Di dalam sebuah ruangan yang dibalut keheningan di Kota Semarang, Jawa Tengah, jemari puluhan remaja bergerak secara ritmis namun penuh kepastian. Tidak ada gema lantunan suara berintonasi tinggi sebagaimana cabang tilawah konvensional pada umumnya. Namun, atmosfer spiritual terasa begitu tebal dan menggetarkan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional, panggung kehormatan dibuka lebar bagi kelompok disabilitas sensorik rungu dan wicara melalui eksibisi Tartil Al-Qur'an Isyarat pada MTQ Nasional XXXI 2026.
Peristiwa bersejarah ini menghadirkan sebanyak 28 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tidak sekadar memperagakan huruf demi huruf dalam kitab suci, melainkan membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menyelami keagungan ilahi. Kehadiran cabang eksibisi ini menjadi manifestasi nyata dari pergeseran paradigma keagamaan di Indonesia yang kian inklusif dan berkeadilan sosial.
Menerobos Keheningan Lewat Bahasa Isyarat Standar
Langkah progresif ini tidak lahir dalam semalam. Kementerian Agama melalui Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk merumuskan dan menyusun Mushaf Al-Qur'an Isyarat. Metode ini menggabungkan dua pendekatan utama, yakni metode kitabi (mengeja huruf dan harakat) serta metode dhabti (isyarat kata). Penyelenggaraan eksibisi ini menjadi ruang uji sahih efektivitas standardisasi navigasi bacaan Al-Qur'an bagi komunitas Tuli di ranah nasional.
"Kami tidak lagi merasa ditinggalkan dalam syiar Al-Qur'an. Selama ini kami hanya menjadi penonton, tetapi hari ini di Semarang, kami berdiri seimbang di panggung yang sama untuk mengagungkan ayat-ayat Allah," ungkap seorang pendamping peserta Tuli yang menerjemahkan ungkapan haru salah satu kontestan.
Para dewan hakim yang ditunjuk pun menjalani pelatihan khusus untuk menilai ketepatan gestur, kelancaran visualisasi tajwid, ekspresi wajah (mimik), hingga keselarasan antara gerak tangan dan kaidah bacaan. Setiap pergerakan jari peserta diteliti secara cermat melalui bantuan layar monitor beresolusi tinggi guna memastikan tidak ada kekeliruan makna dalam pembacaan.
Data dan Format Eksibisi Quran Isyarat MTQ XXXI
Berikut adalah gambaran teknis dan cakupan pelaksanaan eksibisi Tartil Al-Qur'an Isyarat yang digelar pada helatan MTQ Nasional XXXI di Semarang:
| Kategori Parameter | Rincian Teknis & Pelaksanaan |
|---|---|
| Total Peserta | 28 Peserta (Representasi Kafilah Provinsi) |
| Metode Pembacaan | Metode Kitabi (Eja Huruf/Harakat) & Metode Dhabti (Isyarat Kata) |
| Fokus Penilaian | Ketepatan Gestur Isyarat, Tajwid Visual, & Kelancaran Ekspresi |
| Inisiator Pembinaan | Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an (LPMQ) Kemenag RI |
Peta Jalan Inklusi dan Prospek Cabang Resmi
Peneliti dan pengamat literasi keagamaan menilai eksibisi ini sebagai milestone penting dalam menjamin hak-hak konstitusional warga negara penyandang disabilitas. Selama ini, aksesibilitas terhadap pendidikan Al-Qur'an bagi penyandang rungu wicara kerap menghadapi kendala metodologis. Kehadiran mushaf isyarat yang tervisualisasi dalam MTQ Nasional XXXI diyakini akan mempercepat literasi Al-Qur'an inklusif hingga ke tingkat pelosok daerah.
Ketua Panitia Pelaksana menegaskan bahwa eksibisi ini merupakan langkah awal sebelum melegitimasi Tartil Al-Qur'an Isyarat sebagai cabang perlombaan resmi berperingkat medali pada ajang MTQ Nasional mendatang. "Target kami bukan sekadar kompetisi, melainkan membangun kesadaran kolektif bahwa Al-Qur'an adalah rahmat bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali," tegasnya penuh optimisme.
Di akhir sesi eksibisi, tepuk tangan menggema tidak melalui suara, melainkan lewat lambaian kedua tangan di udara—simbol penghormatan khas komunitas Tuli. Semarang hari ini tidak hanya mencatatkan sejarah penyelenggaraan MTQ yang megah, tetapi juga mengukir jejak kemanusiaan yang menembus batas-batas keheningan.
Comments (0)