Berdasarkan kajian terbaru yang dirilis sejumlah lembaga riset ekonomi dan energi pada awal 2024, reformasi kebijakan di sektor kelistrikan dinilai menjadi salah satu prasyarat struktural untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen per tahun. Institute for Essential Services Reform (IESR), Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Energy Transitions Commission (ETC), dan SYSTEMIQ dalam laporan bersama menyoroti bahwa tanpa perbaikan tata kelola dan percepatan transisi energi, ambisi pertumbuhan tersebut berisiko hanya menjadi proyeksi di atas kertas. Kajian ini muncul di tengah tren pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir bergerak di kisaran 5 persen year-on-year, jauh di bawah target pemerintahan mendatang.
Mengapa Sektor Kelistrikan Menentukan Laju Ekonomi?
Listrik adalah input fundamental bagi hampir seluruh sektor produksi, mulai dari manufaktur, pengolahan mineral, hingga pusat data dan ekonomi digital. Dalam terminologi ekonomi, ketersediaan listrik yang andal dan kompetitif dari sisi harga berfungsi sebagai pengganda (multiplier) produktivitas. Sebaliknya, inefisiensi di sektor ini menciptakan biaya tersembunyi yang menggerus daya saing ekspor dan menekan margin investasi.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bauran energi primer nasional masih didominasi batu bara dengan porsi di atas 40 persen, sementara energi terbarukan baru menyumbang sekitar 13 persen pada 2023. Ketergantungan ini membuat harga listrik rentan terhadap volatilitas harga komoditas global dan tekanan nilai tukar, yang pada gilirannya memengaruhi sentimen pasar terhadap obligasi korporasi sektor utilitas.
Di satu sisi, struktur tarif yang relatif murah telah membantu menjaga inflasi inti dan melindungi daya beli rumah tangga. Di sisi lain, subsidi dan kompensasi yang membengkak menciptakan beban fiskal yang mengurangi ruang anggaran untuk belanja produktif seperti infrastruktur dan pendidikan, dua sektor yang secara empiris berkorelasi kuat dengan pertumbuhan jangka panjang.
Dua Perspektif: Efisiensi Pasar versus Perlindungan Publik
Pro: Reformasi kebijakan dinilai dapat memperbaiki iklim investasi. Menurut laporan tersebut, penyederhanaan perizinan, penyesuaian mekanisme harga, dan pembukaan akses jaringan yang lebih luas berpotensi menarik capital inflow ke sektor energi terbarukan. Setiap tambahan investasi senilai miliaran dolar AS di pembangkit dan transmisi bakal menciptakan lapangan kerja konstruksi, meningkatkan permintaan komponen lokal, serta memperkuat portofoli
Comments (0)