Sawit, Kopi, dan Produk Kayu Andalan Ekspor RI ke Arab Saudi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2024, komoditas minyak kelapa sawit, kopi, dan produk kayu tercatat memiliki pangsa pasar yang kuat di Arab Saudi, menegaskan posisi ketiganya...

Aug 09, 2026 - 16:19
0 0
Sawit, Kopi, dan Produk Kayu Andalan Ekspor RI ke Arab Saudi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2024, komoditas minyak kelapa sawit, kopi, dan produk kayu tercatat memiliki pangsa pasar yang kuat di Arab Saudi, menegaskan posisi ketiganya sebagai andalan ekspor nonmigas nasional ke pasar Timur Tengah. Nilai ekspor Indonesia ke kerajaan tersebut sepanjang Januari hingga Oktober 2024 diperkirakan mencapai US$1,75 miliar, mengalami kenaikan sekitar 6,2 persen year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja ini menjadi sinyal positif di tengah tren perlambatan permintaan global dan pelemahan indeks harga komoditas dunia. Arab Saudi merupakan mitra dagang terbesar Indonesia di kawasan Timur Tengah dengan total perdagangan bilateral menembus US$6 miliar per tahun, meskipun neraca dagang masih defisit lantaran Indonesia mengimpor minyak mentah dan produk petrokimia dalam jumlah besar dari negara tersebut.

Sawit Pimpin, Kopi dan Kayu Menyusul

Minyak kelapa sawit menjadi kontributor dominan dengan pangsa sekitar 35 persen dari total ekspor nonmigas ke Arab Saudi. Permintaan dari industri pengolahan makanan dan minyak goreng di kerajaan itu terus mengalami kenaikan, seiring pertumbuhan populasi serta ekspansi sektor perhotelan dan katering. Harga CPO dunia yang bergerak di kisaran US$950 hingga US$1.050 per ton sepanjang 2024 turut mengangkat nilai ekspor secara nominal.

Sementara itu, kopi Indonesia, baik robusta maupun arabika, mencatat pertumbuhan volume ekspor dua digit ke pasar Saudi. Budaya minum kopi yang mengakar, ditambah menjamurnya kedai kopi modern di Riyadh dan Jeddah, membuka ruang bagi produk kopi specialty asal Gayo, Toraja, dan Kintamani. Adapun produk kayu, termasuk kayu lapis dan furnitur, diuntungkan oleh belanja konstruksi masif dalam agenda Visi 2030 Arab Saudi, seperti proyek kota masa depan NEOM dan pengembangan kawasan wisata Laut Merah.

Di Satu Sisi Peluang, di Sisi Lain Tantangan

Di satu sisi, prospek ekspor ketiga komoditas ini terbilang cerah. Fundamental permintaan Arab Saudi ditopang populasi sekitar 36 juta jiwa, pendapatan per kapita di atas US$30.000, dan agenda diversifikasi ekonomi yang menggenjot sektor konstruksi serta pariwisata. Bagi eksportir sawit, pasar Saudi menjadi alternatif strategis di tengah tekanan regulasi antideforestasi Uni Eropa (EUDR) yang berpotensi membatasi akses ke pasar Eropa. Sentimen pasar terhadap produk berkelanjutan Indonesia pun membaik menyusul penguatan sertifikasi ISPO.

Di sisi lain, sejumlah risiko perlu dicermati. Pertama, persaingan ketat dari Malaysia di segmen sawit dan Vietnam di segmen kopi robusta dapat menggerus pangsa pasar Indonesia. Kedua, konsentrasi ekspor pada sedikit komoditas mentah membuat nilai perdagangan rentan terhadap volatilitas harga global, mengingat rasio produk bernilai tambah tinggi masih terbatas. Ketiga, biaya logistik dan potensi gangguan rantai pasok di jalur Laut Merah, sebagaimana terjadi saat ketegangan geopolitik meningkat, dapat menekan margin eksportir. Defisit neraca dagang dengan Saudi yang mencapai sekitar US$2,5 miliar per tahun juga menunjukkan struktur perdagangan yang belum berimbang.

Proyeksi dan Arah Kebijakan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan ekspor ke Arab Saudi berada di kisaran 5 hingga 7 persen per tahun hingga 2026, dengan asumsi harga komoditas stabil dan tidak ada eskalasi konflik regional. Peluang perluasan masih terbuka lebar, antara lain melalui produk kopi olahan, furnitur premium, dan turunan sawit seperti oleokimia yang memiliki valuasi lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.

Dari sisi kebijakan, penguatan diplomasi dagang melalui forum bisnis kedua negara serta pemanfaatan skema perjanjian perdagangan preferensial dapat menekan hambatan tarif dan nontarif. Pemerintah juga perlu mendorong hilirisasi agar portofolio ekspor tidak sekadar bergantung pada komoditas primer. Dengan fundamental permintaan yang kuat dan strategi penetrasi pasar yang tepat, ketiga komoditas andalan ini berpotensi memperdalam likuiditas devisa ekspor sekaligus memperkecil defisit dagang bilateral dalam jangka menengah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User