Rupiah Perkasa ke Rp17.913, Analis Sebut Minyak Jadi Kunci

Berdasarkan data pasar valuta asing domestik pada perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat menguat ke level Rp17.913 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pe...

Aug 07, 2026 - 15:49
0 0
Rupiah Perkasa ke Rp17.913, Analis Sebut Minyak Jadi Kunci

Berdasarkan data pasar valuta asing domestik pada perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat menguat ke level Rp17.913 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penguatan yang cukup signifikan dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di kisaran Rp17.950-an. Pergerakan ini sejalan dengan meredanya tekanan dari harga minyak mentah dunia yang sempat menjadi beban bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Penguatan rupiah pagi ini tidak terlepas dari dinamika pasar global yang mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. Harga minyak mentah jenis Brent dan WTI mengalami penurunan tipis setelah sebelumnya melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Analis pasar uang menilai bahwa penurunan harga komoditas energi ini memberikan ruang bagi rupiah untuk bernapas, mengingat Indonesia masih menjadi net importir minyak. "Ketika harga minyak turun, beban impor energi kita berkurang, sehingga tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar ikut mereda," ujar seorang ekonom dari lembaga riset independen dalam catatan hariannya.

Faktor Eksternal dan Internal Menopang Penguatan

Di sisi lain, penguatan rupiah juga didorong oleh data ekonomi domestik yang relatif solid. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pekan lalu, inflasi inti masih terjaga di kisaran 2,5% year-on-year, sementara cadangan devisa Indonesia mencapai 145,2 miliar dolar AS per akhir bulan lalu, naik tipis dari bulan sebelumnya. Angka ini memberikan keyakinan bahwa fundamental ekonomi makro tetap stabil di tengah ketidakpastian global. Pro: penguatan rupiah pagi ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia yang konsisten menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi ganda di pasar spot dan Surat Berharga Negara (SBN).

Kontra: meskipun menguat, level Rp17.913 masih jauh dari posisi rata-rata tahun lalu yang berada di kisaran Rp15.800. Artinya, depresiasi rupiah secara year-to-date masih cukup dalam, mencapai sekitar 13,4% jika dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2023. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan struktural terhadap rupiah belum sepenuhnya hilang, terutama dari sisi defisit transaksi berjalan yang diperkirakan melebar hingga 1,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal ketiga tahun ini.

Peran Harga Minyak dan Sentimen Pasar Global

Meredanya harga minyak mentah dunia menjadi katalis utama pagi ini. Pada perdagangan Asia, harga minyak Brent tercatat turun 1,2% ke level 82,4 dolar AS per barel, setelah sebelumnya sempat menyentuh 85,1 dolar AS. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi Tiongkok yang berimbas pada proyeksi permintaan energi global. Di sisi lain, pasar juga mencermati pernyataan pejabat Federal Reserve yang mengindikasikan bahwa suku bunga AS mungkin akan tetap tinggi lebih lama, yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi mata uang emerging market. Namun, pagi ini, sentimen tersebut tampaknya tertutup oleh faktor penawaran minyak yang lebih longgar.

Menurut analis teknikal, pergerakan rupiah pagi ini juga didukung oleh aliran dana asing yang mulai masuk kembali ke pasar obligasi domestik. Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, kepemilikan asing di SBN mengalami kenaikan sebesar Rp4,2 triliun pada dua hari perdagangan terakhir, setelah sebelumnya mengalami capital outflow yang cukup deras pada awal bulan ini. "Ini sinyal positif bahwa investor asing melihat valuasi aset domestik sudah menarik setelah pelemahan yang cukup dalam," ungkap seorang fund manager di Jakarta.

Proyeksi dan Risiko yang Perlu Dicermati

Ke depan, para ekonom memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat pada perdagangan hari ini, namun dengan rentang pergerakan yang terbatas. Proyeksi konsensus pasar menunjukkan support terdekat berada di level Rp17.850, sementara resistance di Rp17.950. Jika harga minyak terus menunjukkan tren penurunan, bukan tidak mungkin rupiah bisa menembus level psikologis Rp17.800 dalam beberapa hari ke depan. Namun, risiko tetap ada, terutama jika data inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan, yang dapat memicu penguatan dolar kembali.

Di sisi lain, Bank Indonesia diperkirakan akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas, dengan intervensi yang lebih agresif jika rupiah bergerak terlalu volatile. Likuiditas valas domestik saat ini masih cukup ketat, tercermin dari selisih suku bunga antarbank (JIBOR) yang naik tipis ke 6,12% pagi ini. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan dolar dari korporasi masih tinggi, terutama untuk pembayaran impor dan dividen. Dengan demikian, meskipun ada momentum penguatan, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada terhadap potensi pembalikan arah yang dipicu oleh sentimen global yang berubah cepat.

Secara fundamental, penguatan rupiah pagi ini adalah napas segar di tengah tekanan yang berkepanjangan. Namun, perlu diingat bahwa stabilitas nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh harga minyak, tetapi juga oleh daya saing ekspor, kebijakan fiskal, dan kondisi geopolitik. Pemerintah dan otoritas moneter perlu terus memperkuat ketahanan ekonomi domestik agar rupiah tidak mudah terombang-ambing oleh gejolak eksternal. Dengan cadangan devisa yang memadai dan inflasi yang terkendali, ruang untuk menjaga stabilitas masih terbuka lebar, meskipun tantangan global tetap membayangi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User