LPS Dukung Pencalonan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia
Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2026, suku bunga acuan BI Rate bertahan di level 4,75 persen, sementara inflasi year-on-year berada di kisaran 2,7 persen dan nilai tukar rupiah bergerak di...
Berdasarkan data Bank Indonesia per Januari 2026, suku bunga acuan BI Rate bertahan di level 4,75 persen, sementara inflasi year-on-year berada di kisaran 2,7 persen dan nilai tukar rupiah bergerak di sekitar Rp16.700 per dolar AS. Di tengah fundamental makroekonomi yang relatif terjaga tersebut, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada satu agenda penting: transisi kepemimpinan di bank sentral.
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menyampaikan dukungan atas pengajuan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia kepada DPR. Ia berharap seluruh tahapan seleksi, termasuk uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI, dapat berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Dukungan ini memiliki bobot tersendiri. LPS merupakan anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Bank Indonesia, Kementerian Keuangan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Keselarasan pandangan antarotoritas menjadi prasyarat penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, terutama ketika tekanan global masih berpotensi memicu capital outflow — keluarnya dana asing dari pasar domestik — yang dapat menggerus likuiditas.
Rekam Jejak yang Menjadi Modal Utama
Destry Damayanti bukan wajah baru di lingkungan bank sentral. Ia menjabat Deputi Gubernur Senior sejak 2019, posisi tertinggi kedua di Bank Indonesia yang membawahi koordinasi kebijakan moneter dan makroprudensial. Kebijakan makroprudensial sendiri merujuk pada instrumen untuk menjaga kesehatan sistem keuangan secara keseluruhan, misalnya pengaturan rasio kredit terhadap agunan.
Sebelumnya, ia meniti karier sebagai ekonom di sejumlah lembaga, termasuk pengalaman menangani restrukturisasi perbankan pascakrisis 1998 serta sebagai ekonom kepala di salah satu bank besar nasional. Kombinasi pengalaman krisis dan perumusan kebijakan inilah yang dinilai menjadi fundamental kuat bagi kepemimpinannya kelak.
Di Satu Sisi: Kepastian yang Diharapkan Pasar
Di satu sisi, status calon tunggal memberikan kepastian yang disukai pasar. Pengalaman menunjukkan, ketidakpastian kepemimpinan bank sentral kerap memicu volatilitas indeks harga saham dan pasar surat utang. Dengan hanya satu nama yang diajukan, investor dapat menyusun portofolio tanpa perlu menebak-nebak arah kebijakan moneter berikutnya.
Kontinuitas juga menjadi nilai tambah. Sebagai figur internal, Destry dipandang memahami kerangka kebijakan yang sedang berjalan, mulai dari strategi stabilisasi rupiah, pendalaman pasar keuangan, hingga digitalisasi sistem pembayaran. Tren penurunan suku bunga acuan dari level 6,25 persen pada 2024 menjadi 4,75 persen saat ini berpeluang berlanjut secara bertahap, sesuai proyeksi sejumlah ekonom yang memperkirakan ruang pelonggaran masih terbuka sepanjang inflasi terkendali.
Di Sisi Lain: Catatan Kritis yang Tak Bisa Diabaikan
Di sisi lain, skema calon tunggal menyisakan pertanyaan tentang kedalaman kontestasi gagasan. Tanpa kandidat pembanding, ruang uji publik terhadap visi calon menjadi lebih sempit. Sebagian pengamat juga menyoroti pentingnya menjaga independensi bank sentral — kemampuan menentukan kebijakan tanpa tekanan politik — mengingat godaan untuk menurunkan suku bunga demi mengejar pertumbuhan ekonomi selalu ada.
Tantangan eksternal tidak kalah berat. Arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang belum sepenuhnya pasti berpotensi memicu pergerakan capital outflow dari pasar negara berkembang. Jika rupiah kembali mengalami pelemahan menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, ruang pelonggaran moneter akan menyempit. Selain itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan yang berada di kisaran 2,2 persen per akhir 2025 tetap perlu dicermati, meski masih jauh di bawah ambang aman 5 persen.
Proyeksi: Stabilitas dengan Ujian Berlapis
Ke depan, gubernur baru akan menghadapi ujian berlapis: menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1 persen, menopang pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan 5,0–5,2 persen pada 2026, sekaligus merawat stabilitas nilai tukar. Valuasi aset domestik yang relatif menarik dapat menjadi magnet bagi arus modal asing masuk, namun sentimen pasar bisa berbalik cepat apabila komunikasi kebijakan tidak terjaga dengan baik.
Pada akhirnya, dukungan LPS mencerminkan harapan akan transisi kepemimpinan yang mulus. Namun, ujian sesungguhnya baru dimulai setelah kursi Gubernur Bank Indonesia resmi diduduki: membuktikan bahwa kontinuitas kebijakan dapat berjalan seiring dengan kredibilitas dan independensi yang menjadi harga mati bagi sebuah bank sentral.
Comments (0)