Rupiah Menguat Usai Usulan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI

Berdasarkan data Bank Indonesia per Senin (10 September 2026), nilai tukar rupiah ditutup mengalami penguatan 0,42 persen ke level Rp17.960 per dolar Amerika Serikat, memperbaiki posisi dari penutupan...

Aug 12, 2026 - 09:00
0 0
Rupiah Menguat Usai Usulan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI

Berdasarkan data Bank Indonesia per Senin (10 September 2026), nilai tukar rupiah ditutup mengalami penguatan 0,42 persen ke level Rp17.960 per dolar Amerika Serikat, memperbaiki posisi dari penutupan sebelumnya di Rp18.035. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen domestik berupa usulan Presiden Prabowo Subianto kepada DPR untuk mengangkat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, sebagai calon Gubernur Bank Indonesia menggantikan Perry Warjiyo yang akan mengakhiri masa jabatannya.

Di pasar spot, pergerakan rupiah sepanjang sesi perdagangan tercatat relatif stabil di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.010. Sementara itu, kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) — kurs referensi resmi yang diterbitkan Bank Indonesia setiap hari kerja — dipatok di Rp17.985, menguat 0,3 persen dari posisi akhir pekan lalu. Secara year-on-year, yakni perbandingan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, rupiah masih mencatat depresiasi sekitar 4,1 persen, namun tren pelemahan dalam dua bulan terakhir mulai tertahan.

Sentimen Positif dari Transisi Kepemimpinan Bank Indonesia

Di satu sisi, reaksi positif pasar mencerminkan kepercayaan investor terhadap kesinambungan kebijakan moneter. Destry Damayanti bukan figur baru di bank sentral; ia menjabat Deputi Gubernur Senior sejak 2019 dan dikenal berperan dalam pengelolaan likuiditas perbankan serta pendalaman pasar keuangan. Bagi pelaku pasar, calon dari internal Bank Indonesia dinilai mengurangi ketidakpastian transisi — faktor yang selama ini kerap memicu kehati-hatian investor dalam menempatkan portofolio pada aset berdenominasi rupiah.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari yang sama menguat 0,6 persen ke level 8.120, sementara pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencatat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun turun 5 basis poin menjadi 6,85 persen. Penurunan yield mengindikasikan harga obligasi naik, yang berarti permintaan investor, termasuk asing, meningkat. Sepanjang pekan lalu, tercatat capital inflow atau arus modal asing masuk bersih ke pasar SBN sekitar Rp4,2 triliun.

"Penguatan rupiah kali ini lebih didorong faktor domestik, terutama kepastian arah kepemimpinan bank sentral. Pasar menyukai kontinuitas, dan rekam jejak calon yang diusulkan memberikan jaminan bahwa kredibilitas kebijakan moneter akan terjaga," ujar seorang ekonom senior dari bank swasta nasional di Jakarta.

Dukungan Fundamental Ekonomi Domestik

Penguatan rupiah juga ditopang sejumlah indikator fundamental. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus 65 bulan beruntun, dengan surplus Agustus 2026 sebesar US$3,1 miliar. Cadangan devisa per akhir Agustus 2026 berada di posisi US$150,4 miliar, setara pembiayaan 6,3 bulan impor — rasio kecukupan yang jauh di atas standar internasional sekitar tiga bulan. Inflasi Agustus 2026 terkendali di 2,4 persen year-on-year, masih dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen.

Dari sisi eksternal, indeks dolar AS (DXY) — ukuran kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia — melemah ke level 98,2 setelah pasar meningkatkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Federal Reserve. Pelemahan dolar secara global memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk rebound. Bank Indonesia sendiri mempertahankan BI Rate di 5,75 persen, menjaga selisih suku bunga (spread) dengan Fed Fund Rate tetap menarik bagi investor asing yang mencari imbal hasil lebih tinggi.

Di Sisi Lain: Risiko yang Tetap Membayangi

Namun, di sisi lain, penguatan satu hari tidak serta-merta mengubah tren jangka menengah. Rupiah masih berada di dekat level psikologis Rp18.000 per dolar AS, dan tekanan struktural belum sepenuhnya hilang. Defisit transaksi berjalan (current account deficit) — selisih antara penerimaan dan pengeluaran valuta asing dari perdagangan serta jasa — diproyeksikan berada di kisaran 0,9 hingga 1,2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Artinya, Indonesia tetap bergantung pada aliran modal asing untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran.

Risiko lain datang dari volatilitas harga komoditas dan potensi eskalasi ketegangan geopolitik yang dapat memicu pergerakan risk-off, yaitu kondisi ketika investor global menarik dana dari pasar negara berkembang dan beralih ke aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah AS. Jika skenario capital outflow tersebut terjadi, rupiah berpotensi kembali menguji level Rp18.100. Selain itu, proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR masih harus dilalui, sehingga kepastian pengangkatan calon Gubernur BI belum sepenuhnya final dan masih dapat memengaruhi sentimen pasar.

Proyeksi ke Depan

Sejumlah proyeksi menempatkan rupiah bergerak di rentang Rp17.800 hingga Rp18.200 per dolar AS hingga akhir 2026, dengan asumsi kebijakan moneter tetap kredibel dan arus modal asing berlanjut. Dari sisi valuasi, sebagian analis menilai rupiah sudah mendekati nilai wajarnya (fair value), meski sensitivitas terhadap sentimen global masih tinggi.

Bagi pelaku usaha dan investor, periode transisi kepemimpinan bank sentral ini layak dicermati sebagai faktor penentu arah kebijakan suku bunga dan stabilisasi nilai tukar ke depan. Kombinasi fundamental domestik yang solid dan dinamika global yang fluktuatif akan terus menjadi dua sisi yang menentukan pergerakan rupiah dalam beberapa kuartal mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User