkomsel Buka NextDev Ke-12, Fokus Inovasi AI Startup Lokal

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital serta laporan industri telekomunikasi per awal 2025, adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia mengalami kenaikan signifikan, dengan proyeksi kontribusi terhadap produk domestik bruto nasional mencapai angka dua digit dalam lima tahun ke depan. Di tengah tren tersebut, Telkomsel resmi membuka program inkubasi NextDev untuk edisi ke-12, sebuah inisiatif yang menyasar perusahaan rintisan atau startup yang mengembangkan inovasi berbasis AI untuk menjawab tantangan sosial dan lingkungan.

Program ini menandai pergeseran fokus dari edisi-edisi sebelumnya yang lebih menekankan solusi digital umum, kini mengarah pada pemanfaatan AI sebagai fundamental teknologi. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong pengembangan ekosistem AI nasional, termasuk penyiapan talenta digital dan infrastruktur komputasi.

Pro: Dorongan bagi Ekosistem Startup dan Talenta Digital

Di satu sisi, keterlibatan operator telekomunikasi besar seperti Telkomsel dalam program inkubasi memberikan sentimen pasar yang positif bagi industri modal ventura dalam negeri. Startup peserta berpotensi memperoleh akses terhadap infrastruktur jaringan, data, dan kanal distribusi yang luas. Dalam konteks ekonomi, hal ini dapat memperbaiki rasio keberhasilan startup tahap awal, yang selama ini menjadi titik lemah dalam portofolio investor lokal.

Menurut sejumlah analis industri, program semacam ini juga membantu mengurangi ketergantungan pada pendanaan asing yang rentan terhadap capital outflow saat terjadi gejolak global. Dengan likuiditas yang disediakan melalui kemitraan korporasi, startup dapat lebih fokus pada pengembangan produk dan valuasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar pendanaan darurat.

"Kolaborasi korporasi dan startup berbasis AI adalah kunci untuk mempercepat transformasi digital yang inklusif," ujar seorang pengamat ekonomi digital dalam sebuah diskusi industri di Jakarta.

Kontra: Tantangan Kesiapan Data dan Kompetensi

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa adopsi AI membutuhkan kesiapan fundamental yang tidak merata. Tingkat literasi digital dan ketersediaan data berkualitas masih terkonsentrasi di wilayah Jawa dan kota-kota besar. Tanpa pemerataan, program inkubasi berisiko hanya menguntungkan segelintir pemain dan memperlebar kesenjangan digital antarwilayah.

Selain itu, biaya komputasi untuk pelatihan model AI masih relatif tinggi, sehingga startup tahap awal menghadapi tekanan biaya operasional. Proyeksi pertumbuhan juga perlu diimbangi dengan kepastian regulasi, terutama terkait perlindungan data pribadi dan etika penggunaan AI. Ketidakpastian aturan dapat menekan sentimen investor dan memperlambat realisasi inovasi.

Proyeksi dan Implikasi bagi Pasar

Mengacu pada tren tiga tahun terakhir, jumlah startup teknologi di Indonesia yang menyatakan fokus pada AI mengalami kenaikan year-on-year, meski masih berada di bawah dua digit persentase dari total startup aktif. Program seperti NextDev dapat menjadi katalis untuk meningkatkan angka tersebut, khususnya pada sektor pertanian, logistik, energi, dan pengelolaan lingkungan.

Dari kacamata makro, keberhasilan program ini akan tercermin pada indikator seperti jumlah produk yang berhasil masuk pasar, penciptaan lapangan kerja digital, serta kontribusi terhadap indeks inovasi nasional. Namun, tolok ukur tersebut baru dapat dievaluasi dalam beberapa tahun ke depan, bukan dalam siklus pendek satu hingga dua kuartal.

Secara keseluruhan, langkah ini mencerminkan strategi diversifikasi operator telekomunikasi yang menghadapi tren penurunan pendapatan layanan legacy. Bagi pembaca awam, sederhananya: perusahaan besar membuka pintu bagi pengembang kecil untuk menciptakan teknologi pintar yang bermanfaat bagi masyarakat. Yang perlu dicermati adalah apakah program ini berlanjut menjadi ekosistem berkelanjutan, atau hanya berhenti sebagai ajang kompetisi tahunan tanpa dampak ekonomi yang terukur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User