Empat PR Besar Bank Sentral di Era AI dan Fragmentasi Global

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, inflasi nasional tercatat sebesar 0,76 persen year-on-year, sementara BI Rate berada di level 5,75 persen dan cadangan devisa pada akhir Februari 2025...

Aug 07, 2026 - 07:45
0 0
Empat PR Besar Bank Sentral di Era AI dan Fragmentasi Global

Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2025, inflasi nasional tercatat sebesar 0,76 persen year-on-year, sementara BI Rate berada di level 5,75 persen dan cadangan devisa pada akhir Februari 2025 mencapai sekitar US$154,5 miliar. Fundamental makroekonomi yang relatif terjaga ini menjadi modal penting ketika Pelaksana jabatan (Pj) Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memetakan empat pekerjaan rumah besar bank sentral di tengah menguatnya fragmentasi geoekonomi dan akselerasi digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Dalam pandangan Destry, lanskap perekonomian global saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu. Fragmentasi geoekonomi—kondisi ketika blok-blok ekonomi dunia saling membatasi perdagangan, investasi, dan aliran teknologi—telah mengubah cara bank sentral membaca risiko. Sementara itu, digitalisasi dan AI bergerak lebih cepat daripada kemampuan regulasi untuk mengimbanginya. Karena itu, integrasi kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dinilai bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi bank sentral di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Empat Pekerjaan Rumah Bank Sentral

Pertama, menjaga stabilitas harga dan nilai tukar di tengah ketidakpastian global. Rupiah sempat bergerak di kisaran Rp16.300 per dolar AS, melemah sekitar 1,5 persen dibandingkan akhir 2024, tertekan oleh ekspektasi arah suku bunga The Fed yang bertahan di 4,25–4,50 persen serta meningkatnya risiko perang tarif dagang. Kedua, memperkuat bauran kebijakan (policy mix) agar transmisi kebijakan moneter—yakni proses perubahan suku bunga memengaruhi kredit dan harga—tetap berjalan efektif. Ketiga, mengadopsi inovasi digital secara hati-hati, mulai dari pembayaran ritel hingga eksplorasi mata uang digital bank sentral. Keempat, memperkuat komunikasi kebijakan dan kredibilitas agar ekspektasi pasar tetap terjangkar pada sasaran inflasi.

Di Satu Sisi: Digitalisasi Membuka Efisiensi

Di satu sisi, tren digitalisasi memberikan ruang optimisme. Transaksi QRIS, misalnya, mengalami kenaikan lebih dari 150 persen year-on-year sepanjang 2024, mencerminkan percepatan inklusi keuangan digital hingga ke pelaku usaha mikro. Bagi bank sentral, AI berpotensi memperkuat pengawasan berbasis data, mempercepat deteksi anomali transaksi, dan mempertajam proyeksi inflasi. Likuiditas sistem pembayaran juga menjadi lebih efisien, yang pada gilirannya menopang pertumbuhan ekonomi yang pada 2024 tercatat 5,03 persen.

Di Sisi Lain: Risiko Fragmentasi dan Aliran Modal

Di sisi lain, fragmentasi geoekonomi membawa risiko yang tidak bisa dianggap remeh. Sentimen pasar yang mudah berbalik memicu capital outflow—keluarnya dana asing dari portofolio domestik—yang diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah dari pasar surat berharga negara sejak awal tahun. Indeks harga saham gabungan juga sempat terkoreksi lebih dari 5 persen dalam periode yang sama. Tekanan ini membuat valuasi aset domestik relatif lebih murah, tetapi sekaligus menguji daya tahan nilai tukar. Selain itu, adopsi AI yang terburu-buru menyimpan risiko siber dan kesalahan model yang berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.

"Integrasi kebijakan menjadi kata kunci. Bank sentral tidak bisa lagi bekerja sendirian; koordinasi dengan otoritas fiskal dan pengawas sektor keuangan menentukan efektivitas respons terhadap guncangan global," ujar Destry.

Pro dan Kontra Kesiapan Indonesia

Pro: inflasi yang rendah, cadangan devisa setara lebih dari enam bulan impor, dan rasio kecukupan modal perbankan di atas 25 persen memberikan bantalan yang memadai. Kredit perbankan juga masih tumbuh sekitar 10 persen year-on-year, menandakan fungsi intermediasi berjalan baik. Kontra: ketergantungan pada arus modal asing, defisit transaksi berjalan yang berpotensi melebar, serta ketidakpastian kebijakan tarif global membuat ruang pelonggaran moneter menjadi lebih sempit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Proyeksi ke Depan

Ke depan, sejumlah analis memproyeksikan bank sentral akan mempertahankan pendekatan hati-hati: menjaga suku bunga tetap menarik bagi investor asing sembari memastikan likuiditas rupiah cukup untuk mendorong penyaluran kredit. Empat pekerjaan rumah yang dipetakan Destry pada dasarnya menegaskan satu hal—stabilitas tidak lagi bisa dicapai dengan instrumen tunggal, melainkan melalui bauran kebijakan yang terintegrasi dan adaptif terhadap perubahan teknologi maupun geopolitik. Bagi pelaku pasar, arah komunikasi bank sentral dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu pergerakan indeks dan sentimen pasar domestik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User