Sep 15, 2026
Nasional

JAKARTA — Wamen ATR Ossy Dermawan Siapkan Strategi Berantas Mafia Tanah

Di balik pintu-pintu kantor pertanahan yang dingin dan tumpukan berkas kusam, terdapat realitas kelam yang telah membayangi ribuan warga Indonesia selama b

JAKARTA — Wamen ATR Ossy Dermawan Siapkan Strategi Berantas Mafia Tanah

Di balik pintu-pintu kantor pertanahan yang dingin dan tumpukan berkas kusam, terdapat realitas kelam yang telah membayangi ribuan warga Indonesia selama berpuluh-puluh tahun: sengketa tanah tak berujung dan cengkeraman mafia agraria. Di tengah benang ruwet persoalan struktural ini, sosok Ossy Dermawan kini melangkah sebagai Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Tugas yang diembannya bukan sekadar jabatan administratif biasa, melainkan sebuah pertaruhan besar untuk memulihkan keadilan atas tanah rakyat.

Pengangkatan Ossy Dermawan ke tampuk kepemimpinan Kementerian ATR/BPN menandai babak baru dalam pertempuran melawan jaringan kejahatan pertanahan yang terorganisir. Publik kini menaruh harapan tinggi pada figur ini untuk membongkar praktik-praktik ilegal yang merampas hak-hak rakyat kecil serta memperlambat kepastian hukum investasi di tanah air.

Membongkar Kerajaan Mafia Tanah

Berdasarkan penelusuran terhadap konstelasi konflik agraria di Indonesia, keberadaan mafia tanah telah meretas hingga ke sistem birokrasi paling bawah. Pemalsuan sertifikat, pendudukan lahan secara ilegal, hingga tumpang-tindih izin pemanfaatan ruang menjadi modus operandi yang berulang tanpa penyelesaian konkret selama bertahun-tahun.

"Kita tidak boleh membiarkan masyarakat kecil terus menjadi korban dari permainan segelintir oknum yang bersengkongkol merampas hak atas tanah. Kepastian hukum adalah mutlak untuk menciptakan keadilan sosial," tegas Ossy Dermawan dalam keterangannya mengenai komitmen pembenahan tata kelola pertanahan nasional.

Dalam memetakan masalah ini, kementerian menghadapi tantangan nyata berupa ketimpangan kepemilikan lahan yang kian melebar. Laporan investigatif menunjukkan bahwa jutaan hektar tanah dikuasai oleh segelintir korporasi besar, sementara rakyat kecil harus bertarung di pengadilan hanya untuk mempertahankan sejengkal tanah pemukiman mereka dari ancaman penggusuran.

Strategi Digitalisasi dan Reforma Agraria

Untuk meredam laju kejahatan pertanahan, Kementerian ATR/BPN di bawah pengawasan jajaran pimpinan baru mendorong percepatan transformasi digital. Sertifikasi tanah elektronik dipandang sebagai benteng utama dalam menutup celah manipulasi dokumen fisik yang selama ini dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab.

Berikut adalah proyeksi target dan fokus pembenahan yang menjadi perhatian utama kementerian:

Fokus Program Target Utama Dampak yang Diharapkan
Digitalisasi Sertifikat Percepatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) Mencegah penerbitan sertifikat ganda dan memangkas manipulasi berkas fisik.
Pemberantasan Mafia Tanah Penguatan Satgas Anti-Mafia Tanah bersama Kepolisian dan Kejaksaan Menindak tegas oknum internal BPN dan spekulan lahan tanpa pandang bulu.
Reforma Agraria Redistribusi tanah bagi petani gurem dan penataan ruang inklusif Mengurangi ketimpangan ekonomi berbasis kepemilikan lahan di daerah.

Langkah ini menuntut transparansi total. Tanpa adanya pembersihan di internal birokrasi, sistem digital secanggih apa pun akan tetap menyisakan celah keamanan. Oleh karena itu, pengawasan ketat terhadap oknum aparat pertanahan yang "bermain" menjadi agenda prioritas yang tak bisa ditawar lagi demi mengembalikan kepercayaan publik.

Ujian Nyata Konsistensi Kebijakan

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh Wamen ATR/BPN Ossy Dermawan adalah menyelaraskan penataan ruang nasional dengan proyek strategis pemerintah tanpa mengorbankan ruang hidup masyarakat lokal. Ketegangan antara kebutuhan investasi nasional dan perlindungan hak atas tanah warga kerap memicu konflik horizontal di berbagai daerah.

Para pengamat agraria mengingatkan bahwa janji reformasi pertanahan sering kali kandas di tengah jalan akibat benturan kepentingan politik dan ekonomi yang begitu kuat. "Ujian sesungguhnya bukan pada wacana yang disampaikan di hadapan publik, melainkan keberanian untuk mengeksekusi tindakan hukum terhadap aktor-aktor intelektual di balik pemalsuan sertifikat tanah," ungkap seorang pakar hukum tata ruang.

Masyarakat kini menantikan langkah konkret dan keberanian politik dari jajaran pimpinan Kementerian ATR/BPN yang baru. Akankah pembenahan ini mampu meruntuhkan benteng kekuasaan mafia tanah, atau sekadar menjadi babak baru dalam retorika pembenahan birokrasi Indonesia?

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User