Saham BACH Terkoreksi Dalam Usai Akuisisi Djarum, Simak Analisisnya

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis, 20 Februari 2025, harga saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mengalami penurunan tajam sebesar 14,78% ke level Rp865 per saham, men...

Aug 07, 2026 - 07:46
0 0
Saham BACH Terkoreksi Dalam Usai Akuisisi Djarum, Simak Analisisnya

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis, 20 Februari 2025, harga saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mengalami penurunan tajam sebesar 14,78% ke level Rp865 per saham, menyentuh batas auto reject bawah (ARB). Koreksi ini terjadi setelah enam hari berturut-turut saham tersebut mengalami penguatan signifikan pasca pengumuman akuisisi oleh Grup Djarum. Data RTI menunjukkan total volume transaksi mencapai 45,2 juta lembar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp39,8 miliar, menandakan adanya tekanan jual yang sangat tinggi dari pelaku pasar.

Faktor Pendorong Aksi Jual dan Capital Outflow

Tekanan jual yang terjadi pada saham BACH tidak terlepas dari aksi ambil untung (profit taking) oleh investor yang sebelumnya menikmati reli harga. Berdasarkan data pergerakan saham, dalam enam sesi perdagangan sebelumnya, saham BACH sempat menguat hingga 78% dari level terendahnya di Rp505. Kondisi ini memicu aksi jual massal, terutama dari investor asing yang tercatat melakukan net sell sebesar Rp15,42 miliar pada perdagangan hari ini. Di satu sisi, aksi jual ini merupakan hal yang wajar setelah terjadi lonjakan harga yang cepat tanpa diimbangi fundamental yang kuat. Di sisi lain, capital outflow yang terjadi menunjukkan bahwa sentimen pasar terhadap akuisisi Djarum mulai meredup, terutama setelah harga saham dianggap sudah terlalu mahal dibandingkan valuasi wajar.

Menurut analis pasar modal dari sebuah sekuritas nasional, koreksi ini merupakan bentuk koreksi teknis yang sehat. "Setelah kenaikan yang sangat agresif, pasar membutuhkan waktu untuk mencerna informasi akuisisi. Likuiditas yang sempat mengalir deras kini mulai berkurang, dan investor cenderung melakukan rebalancing portofolio," ujarnya. Namun, perlu dicatat bahwa rasio harga terhadap nilai buku (price to book value) BACH saat ini masih berada di kisaran 2,3 kali, yang masih lebih rendah dibandingkan rata-rata industri manufaktur plastik yang mencapai 3,1 kali. Hal ini menunjukkan bahwa secara fundamental, harga saham BACH masih memiliki ruang untuk bergerak naik dalam jangka panjang.

Pro dan Kontra Dampak Akuisisi Djarum

Pro: Akuisisi oleh Grup Djarum melalui entitas usahanya dianggap mampu membawa perubahan signifikan pada kinerja BACH. Dengan masuknya Djarum, perusahaan diperkirakan akan mendapatkan akses permodalan yang lebih kuat, jaringan distribusi yang lebih luas, serta manajemen yang lebih profesional. Berdasarkan proyeksi internal, pendapatan BACH berpotensi tumbuh 25% hingga 30% year-on-year pada tahun 2025, didorong oleh ekspansi kapasitas produksi dan diversifikasi produk. Selain itu, Djarum dikenal memiliki rekam jejak sukses dalam mengelola perusahaan publik, seperti yang terlihat pada kinerja PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang konsisten membukukan pertumbuhan laba dua digit setiap tahunnya.

Kontra: Di sisi lain, akuisisi ini juga memunculkan kekhawatiran terkait potensi dilusi kepemilikan saham publik. Jika Djarum melakukan rights issue atau penerbitan saham baru untuk mendanai ekspansi, maka kepemilikan pemegang saham minoritas akan tergerus. Selain itu, struktur bisnis BACH yang saat ini masih sangat bergantung pada industri kemasan plastik yang marginnya tipis, membuat prospek jangka pendek perusahaan masih belum jelas. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Januari 2025 menunjukkan bahwa industri plastik nasional mengalami penurunan utilisasi pabrik menjadi 68% dari sebelumnya 75%, akibat tingginya harga bahan baku impor dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini berada di level Rp16.200.

Sentimen Pasar dan Proyeksi Ke Depan

Sentimen pasar terhadap saham BACH dalam jangka pendek diperkirakan masih akan bergejolak. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri pada hari yang sama tercatat melemah 0,32% ke level 6.890, menunjukkan bahwa tekanan jual tidak hanya terjadi pada BACH, melainkan juga pada sebagian besar saham berkapitalisasi kecil dan menengah. Analis memperkirakan bahwa support terdekat BACH berada di level Rp820, dan jika level tersebut ditembus, maka potensi penurunan selanjutnya menuju Rp780 sangat mungkin terjadi. Namun, jika sentimen positif kembali muncul, resistance terdekat berada di level Rp920.

Secara fundamental, valuasi BACH setelah koreksi ini menjadi lebih menarik. Dengan harga Rp865, kapitalisasi pasar perusahaan mencapai Rp1,73 triliun, dengan laba bersih per saham (EPS) diperkirakan sebesar Rp112 untuk tahun 2024. Ini berarti rasio price to earnings (PER) BACH berada di kisaran 7,7 kali, yang masih di bawah rata-rata PER sektor plastik sebesar 9,5 kali. "Investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang dapat mulai memperhatikan saham ini, tetapi perlu diingat bahwa volatilitas akan tetap tinggi dalam beberapa minggu ke depan," tambah analis tersebut.

Kesimpulannya, koreksi saham BACH merupakan fenomena pasar yang normal setelah reli panjang. Investor perlu mencermati perkembangan fundamental perusahaan pasca akuisisi, terutama terkait realisasi sinergi bisnis dan kemampuan manajemen dalam meningkatkan efisiensi operasional. Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, diversifikasi portofolio tetap menjadi kunci utama untuk mengelola risiko.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User