Tehran Tolak Sanksi Ekonomi Washington, Peringatan bagi Stabilitas Pasar Global

Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2 persen untuk tahun berjalan, eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Ira...

Aug 23, 2026 - 07:42
0 0
Tehran Tolak Sanksi Ekonomi Washington, Peringatan bagi Stabilitas Pasar Global

Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2 persen untuk tahun berjalan, eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran hadir sebagai salah satu risiko baru yang berpotensi menggerus sentimen pasar. Pemerintah Tehran secara resmi menolak paket sanksi ekonomi terbaru dari Washington, menyebut langkah tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan negara serta penyimpangan dari hukum internasional yang justru berpotensi merusak tatanan ekonomi global.

Akar Masalah: Warisan Penarikan dari Kesepakatan Nuklir

Ketegangan ini bukan fenomena baru. Sejak Amerika Serikat menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)—kesepakatan nuklir multilateral tahun 2015—pada Mei 2018, Washington telah menumpuk lapisan sanksi yang menargetkan sektor energi, perbankan, hingga pelayaran Iran. Dampaknya nyata pada fundamental ekonomi Iran: volume ekspor minyak mentah sempat anjlok dari kisaran 2,5 juta barel per hari pada 2017 menjadi di bawah 400 ribu barel per hari pada 2020.

Data terkini menunjukkan pemulihan parsial, dengan ekspor minyak Iran kembali menembus kisaran 1,4 juta barel per hari, mayoritas mengalir ke pasar Asia dengan diskon harga. Meski demikian, tekanan internal tetap berat. Inflasi Iran tercatat di kisaran 40 persen year-on-year, sementara nilai tukar rial telah terdepresiasi lebih dari 90 persen sejak 2018, mengikis daya beli masyarakat dan mempersempit ruang fiskal pemerintah Tehran.

Dua Sisi Mata Uang: Tekanan Strategis versus Biaya Humaniter

Di satu sisi, pendukung kebijakan sanksi di Washington berargumen bahwa tekanan ekonomi merupakan instrumen diplomasi paling efektif tanpa harus membuka konflik militer. Mereka menilai pembatasan pendapatan devisa dari minyak mampu membatasi kapasitas fiskal Iran dalam membiayai program kontroversialnya, sekaligus memaksa meja negosiasi dibuka kembali dengan posisi tawar yang lebih kuat. Dari sudut pandang ini, sanksi diposisikan sebagai alat penegakan tatanan, bukan pelanggarannya.

Di sisi lain, kritikus—termasuk Tehran sendiri dan sejumlah ekonom internasional—menilai sanksi justru melanggar prinsip kedaulatan dan hukum internasional karena bersifat unilateral, di luar mandat Dewan Keamanan PBB. Beban biayanya jatuh pada masyarakat sipil: akses obat, logistik impor pangan, dan konektivitas perbankan untuk keperluan humaniter ikut terhambat. Lebih jauh, tekanan ini mendorong akselerasi tren de-dollarisasi, di mana Iran, Rusia, dan sejumlah negara berkembang semakin aktif bertransaksi menggunakan mata uang lokal atau skema barter untuk menghindari sistem pembayaran berbasis dolar AS.

Efek Domino ke Pasar Komoditas dan Portofolio

Bagi pasar global, eskalasi sanksi berpotensi menaikkan premi risiko geopolitik pada harga minyak. Brent crude yang bergerak di kisaran 70–80 dolar AS per barel dapat menguji level lebih tinggi apabila arus pasokan dari kawasan Teluk terganggu, mengingat sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz yang berbatasan langsung dengan perairan Iran.

Bagi Indonesia, kanal transmisi dampaknya cukup jelas. Berdasarkan data BPS, Indonesia masih mengimpor minyak mentah beserta produk hilirnya senilai puluhan miliar dolar AS per tahun, sehingga kenaikan harga minyak akan menekan neraca perdagangan dan berpotensi memicu inflasi impor. Bank Indonesia pun perlu waspada terhadap kemungkinan capital outflow dari pasar berkembang apabila indeks dolar AS menguat akibat aversi risiko global. Data OJK mencatat kepemilikan asing di bursa domestik masih signifikan, sehingga pergeseran sentimen pasar dapat cepat tercermin pada pergerakan portofolio dan kondisi likuiditas rupiah.

Proyeksi ke Depan

Ke depan, arah relasi Washington–Tehran akan sangat bergantung pada dua variabel utama: konsistensi penegakan sanksi dan lebar ruang diplomasi yang tersisa. Apabila ketegangan berlanjut, proyeksi pertumbuhan ekonomi global berisiko tertekan di bawah baseline IMF, sementara volatilitas harga komoditas energi akan menjadi tema dominan di pasar. Sebaliknya, jika jalur negosiasi dibuka kembali, valuasi aset berisiko di pasar berkembang berpeluang membaik secara bertahap seiring meredanya premi risiko.

Yang pasti, peringatan Tehran soal kerusakan tatanan global bukan sekadar retorika diplomatik. Dalam ekonomi yang saling terhubung erat, sanksi unilateral selalu meninggalkan jejak ganda: tekanan berat pada negara sasaran, sekaligus biaya efisiensi tambahan bagi rantai pasok dunia. Bagi pelaku industri dan pengelola portofolio, dinamika ini layak dibaca sebagai bagian dari manajemen risiko jangka menengah, bukan sekadar headline harian yang cepat hilang dari ingatan pasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User