Sinyal IPO BUMN: Pelindo dan Angkasa Pura Masuk Daftar

Berdasarkan data Kementerian BUMN per kuartal III/2024, pemerintah tengah mengkaji langkah strategis untuk meningkatkan kapitalisasi pasar melalui penawaran umum perdana (IPO) sejumlah perusahaan pela...

Aug 07, 2026 - 11:16
0 0
Sinyal IPO BUMN: Pelindo dan Angkasa Pura Masuk Daftar

Berdasarkan data Kementerian BUMN per kuartal III/2024, pemerintah tengah mengkaji langkah strategis untuk meningkatkan kapitalisasi pasar melalui penawaran umum perdana (IPO) sejumlah perusahaan pelat merah. Badan Pengelola Investasi (BP) BUMN dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memberikan sinyal kuat untuk memboyong entitas seperti Pelindo dan Angkasa Pura ke bursa. Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memperkuat fundamental perusahaan sekaligus menarik minat investor domestik dan asing.

Daftar Perusahaan yang Berpotensi Melantai di Bursa

Meskipun belum ada keputusan final, sumber internal menyebutkan bahwa PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo dan PT Angkasa Pura (Persero) menjadi kandidat utama. Pelindo, yang saat ini mengelola 4.500 kilometer garis pantai dan 1.700 terminal, memiliki aset senilai Rp 110 triliun. Sementara itu, Angkasa Pura yang mengelola 37 bandara di Indonesia mencatatkan pendapatan Rp 18,5 triliun pada 2023. Keduanya dinilai memiliki valuasi yang menarik, dengan potensi rasio harga terhadap pendapatan (price-to-earnings) di kisaran 12-15 kali, sebanding dengan emiten infrastruktur regional.

Di sisi lain, BP BUMN juga mengisyaratkan bahwa perusahaan lain seperti PT Wijaya Karya (Persero) dan PT Hutama Karya (Persero) dapat menyusul, meskipun fokus utama tetap pada sektor logistik dan transportasi udara. Proyeksi ini sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) dari 45% menjadi 60% pada 2029.

Pro dan Kontra: Dampak terhadap Pasar dan Kinerja BUMN

Pro: IPO diyakini dapat meningkatkan transparansi dan tata kelola perusahaan. Dengan menjadi perusahaan terbuka, BUMN akan diawasi ketat oleh publik dan regulator, sehingga mendorong efisiensi operasional. Selain itu, dana segar yang diperoleh dapat digunakan untuk ekspansi, misalnya Pelindo untuk modernisasi pelabuhan dan Angkasa Pura untuk pengembangan bandara internasional. Sentimen pasar juga cenderung positif, mengingat investor melihat BUMN sebagai aset strategis dengan prospek dividen yang stabil.

Kontra: Namun, kekhawatiran muncul terkait potensi capital outflow jika valuasi dianggap terlalu tinggi. Beberapa analis menilai bahwa BUMN sering kali memiliki beban utang yang besar, seperti Pelindo dengan rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio) 1,8 kali, yang dapat membebani kinerja setelah IPO. Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global dapat mempengaruhi minat investor. Sebagai contoh, indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat mengalami koreksi 3,2% pada Oktober 2024 akibat aksi jual asing, yang menunjukkan sensitivitas pasar terhadap isu geopolitik.

Peran Danantara dalam Mendukung IPO

Danantara, sebagai sovereign wealth fund (SWF) yang dibentuk untuk mengelola investasi pemerintah, diharapkan menjadi katalisator. Dengan dana kelolaan awal sebesar US$ 20 miliar, Danantara dapat bertindak sebagai anchor investor untuk menyerap kelebihan likuiditas dan menjaga stabilitas harga saham pasca-listing. Hal ini penting untuk mencegah volatilitas yang berlebihan, seperti yang terjadi pada IPO beberapa BUMN sebelumnya yang mengalami penurunan harga hingga 8% pada hari pertama perdagangan.

Di sisi lain, sinergi antara BP BUMN dan Danantara masih memerlukan regulasi yang jelas. Pasalnya, terdapat potensi tumpang tindih wewenang dalam pengelolaan aset, yang dapat menimbulkan ketidakpastian bagi investor. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyusun kerangka kerja yang transparan, termasuk mekanisme pelepasan saham bertahap (secondary offering) untuk menghindari banjir pasokan saham.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Berdasarkan proyeksi dari berbagai lembaga riset, IPO Pelindo dan Angkasa Pura dapat menarik minat investor hingga US$ 3 miliar, dengan target listing pada semester II/2025. Namun, keberhasilan ini sangat bergantung pada kondisi likuiditas global dan stabilitas politik domestik. Jika suku bunga acuan Bank Indonesia tetap di level 6% hingga akhir tahun, maka biaya modal akan meningkat, yang dapat mempengaruhi valuasi perusahaan.

Menurut analis pasar modal dari sebuah sekuritas asing, "IPO BUMN adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ini memperkuat pasar modal dalam negeri, tetapi di sisi lain, jika timing-nya salah, bisa menyebabkan capital outflow yang signifikan."

Untuk itu, pemerintah perlu melakukan kajian mendalam dan memilih waktu yang tepat, serta memastikan bahwa fundamental perusahaan benar-benar sehat. Dengan begitu, langkah ini dapat menjadi pilar pertumbuhan ekonomi jangka panjang, bukan sekadar euforia sesaat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User