BPS Catat Belanja Oleh-Oleh Jemaah Haji Hampir Rp2 Triliun
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dihimpun dari survei khusus pengeluaran jemaah haji per musim penyelenggaraan 1446 Hijriah, total belanja pribadi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci ...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dihimpun dari survei khusus pengeluaran jemaah haji per musim penyelenggaraan 1446 Hijriah, total belanja pribadi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci diperkirakan menembus Rp4,25 triliun. Dari jumlah tersebut, hampir Rp2 triliun—setara sekitar 47 persen dari total pengeluaran—mengalir ke satu pos belanja saja: oleh-oleh. Temuan ini menegaskan bahwa konsumsi cenderamata menjadi pengeluaran terbesar jemaah di luar komponen Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang dibayarkan resmi kepada pemerintah.
Jika dirata-rata dengan asumsi kuota jemaah reguler sekitar 221.000 orang, maka setiap jemaah membelanjakan kurang lebih Rp19 juta untuk kebutuhan pribadi selama sekitar 40 hari di Arab Saudi, dan nyaris Rp9 juta di antaranya dibelanjakan untuk buah tangan—mulai dari kurma, air zamzam, sajadah, hingga parfum dan busana. Sebagai pembanding, rata-rata upah nominal pekerja Indonesia menurut BPS berada di kisaran Rp3 jutaan per bulan, sehingga belanja oleh-oleh satu jemaah setara tiga bulan gaji pekerja rata-rata.
Anatomi Konsumsi: Mengapa Oleh-Oleh Mendominasi?
Fenomena ini tidak lepas dari dimensi sosial-budaya ibadah haji di Indonesia. Membawa buah tangan bagi keluarga, tetangga, dan kolega telah menjadi konvensi sosial yang kuat, sehingga pos oleh-oleh kerap dianggarkan sejak awal oleh calon jemaah. Dari sisi perilaku ekonomi, pola ini mencerminkan apa yang disebut consumption smoothing—kecenderungan rumah tangga membelanjakan dana yang telah diakumulasi bertahun-tahun untuk satu momen besar—baik melalui tabungan, dana talangan, maupun penjualan aset.
Secara tren, nilai belanja jemaah mengalami kenaikan secara year-on-year seiring bertambahnya kuota dan kenaikan indeks harga kebutuhan hidup di Arab Saudi. Sebagai catatan, realisasi belanja jemaah pada musim-musim sebelum pandemi berada di kisaran Rp3 triliun, sehingga angka Rp4,25 triliun merefleksikan kenaikan lebih dari 30 persen dalam lima tahun terakhir.
Di Satu Sisi: Cermin Daya Beli dan Efek Rantai Ekonomi
Di satu sisi, data ini dapat dibaca sebagai indikator fundamental konsumsi rumah tangga yang resilien. Kemampuan ratusan ribu jemaah—mayoritas berusia lanjut—membelanjakan triliunan rupiah menunjukkan akumulasi tabungan masyarakat kelas menengah yang tidak kecil. Sebagian belanja oleh-oleh juga sejatinya mengalir kembali ke ekonomi domestik: produk kurma kemasan, suvenir, hingga perlengkapan ibadah kerap diperoleh melalui jaringan perdagangan yang melibatkan importir dan pelaku UMKM Indonesia, baik yang beroperasi di Tanah Suci maupun di dalam negeri.
"Belanja jemaah haji adalah bentuk konsumsi keagamaan yang stabil dan dapat diprediksi. Bagi pelaku usaha di rantai pasoknya, ini adalah permintaan tahunan yang prospektif," ujar seorang pengamat ekonomi syariah dari lembaga riset di Jakarta.
Dari perspektif industri, tren ini membuka peluang bagi pelaku usaha nasional untuk meningkatkan porsi produk lokal dalam keranjang oleh-oleh jemaah, sehingga nilai tambah tidak sepenuhnya dinikmati ekonomi negara lain.
Di Sisi Lain: Kebocoran Devisa dan Beban Neraca Jasa
Di sisi lain, pengeluaran Rp4,25 triliun di luar negeri tercatat sebagai impor jasa perjalanan dalam neraca pembayaran. Defisit neraca jasa Indonesia yang memang sudah struktural—berada di kisaran US$1,5–2 miliar per kuartal menurut data Bank Indonesia—berpotensi kian lebar pada kuartal penyelenggaraan haji. Dalam bahasa sederhana, setiap rupiah yang dibelanjakan di Arab Saudi adalah permintaan terhadap valuta asing, yang pada gilirannya menambah tekanan terhadap likuiditas valas domestik.
Kritik juga datang dari sisi alokasi sumber daya. Rasio belanja oleh-oleh terhadap total pengeluaran yang nyaris separuh dinilai sebagian kalangan kurang produktif. Dana sebesar Rp2 triliun, jika diarahkan ke instrumen produktif seperti portofolio investasi atau modal usaha mikro, secara teoretis berpotensi menghasilkan imbal hasil berkelanjutan ketimbang habis pada konsumsi sesaat. Sentimen pasar terhadap rupiah pun bisa terdampak marjinal bila capital outflow musiman ini tidak diimbangi arus masuk devisa dari sektor lain.
Proyeksi: Tren Berlanjut, Mitigasi Diperlukan
Ke depan, proyeksi belanja jemaah berpotensi terus mengalami kenaikan seiring antrean haji yang panjang, penambahan kuota, dan inflasi harga kebutuhan di Arab Saudi. Tanpa intervensi kebijakan, valuasi total pengeluaran pribadi jemaah dapat menembus Rp5 triliun dalam beberapa musim ke depan.
Pemerintah memiliki sejumlah opsi mitigasi: memperkuat edukasi keuangan bagi calon jemaah agar porsi belanja lebih seimbang, mendorong keterlibatan produk Indonesia dalam rantai pasok konsumsi haji, serta mengoptimalkan potensi devisa dari sisi sebaliknya—yakni mempromosikan wisata religi dan halal ke Indonesia. Pada akhirnya, angka Rp2 triliun untuk oleh-oleh ini adalah cermin dua wajah ekonomi sekaligus: kekuatan daya beli masyarakat di satu sisi, dan tantangan efisiensi alokasi serta ketahanan eksternal di sisi lain.
Comments (0)