Tebas Kritik Dominasi Finansial, Liverpool Gilas Brentford di Liga Inggris

Dua peristiwa yang terpisah oleh jarak hampir satu setengah tahun ternyata memiliki benang merah yang kuat: dominasi finansial Liga Primer Inggris. Pada 16

Tebas Kritik Dominasi Finansial, Liverpool Gilas Brentford di Liga Inggris

Dua peristiwa yang terpisah oleh jarak hampir satu setengah tahun ternyata memiliki benang merah yang kuat: dominasi finansial Liga Primer Inggris. Pada 16 Desember 2024, Presiden La Liga Spanyol, Javier Tebas, berbicara kepada media di Ciudad del Fútbol di Las Rozas dan melontarkan kritik pedas terhadap model keuangan klub-klub Inggris. Lalu, pada 24 Mei 2026, Liverpool asuhan manajer baru mereka tampil perkasa dengan menghancurkan Brentford dalam laga Liga Primer yang mempertontonkan kembali keperkasaan ekonomi klub Merseyside tersebut. Kedua momen ini bukan sekadar kebetulan, melainkan gambaran nyata ketimpangan yang selama ini disuarakan Tebas.

Pernyataan Tebas yang Masih Bergaung

Saat wawancara akhir tahun 2024 itu, Javier Tebas dengan tegas menyebut bahwa Liga Primer telah menjadi “liga para miliarder” yang mengabaikan prinsip keadilan kompetitif. “Mereka terus mendatangkan pemain bintang dengan uang yang tidak masuk akal, sementara liga-liga lain di Eropa harus berjuang menjaga talenta terbaiknya. Ini bukan kompetisi, ini lelang,” ujar Tebas kala itu, seperti dikutip media setempat. Ia bahkan secara spesifik menyoroti kebijakan pembelian pemain muda yang agresif serta gaji selangit yang ditawarkan klub-klub seperti Manchester City dan Liverpool.

Menariknya, kritik Tebas kembali menemukan relevansinya ketika pada deadline day musim panas 2025, Liverpool berhasil mendatangkan dua pemain top dari La Liga dengan nilai transfer yang memecahkan rekor. Sumber di tubuh federasi Spanyol menyebut langkah itu sebagai “penjarahan terstruktur” yang semakin menyulitkan klub-klub Spanyol untuk bersaing di kancah Eropa.

Liverpool vs Brentford: Panggung Mohamed Salah

Di hari yang cerah di Anfield, Liverpool unggul telak dengan skor meyakinkan atas Brentford. Mohamed Salah menjadi bintang lapangan dengan mencetak dua gol dan satu assist, menunjukkan konsistensinya di usia yang tidak lagi muda. Data dari laga tersebut menunjukkan dominasi total: 67% penguasaan bola, 23 tembakan berbanding 3 milik Brentford, dan akurasi operan 89%. Kekuatan finansial The Reds tercermin dari kedalaman skuad yang mampu menurunkan pemain bernilai total hampir €1,2 miliar di lapangan.

Namun, di balik pesta gol itu, statistik yang dihimpun dari Transfermarkt dan laporan keuangan klub menunjukkan kesenjangan yang kian lebar antara tim papan atas dan tim seperti Brentford, yang total nilai skuadnya hanya seperlima dari Liverpool. Hal ini persis seperti yang diprediksikan Tebas: kekuatan uang menciptakan hierarki yang nyaris tak tergoyahkan.

Data Perbandingan: La Liga vs Liga Primer

Untuk melihat lebih jelas kritik Tebas, berikut perbandingan indikator finansial antara La Liga dan Liga Primer berdasarkan data musim 2024–2025:

IndikatorLiga Primer (Inggris)La Liga (Spanyol)
Total pendapatan hak siar per musim€3,8 miliar€1,7 miliar
Rata-rata belanja pemain per klub€220 juta€55 juta
Jumlah pemain dengan gaji >€15 juta/tahun478
Klub milik pemodal global14 dari 204 dari 20
Utang bersih agregat klub (rasio terhadap pendapatan)1,2x2,8x

Data di atas memperlihatkan mengapa Liga Primer begitu mendominasi bursa transfer dan panggung Liga Champions. Meski demikian, utang yang lebih rendah secara rasio justru dimiliki klub Inggris karena pendapatan mereka yang melimpah, sehingga daya beli tetap tinggi tanpa melanggar aturan Financial Fair Play (FFP) versi lama yang sudah direvisi. Inilah yang oleh Tebas dan banyak pengamat disebut sebagai “FFP versi Liga Primer” — celah yang sengaja dipertahankan demi keunggulan kompetitif.

Reaksi dan Proyeksi ke Depan

Kemenangan Liverpool atas Brentford disambut gembira oleh suporter, tetapi bagi pengamat netral, laga tersebut kembali membuka diskusi lama. “Ketika kemenangan sudah bisa diprediksi sebelum peluit dibunyikan, ada yang salah dengan fundamental kompetisinya,” kata Alejandro Rodríguez, analis sepak bola dari Universitas Navarra. Sementara itu, suara-suara di parlemen Eropa kembali menyerukan pembentukan badan pengawas keuangan independen untuk seluruh kompetisi top Eropa, ide yang pertama kali digaungkan Tebas setahun sebelumnya.

Di sisi lain, juru bicara Liga Primer menolak anggapan bahwa liga mereka tidak kompetitif. “Variasi hasil dan kejutan seperti Leicester City 2016 adalah bukti bahwa kompetisi kami hidup. Kami berinvestasi dalam ekosistem dan pengembangan pemain lokal,” demikian pernyataan resmi yang dirilis Selasa lalu.

Namun yang pasti, jarak antara pernyataan Javier Tebas pada Desember 2024 dan gemerlapnya penampilan Liverpool melawan Brentford di Mei 2026 memberikan ilustrasi betapa ketimpangan finansial telah menjadi isu panjang yang belum juga terselesaikan. Hari itu di Las Rozas, Tebas sudah memperingatkan bahwa jika tidak ada pembatasan yang lebih adil, sepak bola Eropa akan berubah menjadi panggung monopoli. Dan di Anfield, peringatan itu seakan menjadi nyata.

[SOCIAL_TWEET]: Dari pidato Javier Tebas di 2024 sampai kemenangan telak Liverpool atas Brentford di 2026, satu benang merah terlihat: dominasi uang Liga Primer. Ketimpangan finansial makin nyata dan belum ada solusi. #JavierTebas #LigaPrimer #Liverpool #FinancialFairPlay[SOCIAL_TG]: ⚽🔥 Javier Tebas sudah meramalkannya di 2024: Liga Primer akan semakin menguasai Eropa dengan kekuatan finansialnya. Liverpool vs Brentford (24/5/2026) jadi bukti nyata. Uang bicara, kompetisi mulai kehilangan napas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User