Mantan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, secara terbuka mengungkapkan rasa leganya setelah purnatugas dari kursi bendahara negara. Salah satu beban terberat yang diakuinya kerap menyita energi fiskal dan perhatian publik adalah persoalan pembayaran serta restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh.
Proyek transportasi mercusuar tersebut diketahui meninggalkan beban kewajiban finansial jangka panjang bernilai triliunan rupiah kepada konsorsium BUMN dan pemerintah, terutama terkait pembengkakan biaya (cost overrun) serta bunga pinjaman dari China Development Bank (CDB).
Kronologi Tekanan Utang dan Lonjakan Biaya Whoosh
Tekanan fiskal yang dialami otoritas keuangan selama proyek berlangsung tidak terjadi dalam semalam. Penelusuran menunjukkan eskalasi komitmen anggaran negara terjadi secara bertahap:
- September 2015: Pemerintah awalnya menetapkan proyek kereta cepat murni menggunakan skema business-to-business (B2B) tanpa jaminan maupun suntikan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
- Oktober 2021: Terbit regulasi baru yang mengizinkan penggunaan dana APBN untuk menambal pembengkakan biaya proyek melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) ke PT Kereta Api Indonesia (Persero).
- Februari 2023: Indonesia dan pihak kreditur menyepakati angka cost overrun sebesar USD 1,2 miliar (sekitar Rp18 triliun), yang sebagian didanai utang tambahan dengan tingkat suku bunga pinjaman yang alot dinegosiasikan.
- Periode Transisi 2024-2026: Tanggung jawab pelunasan bunga dan pokok utang mulai masuk ke fase kritis jatuh tempo, membebani neraca konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan menuntut mitigasi risiko fiskal dari Kementerian Keuangan.
Skema Restrukturisasi dan Ancaman Beban APBN
Kementerian Keuangan selama masa jabatan Purbaya dihadapkan pada dilema krusial antara menjaga kredibilitas komitmen utang bilateral dengan menjaga ruang fiskal domestik agar tidak terkuras oleh subsidi operasional infrastruktur komersial.
"Beban mengelola kewajiban proyek skala besar seperti Whoosh memang sangat kompleks, terutama memastikan agar APBN tidak tersandera dalam jangka panjang. Kini tanggung jawab itu beralih ke penerus," ungkap Purbaya dalam pernyataannya.
Sejumlah pengamat ekonomi independen menilai kelegaan Purbaya merupakan representasi nyata dari beratnya warisan liabilitas proyek Whoosh. Ada tiga risiko utama yang kini harus dihadapi tim ekonomi baru:
- Risiko Beban Bunga: Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan yuan yang memperbesar nilai cicilan utang.
- Ketidaktercapaian Target Penumpang: Tingkat okupansi penumpang harian yang belum sebanding dengan biaya operasional dan perawatan armada berkecepatan tinggi.
- Ketergantungan Subsidi Berkelanjutan: Potensi terseretnya kas BUMN sektor transportasi yang membutuhkan penyuntikan modal berkala.
Kini, estafet mitigasi risiko utang kereta cepat berpindah ke jajaran pimpinan baru kementerian. Transparansi restrukturisasi pinjaman dan kemampuan Whoosh menghasilkan arus kas mandiri akan menjadi penentu apakah megaproyek ini menjadi aset strategis atau justru liabilitas fiskal permanen bagi Indonesia.
Comments (0)