Transaksi QRIS Melonjak, Jalin dan BACenter Sinergi Perkuat Digitalisasi Pembayaran
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per akhir 2024, volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mengalami kenaikan sekitar 175 persen secara year-on-year (yoy), dengan jumlah peng...
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per akhir 2024, volume transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mengalami kenaikan sekitar 175 persen secara year-on-year (yoy), dengan jumlah pengguna menembus 56 juta dan merchant mencapai lebih dari 35 juta, di mana hampir 90 persen di antaranya merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tren ini menegaskan bahwa digitalisasi pembayaran telah bertransformasi dari sekadar kanal transaksi menjadi bagian dari fundamental ekonomi nasional.
Momentum pertumbuhan tersebut dimanfaatkan oleh PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin), perusahaan penyedia infrastruktur switching yang kini menjadi bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, dengan menggandeng Yayasan Bina Astacita Center (BACenter). Kedua institusi menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memperkuat kolaborasi dalam memperluas adopsi pembayaran digital sekaligus meningkatkan kapasitas literasi keuangan masyarakat di berbagai lapisan.
QRIS sebagai Infrastruktur Fundamental Ekonomi Digital
QRIS merupakan standar kode respons cepat yang memungkinkan satu kode dipakai lintas penyedia jasa pembayaran, baik bank maupun dompet digital. Sejak diperkenalkan pada 2019, penetrasi QRIS mengalami kenaikan konsisten. Data BI mencatat volume transaksi QRIS sepanjang 2024 menembus lebih dari 6 miliar transaksi, melonjak dibandingkan sekitar 2,5 miliar transaksi pada 2023. Nilai transaksinya pun tumbuh signifikan, mencerminkan pergeseran perilaku konsumen dari uang tunai ke kanal nontunai.
Bagi Jalin, kerja sama dengan BACenter memperkuat portofolio layanannya sebagai penghubung antarlembaga keuangan. Perusahaan ini selama ini dikenal mengelola jaringan interkoneksi antarbank, termasuk layanan ATM bersama dan switching transaksi. Dengan masuknya Jalin ke ekosistem Danantara, dukungan terhadap digitalisasi pembayaran diproyeksikan semakin terintegrasi dengan agenda transformasi BUMN secara keseluruhan.
Di Satu Sisi: Peluang Inklusi dan Efisiensi Ekonomi
Di satu sisi, kolaborasi semacam ini berpotensi mempercepat inklusi keuangan, yakni kondisi ketika masyarakat memiliki akses terhadap layanan keuangan formal. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK per 2024, indeks inklusi keuangan nasional tercatat sebesar 75,02 persen, sementara indeks literasi keuangan berada di level 65,43 persen. Selisih hampir 10 poin persentase antara akses dan pemahaman inilah yang menjadi ruang bagi kolaborasi Jalin-BACenter untuk berkontribusi secara nyata.
Dari sisi efisiensi, transaksi digital menekan biaya penanganan uang tunai yang selama ini ditanggung sistem perbankan dan bank sentral. Bagi UMKM, QRIS memangkas kebutuhan investasi mesin EDC dan mempermudah pencatatan penjualan, sehingga memperbaiki rasio antara omzet tercatat dan arus kas riil. Sentimen pasar terhadap sektor pembayaran digital juga relatif positif, tercermin dari valuasi perusahaan teknologi finansial yang cenderung stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Kolaborasi antara penyedia infrastruktur pembayaran dan lembaga pemberdayaan masyarakat adalah kombinasi yang tepat. Infrastruktur tanpa literasi hanya akan menciptakan kesenjangan baru, ujar seorang pengamat ekonomi digital di Jakarta.
Di Sisi Lain: Risiko Keamanan dan Kesenjangan Digital
Di sisi lain, percepatan digitalisasi pembayaran menyimpan risiko yang tidak bisa diabaikan. Pertama, keamanan siber: semakin besar volume transaksi, semakin besar pula permukaan serangan bagi kejahatan digital seperti phishing dan penipuan bermodus kode QR palsu. Kedua, kesenjangan infrastruktur. Penetrasi QRIS masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan kota-kota besar, sementara sebagian wilayah timur Indonesia menghadapi kendala konektivitas serta ketersediaan jaringan yang memadai.
Ketiga, risiko literasi. Masyarakat yang mengadopsi pembayaran digital tanpa pemahaman memadai lebih rentan menjadi korban penipuan. Data OJK yang menunjukkan indeks literasi keuangan masih di kisaran 65 persen mengindikasikan sekitar sepertiga penduduk belum memahami produk keuangan yang mereka gunakan. Tanpa edukasi berkelanjutan, pertumbuhan transaksi berisiko tidak diikuti perlindungan konsumen yang setara.
Proyeksi dan Catatan ke Depan
Ke depan, BI memproyeksikan transaksi pembayaran digital akan terus tumbuh dua digit seiring perluasan fitur seperti QRIS Tap dan integrasi pembayaran lintas batas dengan sejumlah negara ASEAN. Likuiditas dalam sistem pembayaran diprediksi tetap terjaga karena perputaran dana berlangsung di dalam sistem perbankan domestik, sehingga risiko capital outflow dari kanal ini relatif terbatas.
Namun, keberhasilan kolaborasi Jalin-BACenter pada akhirnya akan diukur dari dampak riil di lapangan: berapa banyak UMKM baru yang terdigitalisasi, seberapa besar penurunan kasus penipuan, dan seberapa merata adopsi di luar kota besar. Pertumbuhan QRIS yang pesat adalah modal penting, tetapi keberlanjutannya bergantung pada keseimbangan antara ekspansi infrastruktur, edukasi, dan perlindungan konsumen.
Comments (0)